Daster oh Daster…

Terinspirasi dari postingan Yeye yang ini, saya jadi ingin juga bercerita tentang kejadian yang kurang lebih sama.

Kalau di rumah kan saya memang pasti dasteran ya, Bekasi puanas bok, dan daster itu baju kebangsaan banget kalau di rumah, apalagi yang udah robek bin bolong-bolong, jadi semriwing begitu kan ya hahahaha *abaikan*.

Nah, daster-daster saya ini kebanyakan memang panjangnya cuma sampai betis dan berlengan pendek. Kalau misalnya pergi atau cuma ke pasar atau warung pun pasti ganti baju panjanglah ya (kalau ke pasar naik sepeda pun, tak mungkin pake daster :P). Tapi kalau masih di area rumah, biasanya saya cuma pakai jaket/cardigan dan kerudung langsung saja.

Misalnya saat ada yang kirim paket misalnya, atau pengamen, atau yang minta sumbangan, atau Pak RT yang kirim undangan rapat atau yang semacam itu, yang mengharuskan saya keluar pintu tapi cuma sebatas di pagar, saya biasanya tetap dasteran dan cuma menambahkan jaket/cardigan + bergo itu *bandel* :D.

Nah, pernah nih, ada paket untuk AM, lupa deh dia waktu itu beli apa, henpun atau apa ya, pokoknya yang agak-agak mahal gitulah ya. Saya terlibat percakapan singkat berikut dengan si Mas Tukang Paket.

“Mbak, ini rumah Pak Rahman kan?”

“Iya. Ada paket ya?”

“Iya, tapi panggilin Ibunya aja, jangan sama Mbak.”

(Setelah bengong sebentar) “Ibunya kerja juga, Mas.”

Hihihihi.

Kalau ada kiriman untuk saya pun kadang seperti itu, Si Masnya suka bilang “Ini paket buat Ibu ya, Mbak”, iyain ajalah ya biar cepet bhuahahahaha.

Padahal, Mbak ‘betulan’ di tetangga sebelah rumah malah nggak pernah dasteran lho. Terus kenapa perempuan berdaster itu seringkali identik dengan mbak sih? *bingung* hihihihi.

Autobiografi Parenting

Jakbook-Edufair

Kemarin saya datang ke Jak Book & Edu Fair lho, bukaaaan, bukan ingin tahu kenapa Pak Gubernur marah-marah, tapi memenuhi undangan untuk menyaksikan talkshow singkat terkait buku autobiografi parenting yang ditulis Astrie Ivo.

Nggak tahu Astrie Ivo? Duh, kemana ajaaaa. Kalau Inneke Koesherawati tahu? Pokoknya mah mbak-mbak berdua itu makhluk jelita yang membuat saya merasa seperti itik buruk rupa #eeaaa, penasaran sih, sepertinya hukum gravitasi kok nggak berlaku ya di mereka? Mbak Aci itu usianya sudah lima puluh tahun lebih lho! *takjub*.

Talkshow-nya sendiri merupakan sharing kedua narsum dalam mendidik buah hati mereka. Mbak Astrie memiliki 3 anak lelaki, yang bungsu sudah usia SMU. Mbak Inneke memiliki sepasang anak-anak yang masih terbilang kecil. Sehingga dari keduanya para hadirin bisa menerima ilmu yang sedikit berbeda dalam parenting karena zamannya yang sedikit berbeda.

Mbak Inneke misalnya, melarang anak-anaknya untuk menonton sinetron yang tayang di banyak stasiun TV, sama sekali tidak boleh, karena khawatir memberikan pengaruh buruk. Sementara Mbak Astrie bercerita sejak anak-anaknya kecil di keluarga mereka diwajibkan setidaknya untuk sholat maghrib-Isya-Shubuh berjamaah di rumah. Kebiasaan ini harapannya adalah agar ketiga anaknya selalu ingat akan Alloh SWT dalam seluruh aspek kehidupannya.

Talkshow ini memang dimaksudkan juga untuk launching buku ‘Sepasang Sayap Menuju Surga’ yang ditulis oleh Yugha Erlangga dan Astrie Ivo, diterbitkan oleh Emir, imprint dari Penerbit Erlangga yang khusus menaungi buku-buku Islami. Buku ini bercerita tentang bagaimana seorang Astrie memulai rumah tangga dan mendidik ketiga putranya. Frasa sepasang sayap ini dimaksudkan adalah sinergi dari kedua orang tua dalam mendidik anak-anak, bahwa peran ini bukan menjadi tugas seorang Ibu semata, tapi juga Ayah.

