Still Alice

Rupanya September adalah bulan Alzheimer sedunia ya, temans, saya baru tahu nih. Sejak menonton Grey’s Anatomy saya memang lumayan tertarik dengan Alzheimer ini, ditambah kisah cinta yang manis dari film The Notebook, apalagi waktu itu cerpen saya sempat jadi juara harapan gitu kan ya di lomba menulis bertema Alzheimer *tsaah*.

Maka saat beberapa hari yang lalu ada launching novel Still Alice yang bercerita tentang penderita Alzheimer, saya pun menyengajakan diri hadir. Bertempat di Gramedia Matraman, peluncuran buku ini dilengkapi juga oleh talkshow bersama DY. Suharya (direktur Eksekutif Alzheimer Indonesia), dan dr. Yuda Turana Kepala Pustikes Unika Atma Jaya). Dan saya pun banyak belajar.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Mbak DY merupakan caregiver bagi Ibunya yang menderita Alzheimer selama kurang lebih 20 tahun ini. Tapi baru beberapa tahun belakang saja, mbak DY dan keluarga tahu kalau ‘penyakit’ yang diderita Ibu adalah Alzheimer, sehingga dengan pemahaman yang cukup, bisa melakukan perawatan-perawatan yang memang diperlukan bagi penderita Alzheimer.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Saya juga sempat bertanya pada Pak dokter Yuda, kenapa risiko perempuan lebih tinggi untuk terkena demensia Alzheimer dibandingkan lelaki. Penjelasan beliau adalah karena saat mencapai usia menopause, hormon estrogen pada perempuan secara drastis tidak lagi diproduksi, hal ini yang menjadi pemicu Alzheimer terjadi, terlebih pada mereka yang memang memiliki gen Alzheimer.

Bagi teman-teman yang ingin lebih tahu tentang Alzheimer, sila kunjungi http://www.alzheimerindonesia.org/ yaa. Banyak informasi tentang Alzheimer di sana. Misalnya saja (yang menjawab rasa penasaran saya selama ini) Alzheimer ini pertama kali dijelaskan oleh seorang ahli saraf Jerman Alois Alzheimer.

Balik lagi ke novel Still Alice, bagi saya novel ini merupakan sarana belajar yang asyik untuk berkenalan lebih jauh dengan Alzheimer. Novel yang ditulis Lisa Genova ini sudah difilmkan, dibintangi Julianne Moore yang meraih Academy Award for Best Actress. Karena saya belum nonton filmnya, mari saya ceritakan sedikit tentang novelnya.

Alice Howland adalah seorang profesor piskologi di Harvard yang merupakan ahli linguistik yang mumpuni. ‘Keanehan’ dalam hidup Alice berawal sejak September 2003, saat Alice mengunjungi putri bungsunya Lydia di Los Angeles dan menginformasikan jadwal penerbangan yang salah.

Alice juga memiliki rasa cemburu dan emosi yang tidak terkendali terhadap suaminya, John, sesuatu yang belum pernah dialami Alice. Tapi Alice menganggap gejala-gejala itu mengacu pada menopause karena usianya yang 50 tahun, maka dia tidak bisa percaya begitu saja saat dokter syaraf memvonisnya terkena serangan dini Alzheimer.

Tapi setelah serangkaian tes neuropsikologi, MRI, bahkan sumsum tulang belakang, seluruh hasilnya membuat dr. Davis yakin, bahwa yang sedang dialami Alice bukan sekadar gejala menopause atau depresi karena pekerjaan, melainkan serangan dini Alzheimer yang progressif. Berita buruk itu diterima Alice pada Januari 2004 (halaman 68-90). 

Penyakit itu betul-betul mengerikan. Alice tersesat di rumahnya sendiri hingga kencing di celana karena tak dapat menemukan di mana toilet. Dia tak bisa lagi mengajar di kelas padahal dia sudah menjadi dosen selama 25 tahun untuk mata kuliah tersebut. Alice juga lupa resep puding yang sudah dibuatnya sejak kecil. Meletakkan novel yang sedang dibacanya ke dalam microwave. Bahkan saat menonton pertunjukan drama, Alice tidak tahu bahwa Catherine di dalam cerita adalah Lydia anaknya (halaman 175-176).

