#FFKamis – Gara-gara Kopi

Aku urung membuka pagar saat bisikan Yu Parni terdengar jelas.

“Jadi betul begitu?”

” Nggak nyangka yah, padahal kan tampangnya inosen gituh.” Itu pasti suara Budhe Ayu yang suka keminggris.

“Memang udah ajalnya ibu-ibu.” Suara abang tukang sayur entah-siapa-namanya. Setidaknya ada yang membelaku, meskipun sesi gosip masih berlanjut.

“Jadi betul gara-gara kopi?” Aku tidak bisa mengenali suara itu, mungkin mbak Tyas, atau Ibu Retno?

Meskipun sungkan, rasa penasaran membuatku berani mati, menampakkan diri di hadapan para penggosip yang seketika terdiam.

Oh, Ibu Retno rupanya.

Aku menghela napas sebelum membuat sebuah pengakuan.

“Saya nggak tahu perkutut bisa mati kalo diberi minum kopi…”

Cita-Cita Ning

“Siapa yang ingin jadi dokteeeer?”

Seorang perempuan yang selayaknya disebut ‘ibu guru’ berseru di depan sekumpulan bocah. Beberapa tangan mungil segera terangkat tinggi, diiringi teriakan ‘sayaaaa’ yang memekakkan telinga. Begitu pun saat ibu guru bertanya siapa yang ingin menjadi pilot, presiden, penyanyi, dan sebagainya dan seterusnya.

Tapi tak sekali pun, Ning mengangkat tangannya. Tak ada satu pun yang menarik perhatiannya, profesi-profesi yang disebutkan perempuan yang selayaknya dia panggil sebagai ibu guru itu terlampau biasa, tak ada yang istimewa.

Maka Ning akhirnya mengangkat tangan, ingin bertanya, kenapa satu cita-cita yang selalu tersimpan dengan baik di benak Ning, belum juga disebutkan olehnya. Tapi perempuan itu lebih dulu menanyainya.

“Ya, Ning? Kamu juga ingin menjadi Astronot?” Ning menggeleng cepat, dia tidak ingin mengapung di ruang hampa udara dan tak bisa menjejakkan kaki di atas tanah yang pernah menjadi tempatnya berlari.

“Mau jadi wartawan?” Sekali lagi Ning menggelengkan kepala. Dia tidak ingin mengejar-ngejar orang yang tidak ingin menjawab pertanyaan yang diajukan seperti yang sering dilihatnya di televisi.

“Atau mau jadi perawat?” Ning menggelengkan kepala pelan, kali ini sambil tersenyum. Menjadi perempuan berpakaian serba putih sepertinya menyenangkan juga, tapi bukan itu yang Ning inginkan.

“Jadi? Apa cita-citamu, Ning?

Ning geming. Menatap perempuan dewasa yang beberapa hari ini telah menjadi ibu guru bagi mereka di sini.

“Beritahu Ibu apa cita-citamu, Ning!”

“Mmm ….”

“Semua orang boleh punya cita-cita, Ning, setiap anak-anak seperti kalian harus memiliki mimpi,” ujar perempuan itu ceria. Meskipun Ning, dan semua anak-anak di sana tahu betul, perempuan itu hanya ingin menghibur mereka.

Tapi itu juga yang membuat Ning akhirnya berani bicara. “Saya … saya mau jadi balerina, Bu.”

Hening.

Perempuan dewasa yang selayaknya disebut ibu guru itu tersenyum, miris. Menatap kaki Ning yang berakhir di lutut dan masih berbalut perban setelah amputasi terkena meriam. Menatap mata bening seluruh bocah yang tengah menatapnya di tenda pengungsian.

***

300 kata. Ditulis untuk Prompt #101 – Sang Balerina

Wishlist untuk Rumah Baru

Begitulah ya, meskipun istilah ‘rumah baru’ mungkin tidak terlalu tepat (karena rumah ini sudah berdiri sejak tahun 2011), tapi karena baru ditempati, ya anggap saja rumah baru atuh ya hehehehe.

Sebetulnya saya emak-emak yang tidak terlalu concern dengan perabotan di rumah. Maksud saya nih, kalau melihat Mamah saya, beliau kan peduli sekali ya, bagaimana kursi ruang tamu harus matching dengan gorden, atau karpet di ruang keluarga harus yang lebar jadi semua orang bisa berkumpul, atau harus punya panci-piring-alat masak yang bisa dipakai untuk berbagai keperluan.

Nah, saya cenderung cuek. Di rumah Bekasi -karena alasan sering banjir juga- kami bahkan tidak memiliki kursi/sofa, jadi kalau ada tamu ya menggelar karpet aja. Meskipun saat pindah ke Karawang, si karpet yang sedang di laundry ini kok lupa diambil jadi tidak terbawa hahahaha.

Peralatan masak juga begitu, seadanya banget, hawong cuma berdua ini kan ya. Padahal, peralatan masak (termasuk piring-sendok dan teman-temannya) yang terbatas jumahnya ini menjadi masalah saat ada saudara berkunjung. Misalnya saja saat pindahan kemarin, mamah dan tiga orang saya datang, dua orang om datang dengan membawa anak-istrinya, belum keluarga kakak ipar. Eyampun, mau makan piringnya ga cukuuuuup, sampai ada yang makan di mangkuk untuk sayur lho *ngumpet*.