Saya belum selesai sih baca bukunya, nanti Insyaalloh saya tuliskan reviewnya kalau sudah selesai semua ya. Tapi membaca buku ini, memang seperti mendengarkan mbak Astrie bercerita tentang hidupnya. Bagaimana dia ber-first sight love dengan suaminya, bagaimana dia ingin menyerah waktu keduanya kuliah di Jerman dan merasa sangat sulit menjadi seorang istri. Baru sampai bab itu sih, jadi belum bisa bercerita banyak saya hehehe.

Yang paling saya ingat dari acara kemarin ini adalah nasihat dari Ivo Nilakresna, ibunda dari Astrie Ivo, saat mbak Astrie tengah bertengkar hebat dengan suaminya, Ibu Ivo berkata (kurang lebih) “Telan saja, yang pahit-pahit itu akan membuatmu lebih kuat. Terima kekurangan suamimu karena kamu juga tidak sempurna.” Makjleb ya Ceuuu heuheu.

Ya sudah sebegitu dulu saja ya, barangkali mampir ke toko buku, ini nih penampakan bukunya.

Sepasang Sayap Menuju Surga

Sepasang Sayap Menuju Surga

Saat Tak Ada Tongsis

Ish…judulnya so iyeh banget ya hahahaha.

Terima kasih untuk komentar Teh Lidya berikut sehingga saya bisa menulis postingan ini :D.

comment

AM nih sebetulnya punya tongsis, yang sempet saya ledekin kok kayak abege aja beli tongsis segala *ups, peace sama para pecinta tongsis di luar sana ya hihihihi*. Maksud saya nih, tangan dia kan panjang ya, gampil lah buat selfie mah. Apalagi si Samsung NX300 kami itu si displaynya bisa dibalik kalau untuk selfie. Meskipun, AM kadang sebel sama ‘kepintaran’ kamera itu. Jadi ada semacam kotak hijau kecil saat kamera sudah menemukan fokus obyek foto, dan karena saya cenderung putih, kebanyakan saya yang akan jadi fokus si kamera, dan akibatnya wajah pak suami itu sedikit ngeblur hihihihi.

Selain tongsis, kami juga punya tripod sebetulnya. Tujuannya tentu saja agar kami tetap bisa memiliki foto berdua di spot-spot yang -menurut kami- bagus.

Tapi pada kenyataannya, baik si tongsis maupun tripod itu tidak pernah dibawa sodara-sodara! hahaha. Itu memang AM yang beli sih ya, jadi saya tidak pernah merasa harus ingat untuk membawanya saat kami ngebolang. Dan AM yang memang suka pelupa, seringnya lupa juga deh hihihi.

Kembali pada pertanyaan Teh Lidya di komentar, foto-foto berdua kami tentu saja adalah hasil meminta tolong pada orang lain. Tidak sulit dilakukan tapi kadang tidak mudah juga. Misalnya saat ke Bangkok tempo hari, sungkan rasanya minta tolong, karena meskipun masih di Asia, siapa tahu budayanya berbeda ya, dan dianggap nyebelin atau mengganggu gitu kalau minta fotoin. Maka waktu kami ke Grand Palace dan ada rombongan orang Indonesia, kita sama-sama seneng deh, saling foto tanpa diminta hihihihi.

Jadi ‘strategi’ kami berdua saat ingin minta tolong difotokan seperti itu, adalah menawarkan diri duluan. Biasanya di spot-spot ‘sejuta umat’ pasti sudah berkumpul orang-orang yang ingin berfoto di spot itu. Sok ramah aja menawarkan bantuan dan bilang “mau saya fotoin?”, kalau sudah kan itu orang-orang masa sih nggak mau fotoin kita kan ya? Simbiosis mutualisme deh tuh :D.

 

Tapi harus diingat, meminta difotokan orang lain ini memang harus berbesar hati, karena hasilnya tidak selalu sesuai dengan keinginan kita. Si foto yang kurang fokuslah, yang miring-miringlah, yang nggak simetrislah, wis pokoknya mesti legowo ajah apa pun hasilnya mesti bilang terima kasih hihihihi.

Ngebolang Saat Lebaran (Part 2)

Sila baca part 1-nya di sini yaa :).

Besoknya, hari Minggu, saya dan AM ngebolang ke Cirebon, berdua saja, karena cuma naik motor jadi bakalan riweuh kalau rame-rame hihihi. Dan ke Cirebon ini lumayan jauh, sekitar 1 jam dengan kecepatan motor 60 km/jam, sedikit macet di perempatan Palimanan karena arus balik yang sudah dimulai, juga di pasar Plered yang rupanya masih dipenuhi orang-orang yang berbelanja batik di Trusmi (padahal kan Lebarannya udahan yaa #eeaa), tapi selebihnya lumayan lancar.

AM nih ingin ke keraton, saya pernah sih waktu SMU ke sana, tapi kan itu … berabad-abad yang lalu ya hihihihi, lupa lah eike jalannya. Meskipun 3 tahun saya sekolah di Cirebon, dulu itu saya cuma sibuk belajar dan mengikuti beberapa ekksul, jadi jarang main ke sana sini, well, uang jajan terbatas juga sih ya jadi susahlah mau ngebolang hahahaha.