Alice Howland ingin melakukan sesuatu. Dia membuat kelompok dukungan untuk orang-orang yang mengidap Alzheimer seperti dirinya, orang-orang yang akan mengerti dengan baik bagaimana rasanya hidup di dunia asing yang tak lagi dikenali, tapi masih memeliki energi dan fisik yang cukup bugar karena mereka memang belum terlalu tua. Hal ini membuat Alice, pada Maret 2005, berbicara di depan hadirin Konferensi Peduli Demensia.

Dan salah satu bagian dari pidatonya itu berhasil membuat saya mewek dan menghabiskan banyak sekali tisu *halah*.

“Hari-hari kemarin saya sudah menghilang dan hari-hari esok saya tidak pasti, jadi untuk apa saya hidup? Saya hidup untuk setiap harinya. Saya menikmati setiap waktu yang berlalu. Tak lama lagi di masa depan, saya akan lupa bahwa saya berdiri di hadapan Anda dan menyampaikan pidato ini. Tapi, hanya karena saya akan melupakannya kelak, tidak berarti bahwa saya tidak menikmati setiap detiknya hari ini. Saya akan melupakan hari ini, tapi tidak berarti bahwa hari ini tidak berarti.” (halaman 259)

Endingnya? Baca sendiri aja atuhlah ya hihihihi. Saya ingin sekali menonton filmnya, sudah terbayang itu gimana Julianne Moore a.k.a Alice Howland berkisah. Semoga filmnya segera muncul di Fox Premium atau HBO *berdoa khusyuk* :D.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Ada kah yang sudah baca (atau nonton) Still Alice?

Autobiografi Parenting

Jakbook-Edufair

Kemarin saya datang ke Jak Book & Edu Fair lho, bukaaaan, bukan ingin tahu kenapa Pak Gubernur marah-marah, tapi memenuhi undangan untuk menyaksikan talkshow singkat terkait buku autobiografi parenting yang ditulis Astrie Ivo.

Nggak tahu Astrie Ivo? Duh, kemana ajaaaa. Kalau Inneke Koesherawati tahu? Pokoknya mah mbak-mbak berdua itu makhluk jelita yang membuat saya merasa seperti itik buruk rupa #eeaaa, penasaran sih, sepertinya hukum gravitasi kok nggak berlaku ya di mereka? Mbak Aci itu usianya sudah lima puluh tahun lebih lho! *takjub*.

Talkshow-nya sendiri merupakan sharing kedua narsum dalam mendidik buah hati mereka. Mbak Astrie memiliki 3 anak lelaki, yang bungsu sudah usia SMU. Mbak Inneke memiliki sepasang anak-anak yang masih terbilang kecil. Sehingga dari keduanya para hadirin bisa menerima ilmu yang sedikit berbeda dalam parenting karena zamannya yang sedikit berbeda.

Mbak Inneke misalnya, melarang anak-anaknya untuk menonton sinetron yang tayang di banyak stasiun TV, sama sekali tidak boleh, karena khawatir memberikan pengaruh buruk. Sementara Mbak Astrie bercerita sejak anak-anaknya kecil di keluarga mereka diwajibkan setidaknya untuk sholat maghrib-Isya-Shubuh berjamaah di rumah. Kebiasaan ini harapannya adalah agar ketiga anaknya selalu ingat akan Alloh SWT dalam seluruh aspek kehidupannya.

Talkshow ini memang dimaksudkan juga untuk launching buku ‘Sepasang Sayap Menuju Surga’ yang ditulis oleh Yugha Erlangga dan Astrie Ivo, diterbitkan oleh Emir, imprint dari Penerbit Erlangga yang khusus menaungi buku-buku Islami. Buku ini bercerita tentang bagaimana seorang Astrie memulai rumah tangga dan mendidik ketiga putranya. Frasa sepasang sayap ini dimaksudkan adalah sinergi dari kedua orang tua dalam mendidik anak-anak, bahwa peran ini bukan menjadi tugas seorang Ibu semata, tapi juga Ayah.