Jadi nih, ceritanya, saya membuat (semacam) wishlist untuk melengkapi rumah baru ini. Apa saja sih? Ini dia nih daftarnya, pliss jangan diketawain yah hahahaha.

1. OVEN

Ini wacana usang yang sampai sekarang belum terpenuhi sebetulnya. Saya lumayan suka masak dan membuat kue, tapi karena di rumah cuma berdua AM yang tidak terlalu suka kue-kuean, jadilah saya merasa keberadaan sebuah oven tidaklah terlalu penting. Tapi tetap saja, saya rajin mengumpulkan resep, dan saat keinginan mencobanya harus terbatalkan karena tidak punya oven, pedih sodara-sodara! *lebay surabay*

L1

Oven tangkring Hock ini nih yang saya idam-idamkan sejak dahulu kala *halah*. Maju mundur cantik untuk beli karena harganya lumayan mihil bagi saya mah, mesti nabung dulu, atau kalau ada yang mau ngasih saya hadiah ya Alhamdulillah banget sih hihihihi.

2. KARPET

Alasannya kenapa tidak perlu dibahas lah ya, pan karpet saya tertawan di tukang laundry di Bekasi hihihihi.

L2

Karpet unyu-unyu itu namanya Shaggy Anti-skid Carpets Rugs Floor Mat, sepertinya menyenangkan gogoleran di situ sambil baca buku yah *mulai menghayal*.

3.  PIRING DAN TEMAN-TEMANNYA

Dinner set lah ya bahasa kerennya mah hahahaha.

L3

Mudah-mudahan nih, kalau sudah punya Luminarc Dinner Set ini, saat ada keluarga yang berkunjung, mereka bisa makan dengan alat makan yang seharusnya :).

4. MEJA LAPTOP

Well, ini tidak termasuk dekorasi rumah sih sepertinya ya, kebutuhan saya aja hehehe.

Jadi nih, selama ini saya biasanya mengetik di atas meja makan (which is satu-satunya meja di rumah kami hihihihi) dengan menggunakan kursi kayu bawaan si meja makan. Tapiiii, meskipun duduk di atas kursi, tetep weh kaki saya mah posisinya bersila hahaha. Itulah kenapa kadang kalau bosan melanda, saya bawa si laptop ke kamar lantas menulis di atas kasur, atau ya di lantai aja sekalian.

Masalahnya adalah, kalau laptop bertumpu pada paha, kan lama-lama panas yah, jadi ya nggak nyaman lagi deh.

L4

Itulah kenapa saya naksir berat The Olive House Meja Laptop Bambu bergambar kupu-kupu ini. Ah pokoknya mah pengeeeen *maksa*.

5. POT BUNGA

Psssst, saya lagi senang bertanam nih hihihihi. Padahal sih ya, halaman cuma seuprit, jadi ya mesti diakalin deh, misalnya menggunakan pot yang bisa digantung macam ini nih.

L5

Metal Iron Flower Pot Hanging Balcony Garden Plant Planter Decor Fashionable ini kayaknya cucok banget nih buat di halaman rumah saya yang mungil. Warnanya juga macem-macem gitu kan, jadi bakalan imut-imut nih sepertinya :).

Sederhana saja ternyata wishlist saya ya hehehe. Daaaan kelima benda itu bisa saya dapatkan dengan mudah di Lazada! Mudah-mudahan sih iman saya kuat ya untuk tidak belanja barang-barang itu sekaligus, bahaya euy hihihihi. Doakanya wishlist ini bisa terpenuhi ;).

Karena Hidup Tak Selamanya Indah

Maafkan judulnya, temans, itulah akibat nulis sambil mendengarkan radio ya, sepintas terdengar lagu Sudahlah milik Padi, sebaris liriknya dijadikan judul postingan deh hihihihi.

IMG_20160123_111416

Sabtu lalu, saya beruntung bisa mendengarkan langsung mas Farhan (yang penyiar radio dan artis ituh), mbak Prita Ghozie (salah satu financial planner favorit saya), dan Pak Wiko  H. Tanata dari Danareksa, dipandu oleh MC nan kece mas Prabu Revolusi yang ering banget di TV ituh. Dan selama acara yang didahului dengan beryoga ria itu (iyaaaa, tahu aja saya sudah sering skip latihan yoga di rumah hihihihi), saya kembali belajar tentang investasi.

Mari saya ceritakan sedikit.

Continue reading

Siapa yang Suka Main Halma?

Sayaaaaa! *menjawab pertanyaan judul postingan* hehehehe.

Beberapa waktu lalu, saya mengunjungi kantor Tokopedia dan kemudian diajak berkeliling melihat-lihat. Kantor yang menyenangkan itu memang bikin betah ya, interior desainnya seperti sengaja dibuat untuk menstimulasi karyawannya agar selalu berpikir kreatif. Salah satunya adalah permainan masa kecil semisal ayunan (iya! di dalam ruangan ada beberapa ayunan!), dan berbagai board game termasuk si halma ini.

Continue reading