Jadi perjalanan kemarin itu kami harus berterima kasih pada google map, papan penunjuk jalan dan kebaikan tukang teh botol di pinggil jalan dalam pencarian keraton ini. Kami pun tiba di Keraton Kasepuhan, tiket masuknya 20 ribu ya, saya tidak tahu guide-nya berapa karena kami tidak menyewanya.

Saya baru tahu ada tiga keraton di Cirebon setelah mendengar penjelasan salah satu guide pada sebuah rombongan. Psssttt … dekati saja rombongan besar yang menyewa guide untuk mencuri dengar sedikit informasi ya *saran yang tidak perlu didengarkan hihihihi*. Menurut keterangan silsilah yang tertempel di dinding keraton, Syech Syarief Hidayatullah (atau yang lebih dikenal dengan Sunan Gunung Jati), merupakan keturunan Nabi Muhammad dari sisi Ayah, dan dari sisi ibunya merupakan cucu Prabu Siliwangi.

Dan rupanya Keraton Kasepuhanlah yang paling tua di Cirebon. Seperti konsep keraton daerah pesisir umumnya, Keraton Kasepuhan juga menghadap utara, dengan Mesjid Agung Sang Cipta Rasa di sebelah barat, Pasar Kasepuhan di sebelah kiri, dan alun-alun di tengahnya. Keraton ini konon yang termegah di Cirebon, dan cukup terawat baik karena beberapa bangunan memang masih digunakan oleh Sultan dan para pekerja Keraton. Tapi museumnya -menurut saya- kurang terawat, debu dimana-mana :(.

Hampir di setiap tempat para pekerjanya meminta pengunjung untuk bersedekah, sangat mengganggu sekali (iya, saya tidak suka ‘disuruh’ bersedekah semacam itu). Di pintu masuk pendopo, di museum singa barong, bahkan di museum benda kuno permintaan sedekah ini dilakukan di banyak titik. Maksud saya, kalau memang untuk perawatan, bukankah seharusnya biaya-biaya itu sudah termasuk dalam pembelian tiket masuk? Padahal tiketnya sudah pakai sistem barcode lho.

Tapi tentu saja, di sana banyak spot unik yang cucok untuk berfoto-foto ria, pintu kayu tinggi atau pintu ukir yang cantik misalnya, atau patung singa putih dengan latar keraton di belakang. Jadi nyesel juga kenapa nggak dari dulu ya main-main ke sini hahahaha. Meskipun kemarin ini kita terlalu siang kayaknya, jadi ampun deh panasnya si matahari, tak bawa sunglasses pun, jadi ga kuat lama-lama, silauuuuu.

Jika temans ingin tahu lebih banyak tentang Keraton Kasepuhan Cirebon ini, sila berkunjung ke tante wiki aja yah *dikeplak berjamaah* hihihihi. Bukannya apa-apa, saya khawatir salah mengutip, nanti mengubah sejarah kan repot jadinya *ngeles*.

Setelah puas berkeliling (dan tidak tahan lagi dengan panas yang terik), kami makan siang empal gentong di depan keraton seharga 15 ribu per mangkuk, sholat di mesjid agung, beli oleh-oleh di pasar kasepuhan, dan pulang deh. Sudah diniatkan, libur Lebaran berikutnya kami akan mencoba mengunjungi dua keraton lainnya di Cirebon. Semoga saja kesampaian :).

Ngebolang Saat Lebaran (Part 1)

Di rumah orang tua saya di Majalengka sana, Lebaran berakhir pukul 9 pagi, yahh…pukul 10 lah paling siang. Biasanya pukul 6 pagi kami sudah berkumpul untuk sholat Ied, paling lambat pukul 7-an, sholat sudah dimulai. Pulang ke rumah, saling memaafkan dengan keluarga, sarapan ketupat, lantas keliling berkunjung ke tetangga kanan kiri, sampai rumah lagi ya biasanya pukul 9an. Kadang masih ada tetangga yang berkunjung, tapi pukul 10 ke atas, jalanan sepi, tetangga-tetangga pun asyik dengan keluarganya sendiri, maka mari mengganti ‘baju lebaran’ dan berdaster ria lagi hihihihi.

Jadi maksud saya nih, biar tidak bosan, harus pintar berpikir kreatif mengisi liburan. Nah, tahun ini saya dan AM ingin ngebolang, yang dekat-dekat saja dari rumah, dan tidak memerlukan waktu (dan biaya :P) yang tidak terlalu banyak.

Maka hari Sabtu, hari kedua Lebaran, destinasi pertama acara ngebolang kami adalah ke Cibaringkeng.