Saya belum selesai sih baca bukunya, nanti Insyaalloh saya tuliskan reviewnya kalau sudah selesai semua ya. Tapi membaca buku ini, memang seperti mendengarkan mbak Astrie bercerita tentang hidupnya. Bagaimana dia ber-first sight love dengan suaminya, bagaimana dia ingin menyerah waktu keduanya kuliah di Jerman dan merasa sangat sulit menjadi seorang istri. Baru sampai bab itu sih, jadi belum bisa bercerita banyak saya hehehe.

Yang paling saya ingat dari acara kemarin ini adalah nasihat dari Ivo Nilakresna, ibunda dari Astrie Ivo, saat mbak Astrie tengah bertengkar hebat dengan suaminya, Ibu Ivo berkata (kurang lebih) “Telan saja, yang pahit-pahit itu akan membuatmu lebih kuat. Terima kekurangan suamimu karena kamu juga tidak sempurna.” Makjleb ya Ceuuu heuheu.

Ya sudah sebegitu dulu saja ya, barangkali mampir ke toko buku, ini nih penampakan bukunya.

Sepasang Sayap Menuju Surga

Sepasang Sayap Menuju Surga

Tentang Akun Goodreads

Join Goodreads ternyata sudah sejak Januari 2013, lumayan sudah lama ya bok hihihi. Tapiiiii, saya belum mudeng ‘aturan main’nya bagaimana. Jadi ya nggak pernah ditengokin, nggak pernah diisi, nggak pernah diapa-apain pokoknya mah.

Padahal, saya juga sering membaca ulasan buku di Goodreads (terutama untuk buku luar atau terjemahan) sebelum akhirnya beli atau baca. Meskipun lumayan sering saya merasa tidak setuju dengan ulasan-ulasannya, buku bagus kok rate-nya kecil, giliran buku ‘aneh bin ajaib’ malah bintangnya banyak. Padahal itu kan wajar ya, nama pun buku, yang adalah masalah selera, yang tentu saja sangat individual. Tapi yaa saya mah gitu orangnya, suka dibikin ribet sendiri *nyengir*.

Waktu buku kumcer saya baru publish Februari tahun lalu, saya lebih sering lagi buka Goodreads, tujuan utamanya tentu saja membaca review-review Little Stories, yang bisa membuat saya senyam senyum sendiri saat membacanya, atau pun jadi ngedown depresi berat dan nggak mau nulis fiksi lagi *lebay* bhuahahaha.

Tapi ya tetap saja, akun saya seperti rumah kosong tanpa isi. Di akun saya itu tidak ada keterangan saya sedang membaca buku ini itu, tidak ada buku tertentu yang ingin saya baca, tidak ada review atau pun rating yang saya tulis dan pilih. Hingga lomba menulis review di GR itu datang *tsaaaah*.

Teman-teman sudah baca review kumcer Tentang Kita tempo hari? Sebetulnya saya sudah tahu informasinya bahwa Stiletto -penerbitnya- sedang mengadakan lomba review buku tersebut, tapi salah satu syaratnya review harus ditulis di Goodreads. Jadi yaa saya mundur teratur sajalah ya, memang sudah berniat nulis review buku itu juga sebelum lomba diumumkan, jadi saya tulis di blog seperti biasa.

Masalahnya, ada seorang mbakyu yang adalah teman baik saya yang kebetulan bekerja di penerbit itu, mencolek saya di twitter kenapa saya nggak ikutan lombanya, toh reviewnya memang sudah ada, tinggal disalin ulang saja ke Goodreads dan beri rating. Meskipun malu-maluin, saya bilang ke blio, kalau akun GR saya kosong melompong, kudet pun cara mainnya gimana. Terlalu jujur semacam itu berhasil membuat saya jadi bahan bully-an deh seharian itu hahaha. Tapi klimaksnya adalah kalimat “cemana penulis ga mainan GR?”, jleb banget sih mbakyu?! :P

Meskipun saya penulis abal-abal ya, tetep weh sakit hati dibilang gitu *orangnya gampang sakit hati :P* hihihihi. Demi menjawab ‘tantangan’ mbakyu yang di Yogya sana, saya pun menulis ulang si review buku di Goodreads, mendaftarkannya ikut lomba, dan ternyata … menang! bhuahahaha. Review saya di-like sama mbak Reda-nya langsung lho, ah senangnyaaa. Jangan dipikir karena saya punya teman di sana jadi menang lho ya, karena yang menilai kan bukan teman saya itu, jadi pasti fair penilaiannya.

Intinya sih, meskipun sampai saat ini si akun Goodreads itu masih berisi review Tentang Kita itu semata wayang, saya jadi mulai berpikir mengoptimalisasikan *cieh bahasa guweh :P* si akun itu ke depannya. Siapa tahu ada yang terbantu setelah baca review yang saya tulis kan ya, atau seperti kemarin ini, menang lomba review jadi bakalan dapet buku baru deh hohohoho.

Temans ada yang punya akun GR kah? Temenan yuk :)

***

PS : Akun GR saya sama kok, namanya Rinrin Indrianie he he :D

[Review] Tentang Kita

Ini adalah judul sebuah buku kumpulan cerpen karya Reda Gaudiamo, temans. Ada 17 cerpen di dalamnya, yang ditulis dalam rentang waktu yang cukup panjang: dari akhir 1980-an hingga 2014!

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Berikut judul-judul cerpennya:

Ayah, Dini, dan Dia

Mungkin Bib Benar

Anak Ibu

Potret Keluarga

Tentang Kita

24 X 60 X 60

Si Kecil

Perjalanan

Bayi

Menantu

Taksi

Minggu Dini Hari

Aku: Laki-laki

Maaf

Cik Giok

Dunia Kami

Pada Suatu Pagi

Terkesan sederhana ya kalau dilihat dari judul-judulnya. Tapi saya cukup ‘mengenal’ mbak Reda (karena beberapa teman saya adalah jurnalis yang mengenal beliau secara pribadi dan mengatakan tulisannya memang canggih) dan yakin judul-judul sederhana itu akan mengantarkan saya pada cerita-cerita yang luar biasa. Oh iya, seorang teman (yang jurnalis itu) pernah mengatakan fiksi-fiksi saya bisa dikatakan mirip dengan fiksinya mbak Reda, karena cukup banyak menggunakan dialog! hihihihi. Kalau kualitas mah ya pasti jauh lah ya. Cerpen pertama yang berjudul “Ayah, Dini, dan Dia” saja misalnya, adalah pemenang Sayembara Cerpen Femina tahun 1990, cerpen-cerpen yang lain juga banyak yang pernah dimuat di Femina-Kompas-Hai dan lain-lain. Da saya mah apa atuh ngirim ke Femina aja ditolak mulu *eeaaa curcol* hahahaha.

Berhubung tidak mungkin saya bahas satu per satu cerpennya, akan saya ceritakan beberapa cerpen yang paling saya sukai.

Cerpen Anak Ibu, 24 X 60 X 60, dan Menantu adalah cerpen-cerpen yang sarat dengan dialog, dengan alur cepat dan tokoh-tokoh berkarakter kuat, endingnya tidak terduga dan bahkan lucu membuat ketiga cerpen ini melekat kuat di ingatan.

Cerpen berjudul Si Kecil  juga sangat menyentuh. Bercerita tentang anak laki-laki berkaki kiri tidak normal yang mengemis di sudut jembatan penyebrangan. Nala -suami si aku- ingin mengajaknya tinggal di rumah, yang tentu saja ditolak mentah-mentah oleh tokoh aku. Tapi sebuah peristiwa yang melibatkan pencopetan dompet, tokoh aku berubah pikiran, dia akhirnya sepakat dengan Nala, untuk mengajak Si Kecil tinggal bersama mereka dan tidak lagi membiarkannya menggigil di jembatan. Bagaimana ending cerita pendek ini berakhir? Harus Anda baca sendiri, temans! hihihihi.

Cerpen berikutnya adalah Tentang Kita yang dijadikan sebagai judul buku. Bercerita tentang sepasang suami istri yang tengah menanti buah hati. Alurnya sangat membuat perasaan campur aduk, endingnya -meskipun bisa dibilang biasa saja- juga sangat menohok, membuat saya berpikir ulang, apa saja sih keputusan besar dalam hidup yang membuat saya menyesalinya seumur hidup. Dan saya sangat menyukai jenis cerita yang membuat saya berpikir seperti itu *menjura hormat*.