Cibaringkeng ini hutan berbukit kecil saja sebetulnya, saya juga tidak terlalu paham kenapa namanya Cibaringkeng heuheu. Dulu, saat SD-SMP, saya sering bermain-main ke hutan kecil ini, biasanya saat latihan menjelajah dalam ekskul Pramuka, atau sekadar sesepedaan atau hiking iseng.

Di sana ada sebuah sumur kecil yang dinamai sumur bandung, konon katanya, di zaman perang dulu sumur ini adalah pintu masuk rahasia menuju terowongan yang akan membawamu menuju Bandung! Entah yaa, itu benar atau tidak :D. Di sana juga ada sebuah kolam yang konon jumlah ikannya tak pernah bertambah atau pun berkurang. Maaf saya tidak tahu jumlah tepatnya berapa hihihi.

Cibaringkeng ini meskipun sudah dijadikan tempat wisata, tapi tidak ada tiket masuk, juga tidak ada pusat informasi (atau lokal guide) tempat kita bisa bertanya tentang segala sesuatu, mungkin karena memang hanya sedikit ramai saat libur Lebaran semacam ini saja ya.

Sudah bertahun-tahun saya tidak ke sana, dan tentu saja kondisinya sekarang sudah jauh berbeda dibandingkan saat saya kecil dulu yang betul-betul terlihat seperti hutan belaka. Sekarang ada plang besar di depannya. Sudah banyak bangku-bangku (terbuat dari bambu dan juga semen) bagi pengunjung untuk duduk di bawah pepohonan yang rimbun. Tersedia beberapa toilet umum dan banyak tong sampah. Ada mainan seperti ayunan dan jungkat jungkit untuk anak-anak. Bahkan ada flying fox segala meskipun tidak terlalu tinggi dan tidak seberapa jauh jaraknya. Lumayan bangetlah ya untuk main-main sebentar bersama keluarga.

Dari rumah saya ke sana, hanya memerlukan waktu kurang lebih 10 menit saja menggunakan motor. Saya dan AM bersama adik bungsu saya pergi duluan. Adik bungsu saya ini ya sering banget ke sana sama teman-temannya, nggak ngapa-ngapain, cuma jalan aja sampai puncak bukit terus balik lagi, kok mirip ya sama kayak saya dulu? bhuahahaha. Jadi kemarin ini dia ini yang jadi guide saya dan AM, hiking sampai ke atas, meskipun batal ke puncaknya karena puanas banget sudah jarang pepohonan.

Adik-adik saya yang lain menyusul, dan kami hanya duduk-duduk saja seperti keluarga-keluarga lain di bawah pohon, sambil menikmati es teh serebuan dan bakso ikan (atau ayam) seharga 500 perak, uang dua puluh ribu juga semua kenyaaaang hihihihi. Murah meriah banget lah memang ngebolang ke sana.

Menjelang makan siang pulang lagi deh ke rumah, meskipun cuma sebentar, cukup melelahkan karena memang hiking dengan jalanan menanjak dan kukurusukan di hutan, jadi sorenya hampir seisi rumah pada tidur siang tuh kecapean bhuahahaha.

Foto Keluarga

Momen Lebaran seharusnya pas sekali untuk membuat foto keluarga. Tahun lalu saya kelupaan membawa kamera, jadi sama sekali tidak sempat membuat foto bersama, karena ya begitulah ya, kamera henpon saya tak seberapa bagus, jadi malas saja foto-foto. Tahun ini tidak lupa lagi dong, si kamera kecil langsung dimasukin ke tas sejak malam, saya ingin sekali membuat (semacam) foto keluarga saat semuanya berkumpul.

Tapi sayang nih, niat dan keinginan ini tidak tercapai :(.

Setelah pulang sholat ied, sarapan ketupat, dan berkeliling ke rumah tetangga, saya sengaja foto-foto. Iyaa, maksudnya sih buat diaplod di IG ya hahahaha. Yatapi kan niatnya baik, yes? Ingin mengucapkan selamat Idul Fitri, kalau narsis mah yaa … sudah bakat sepertinya :D.

Berfoto dengan AM mah mudah, tapi ternyata mengumpulkan Bapak-Mamah dan keempat adik saya tidak terlalu mudah. Adik pertama saya (cowok) sudah menikah dan tinggal di lain kecamatan (masih berada di wilayah Majalengka), baru datang ke rumah bersama istri dan anaknya sore-sore, sesi foto udah telat lah ya he he. Si adik kedua (cowok juga) lumayan banyak teman, jadi langsung jemput dan pergi entah ngumpul-ngumpul di mana. Maka cuma adik ketiga (cewek) dan si bungsu (cowok) saja yang selalu available di rumah, dan bisa diajak foto keluarga.

Yahh … lumayanlah ya daripada nggak sama sekali hihihihi. Jadi maaf ya, akan saya pajang beberapa fotonya di sini hehehe.