Kumpulan cerpen ini cocok untuk dibaca saat ngabuburit lho, dengan karakter-karakter yang dekat dengan kita, dan peristiwa-peristiwa yang kerap terjadi di keseharian kita, buku ini sangat layak menjadi daftar bacaan Anda. 4 dari 5 bintang dari saya untuk buku kumcer ini :).

 

[Review] Letters to Aubrey

Judul Buku : Letters to Aubrey

Penulis: Grace Melia

Penerbit: Stiletto Book

Tebal Buku: 266 Halaman

No ISBN: 978-602-7572-27-0

Sinopsis

Congenital Rubella Syndrome merupakan kumpulan kelainan bawaan akibat virus rubella yang menginfeksi kehamilan seorang perempuan.

Melalui buku ini, penulis mengajak kita masuk dalam perjalanan yang penuh warna ketika dia membesarkan putrinya yang berkebutuhan khusus–akibat terinveksi virus rubella. Ada penolakan, kecewa, dan juga letih yang lambat laun menjadi rasa ikhlas dan optimis. Sebagai ketua komunitas Rumah Ramah Rubella, penulis juga membuka wawasan kita tentang TORCH pada umumnya dan rubella pada khususnya. Dia pun menyerukan pesan kepada orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus untuk terus optimis karena mereka tidak berjuang sendirian.

Semua informasi, pesan, serta rasa cintanya pada sang anak dituangkan dalam bentuk kumpulan surat dengan kata-kata yang ringan dan penuh makna. Buku ini sarat akan cinta seorang ibu pada anaknya. Lewat kumpulan surat ini, penulis ingin putrinya mengerti bahwa ia dicintai dan dibanggakan sebagaimana adanya.

???????????????????????????????

Review

Membaca Letters to Aubrey merupakan sebuah anomali bagi saya. Kenapa? Karena sudah lamaaaaa sekali bacaan saya hanyalah buku-buku fiksi belaka heuheu. Tapi bagi seorang fiction freak semacam saya, buku ini tetap asyik dibaca, kumpulan surat-surat sederhana yang ditulis dengan sangat jujur oleh Ges (panggilan sayang sang penulis) untuk Aubrey Naym Kayacinta a.k.a. Ubii sang buah hati tercinta di dalamnya, sangat jauh dari kata membosankan. Meskipun waktu yang saya perlukan untuk menghabiskan buku ini cukup lama, itu semata adalah karena saya seringkali menangis dan memaksa saya berhenti membaca *pembaca cengeng* he he.

Banyak ketakutan yang mengangguku. Aku mau jadi ibu yang baik buat kamu, Sayang. Ibu yang selalu hadir, percaya, tapi tidak menghakimi. Ibu yang selalu mencintai namun tidak ketinggian berekspektasi. Ibu yang tidak mungkin bisa sempurna tapi bisa selalu mencoba untuk dekat dengan sempurna. (halaman 19)

Berisi 92 surat (satu surat terakhir adalah dari Aditya, Papinya Ubii), pembaca sudah dibuat terharu atas sebuah harapan dari seorang calon ibu di surat pertama. Tapi Ubii yang tidak langsung menangis saat lahir ke dunia rupanya hanyalah satu dari sekian banyak kekhawatiran lain yang harus dihadapi Ges.

Saat Ubii terlelap, Mami dan Papi meletuskan balon-balon itu tepat di atas telinga Ubii. Ubii sama sekali nggak bangun…. What’s wrong with you, Princesss?  (halaman 28)
Hasilnya, di otak Ubii ada bercak-bercak putih. Seharusnya bercak-bercak putih itu nggak ada karena otak anak yang sehat akan tampak bening dan bersih. (halaman 39)
Ternyata area yang memerah sebanyak 15 mm. Ketika Mami menunjukkan hasilnya pada Professor, beliau berkata, “Wah, 8 mm saja bagi saya sudah positif, Bu. Lha ini 15mm. Ini, sih, positif pakai banget.” (halaman 118)

Diawali dengan Profound Hearing Loss, USG otak hingga pelaksanaan Mantoux Test untuk mendeteksi kuman tuberkolosis, jelas sudah bahwa Ubii menderita Congenital Rubella Syndrome yang merupakan kumpulan kelainan bawaan akibat virus rubella (campak Jerman) yang dulu pernah dialami Ges saat mengandung Ubii.

Maka surat-surat berikutnya adalah bercerita bagaimana Ges dan Ubii sama-sama berjuang untuk mengatasi semua hal itu. Tidak pernah mudah tentu saja, tapi mereka tidak menyerah. Saya bisa merasakan saat Ges merasa putus asa saat tak ada perkembangan berarti pada Ubii setelah banyak fisioterapi yang sudah dilakukan, tapi kemudian saya juga bisa ikut tersenyum bahagia saat Ges bercerita dalam salah satu suratnya, bahwa Ubii terjatuh dari kasur, karena itu artinya Ubii sudah bisa bergerak sendiri.

Selalu ada yang bisa disyukuri dari setiap kejadian, pun kondisi Ubii yang seringkali mematahkan semangat Ges dan suami. Misalnya, mereka diundang menjadi salah satu nara sumber dalam acara Kick Andy yang inspiratif, hingga Ges mendirikan Rumah Ramah Rubella untuk menyebarluaskan bahaya TORCH sekaligus tempat berbagi support untuk ibu yang memiliki putra putri spesial seperti Ubii. Dan bahkan ujian yang dihadiahkan pada Ges yang masih sangat muda (Jeng penulis ini baru berusia 25 tahun sodara-sodara!) ini memang adalah berkah dari Tuhan.

Lewat Ubii, Tuhan menjawab pertanyaan besar yang dulu sering Mami ucapkan. Ubii pengin tahu apa pertanyaan Mami? DUlu Mami sering bertanya, “Why do I exist, God? For what reason?” Dengan adanya Ubii di hidup Mami, Mami tahu jawabannya, “Mommy exists simply because Ubii needs Mommy.”

And that’s all Mommy needs to know for now. Period. (halaman 221).

Apalagi dalam surat terakhir, Papinya Ubii juga ikut menuliskan surat, yang lagi-lagi membuat saya mrebes mili, karena walau bagaimanapun, seorang lelaki-suami-ayah adalah juga manusia biasa ya, yang tidak bisa selalu kuat-tegar-tangguh seperti kelihatannya.

“Andai saja Ubii nggak sakit, Papi bisa lebih konsen di kerjaan.”

“Andai saja Ubii nggak lahir…”

Maafkan Papi. Papi sendiri belum bisa memaafkan diri Papi gara-gara pernah berpikiran seperti itu. Sekuat-kuatnya Papi, Papi cuma manusia biasa yang butuh waktu buat ikhlas menerima keadaan. (halaman 264).

Nah, berencana ke toko buku dalam waktu dekat? Sila masukkan Letters to Aubrey ke dalam daftar ya, karena dengan membacanya kita seolah diingatkan kembali, bahwa setiap individu, setiap pasangan, setiap keluarga, memiliki ujiannya masing-masing. Dan tidak perlu memohon untuk ujian yang lebih ringan, karena seringkali Tuhan sudah menguatkan bahu kita terlebih dulu.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Review #LetterstoAubrey”

[Semacam] Review : Everlasting – Cinta Tak Akan Pernah Lupa

EVERLASTING DEPAN

Judul Novel : Everlasting – Cinta tak akan pernah lupa

Penulis: Ayu Gabriel

Penerbit: Stiletto Book

Tebal Buku: 323 Halaman

No ISBN: 978-602-7572-25-6

Blurb

Kayla, 22 tahun, jatuh cinta kepada Aidan. Setiap kali Aidan yang punya bokong seksi itu lewat di depannya, Kayla langsung belingsatan. Namun, Kayla tidak tahu bagaimana caranya menunjukkan perasaannya karena Aidan adalah bos di kantornya -usinya lebih tua 11 tahun. Ia hanya bisa mengamati dari jauh secara diam-diam sambil mencatat semua hal tentang Aidan di sebuah buku rahasia.

Dengan bantuan Pira, sahabat baiknya, Kayla mulai berusaha mendapatkan cinta Aidan. Kayla pun mengubah dirinya menjadi seperti perempuan impian Aidan : mengubah potongan rambutnya, menato tubuhnya, sampai mengubah selera musiknya.

Ketika Kayla sedang berusaha merebut hati bosnya itu, Dylan, cinta pertama Kayla, tiba-tiba muncul. Kayla sebenarnya sudah lupa siapa Dylan karena dia pernah bersumpah untuk tidak mengingatnya lagi semenjak Dylan dan keluarganya pindah dari Jakarta, 10 tahun lalu. Keinginannya terkabul. Ia tidak ingat sama sekali tentang Dylan atau cinta mereka. Dylan pun memutuskan untuk mendapatkan kembali cinta Kayla yang ia yakini masih bersemayam di hati gadis itu kalau saja ia bisa mengingatnya.

Review

Membaca blurb yang demikian, entah bagaimana saya sudah antipati duluan dengan si tokoh utama Kayla. Bukannya apa-apa, saya paling tidak suka seseorang yang tidak menjadi dirinya sendiri hanya karena dia sedang jatuh cinta semacam itu. Tapi si Kayla ini baru 22 tahun sih ya, dan inipun novel, jadi ya terserah yang nulis lah ya karakter si tokoh mau seperti apa qiqiqiqi.

???????????????????????????????

Terbagi dalam dua puluh dua bab (tidak termasuk prolog dan epilog), novel ini terbilang cukup tebal, apalagi font hurufnya lumayan kecil. Di halaman-halaman awal, saya sudah menemukan keunikan novel ini, karena Kayla membuat daftar ‘hal-hal yang bisa membuatnya bahagia’ seperti terlihat dalam foto di atas. Hal-hal sederhana semacam diskon, mendapat taksi kosong di Jum’at malam, atau sekadar melihat Aidan -bos sekaligus gebetannya- tertawa.

Keunikan lainnya ada dalam karakter Kayla, yang tidak seperti kebanyakan gadis pada umumnya, dia mengumpat dengan kalimat “saus kacang” setiap ada sesuatu yang tidak sesuai dengan hatinya. Lucu saja sih, membuat saya sedikit berpikir apa gerangan yang dilakukan si saus kacang pada Kayla sehingga bisa-bisanya dijadikan frasa mengumpat *abaikan*.

Konflik dalam novel ini seolah ada dua, yaitu upaya Kayla yang mencoba merebut perhatian Aidan, dan bagaimana Dylan -si cinta pertama Kayla yang terlupakan- mencoba merebut kembali cinta Kayla. Semacam cinta segitiga jenis baru gitu sih ya hihihi. Tapi seru kok, dengan diksi yang tidak biasa dan berbagai dialog cenderung kocak, novel ini tidak membosankan meskipun tebal.

Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk memanjakan mataku lagi. ia memakai kemeja hijau muda dan terlihat begitu tampan. Aku mendesah diam-diam. Ia menggiurkan seperti es teh lemon di tengah hari yang panas di bulan puasa. (hal 28)
 
Dylan tersenyum lembut. Itu senyum yang sangat berbahaya -jenis yang bisa membuat perempuan rela melakukan apa saja demi melihatnya lagi. (hal 239)

 

Dan yang paling saya suka adalah, penulis secara implisit memasukkan pesan moral tanpa menggurui pada pembaca. Misalnya saja perkataan Dylan pada Kayla berikut, yang secara tidak langsung mengingatkan kembali pada pembaca bahwa sudah seharusnya cinta itu memang tidak bersyarat.

“Jadi, laki-laki itu baru bisa menyukai kamu kalau kamu punya tato, begitu?” ejeknya. “Dia nggak bisa menyukai kamu apa adanya?” (hal 153)

Atau, kalimat Pira berikut, bahwa seorang pencinta -yang terlanjur terbutakan cinta- seringkali tidak menyadari bahwa mereka tidak betul-betul mencintai seseorang, katakanlah, mereka cuma merasa ‘terpikat’ :).

“You don’t love him, you just love the idea of loving him” (hal 215)

Jika ada sesuatu yang ‘mengganggu’ dalam novel ini, adalah tentang hilangnya ingatan Kayla atas Dylan. Meskipun saya yakin Mbak Ayu Gabriel sudah melakukan riset tersendiri untuk hal ini, sebagai orang awam saya kurang bisa menerima bahwa seseorang bisa melupakan masa lalunya begitu saja. Satu folder yang berisi Dylan (bahkan keluarganya) seolah ter-delete dan tidak ada lagi di ingatan Kayla. Padahal, bukankah kejadian yang traumatis itu justru susah dilupakan? Kecuali Kayla memang menjalani hypnotherapy atau apalah ya, tapi seingat saya hal ini tidak dijelaskan dalam novel. Kayla hanya tidak ingin mengingat kejadian saat Dylan pergi sepuluh tahun lalu, dan voila, dia pun melupakan semuanya. Bagi saya, hal ini terlampau ajaib.

Tapi ganjalan di atas tidak membuat saya tidak bisa menikmati novel ini secara keseluruhan. Karakter tiap tokoh sangat kuat, bahkan untuk karakter Jessica sebagai ‘pemain figuran’ seksi yang menjadi rival Kayla dalam mencari perhatian Aidan, misalnya. Saya bahkan sangat menyukai karakter Pira, sahabat Kayla yang selalu jujur mengatakan ketidaksetujuannya demi kebaikan Kayla.

Ya sudah, demikianlah [semacam] review ini, Everlasting cocok sebagai bacaan ringan di penghujung hari menemani secangkir teh hangat, bisa membuat Anda tergelak, gemes, sebel, gregetan, dan kemudian tersenyum puas atas endingnya yang menyenangkan :).

PS : Pssstt, mbak Ayu, spesial request nih, novel selanjutnya kisah Pira sama Pras ya hihihihi.

Semusim, dan Semusim Lagi

Iya, di postingan sebelumnya memang saya mengatakan sedang terhipnotis Murakami dengan 1Q84 hingga tahan tidak ‘lompat’ ke buku lain. Tapi memasuki jilid 3, ternyata saya bosan juga ha ha :P.

Jadi, seharian tadi saya membaca novel pemenang Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012, dan langsung selesai! Memang tidak terlalu tebal sih, cuma 230 halaman saja. Buku ini merupakan hadiah dari Indah karena cerpen saya konon jadi pemenang favorit dalam Giveaway yang diadakannya bulan lalu, terima kasih banyak ya Ndah *ketjup*.

Tapi maafkan saya temans, ini bukan postingan resensi atau review buku. Saya hanya akan menceritakan kesan saya terhadap novel yang memang sangat layak menjadi pemenang ini.

Keunikan pertama, seperti Gadis Pantai-nya Pramudya Ananta Toer, novel ini juga tetap merahasiakan si tokoh aku, hingga cerita berakhir, saya tidak tahu ‘si aku’ dalam novel bernama siapa.

Keunikan berikutnya, novel ini -menurut saya- nyaris tanpa konflik yang berarti, alurnya tenang mengalir tapi begitu mengikat. Setiap adegan seperti memiliki fungsinya sendiri-sendiri (yang memang sudah seharusnya fiksi yang baik ditulis demikian), hingga si pembaca tidak bisa melepaskan diri, karena lengah sedikit, dia bisa kehilangan ‘momen’, setidaknya bagi saya ya, karena saya betul-betul skip makan siang tadi hihihihi.

Keunikan terakhir, setelah membacanya, saya masih terbayang-bayang *halah…ndangdut banget sih istilahnya :P* pada beberapa tokoh dalam cerita, J.J. Henry, Muara, Joe, terutama si Sobron, yang mana hanyalah seekor ikan mas koki! Tentu saja, karena terbayang-bayang itu tadi, saya jadi punya banyak pertanyaan ini itu, karena sulit percaya ‘si aku’ bisa begini dan penasaran kenapa dia tidak begitu. Dan itu berakhir dengan ingin membuat ending versi saya sendiri #eeaaa.

gambar pinjam dari goodreads

Beberapa waktu yang lalu, saya hampir saja bisa ngobrol-ngobrol dengan Andina di sebuah acara, tapi sayang saya harus segera pulang hingga melewatka momen itu. Padahal, saya ingin sekali menanyakan banyak hal yang ada di benak saya setelah membaca novel itu padanya. Misalnya saja, seberapa jauh riset yang dilakukannya hingga bisa mendeskripsikan penjara dan Rumah Sakit Jiwa dengan demikian nyata.

*Hedehhh…penasaran sayah -__-“*

Jadi begitulah temans, jika ingin membaca sebuah novel yang ‘berbeda’, Semusim, dan Semusim Lagi karya gadis muda ini sangat layak diperhitungkan masuk dalam daftar bacaan Anda ;).