Tidak Ada Ponsel Hari Ini

Hahahaha…maafkan ya, judulnya meni ter-Aan Mansyur pisan begituh😀. Tapi tahu dong ya maksudnya, bahwa hari ini saya ngantor tanpa membawa ponsel! Bahkan baru ngeh kalau di tas saya tak ada ponsel saat sudah berada di kantor lho hedehhh >_<

Bukan, saya bukan nomophobic yang gelisah-tak berdaya saat tidak memegang si perangkat yang satu itu kok, saya mah biasa aja ga bawa hape, cuma merasa agak-agak mati gaya gitu lah dikit *eh sama aja ya?* hahahaha.

Kenapa momen sepele semacam ini harus dituliskan di blog segala? Karena sepanjang 2 bulan lebih ngantor lagi, ini baru dua kali (iya, DUA kali) saya kelupaan membawa henpun. Dan buat saya yang memang pelupa, itu adalah rekor yang warbiyasah sekali sodara-sodara hohohoho.

Meksipun khusus hari ini, saya agak kelimpungan juga nih nggak ada ponsel, khawatir banyak telepon yang related ke pekerjaan. Maklum, minggu depan ada audit ISO, yang sampai detik ini pun kok saya masih aja nggak iso mudeng, kenapalah si ISO ini ribet bin njelimet gitu sih? *ups* hahahaha *semoga pak-bu bos nggak baca*.

Tapi ya, selalu ada yang bisa disyukuri dalam setiap kejadian. Karena Alhamdullillah tidak ada ponsel hari ini, membuat saya tidak banyak terdistraksi. Entah sekadar membaca rumpian di grup whatsApp, atau ‘cuci mata’ di IG, atau kepo buka facebook/twitter, biasanya sering saya lakukan dengan si ponsel. Kalau sedang suntuk, bisa sebagai hiburan juga sih memang, tapi seringnya malah jadi distraksi yang mengganggu kan ya hihihihi.

Keuntungan lain, saya jadi punya waktu menuliskan postingan curcol bin geje ini karena biasanya waktu istirahat saya asyik sama si gadget yang satu itu. Alhamdulillah deh yaa😀.

Ya sudah sebegitu dulu curcol hari ini. Psssttt, (semacam) review Tak Ada New York Hari ini bisa dibaca di link ini yaa😉.

H+Sekian Lebaran

Itu judulnya keliatan banget saya males ngitung ya hahahaha *abaikan*. Tapi, berhubung ini adalah postingan pertama setelah Lebaran, izinkan saya memohon maaf atas seluruh kesalahan yang pernah saya perbuat ya, temans:).

Banyak sih yang ingin saya ceritakan, tentang perjalanan pulang Lebaran tahun ini, atau acara ngebolang selama libur Lebaran di Majalengka. Mudah-mudahan bisa dituliskan lain waktu ya, kalau nggak malas hihihihi, ini kan postingan ‘pemanasan’ gitu ceritanya😛.

Jadi saya mau pamer foto tadi pagi sajalah ya. Saya memang baru mulai ngantor tanggal 13 Juli ini, meskipun sudah kembali ke Karawang sejak Minggu lalu. Jadi lumayan fresh lah memulai rutinitas kerja. H+sekian Lebaran begini, saya pikir jalanan sudah kembali normal, ternyata yaaaa, masih banyak pemudik yang melakukan perjalanan menuju Jakarta, dan tentu saja membuat jalan tol super padat merayap-rayap *halah* hihihihi. Yah, dinikmati sajalah ya, mau bagaimana lagi kan?😛 Mungkin besok harus berangkat lebih pagi jad tidak perlu deg-degan khawatir terlambat seperti tadi hehehehe.

IMG_20160713_080321

Ya sudah sebegitu dulu saja ya. Have a nice day, Pals😉

Lelaki Tua dan Menara Masjid

Masjid Agung Cirebon, Indonesia

Masjid Agung Cirebon, Indonesia

Senja menjelang, masjid mulai terlihat ramai. Tapi seorang kakek yang kulihat seminggu ini tetap menggelar sajadahnya di beranda masjid, di samping pilar paling ujung yang terlampau sepi. Baru bergabung saat sholat berjamaah dimulai.

Penasaran, aku mendekatinya.

“Assalamu’alaikum, Kek, mari menunggu di dalam, masih banyak tempat kosong.”

“Mas baru ke sini ya?” tanyanya setelah menjawab salamku.

Aku mengernyit, ajakanku berbalas pertanyaan -yang menurutku- tidak berhubungan sama sekali.

“Betul, Kek,” jawabku akhirnya.

Lelaki tua itu tersenyum. “Saya di sini saja, Mas.”

“Kenapa, Kek?”

“Saya suka memandangi menara masjid itu, Mas.”

Aku mengikuti arah pandangan matanya, pada menara tertinggi yang ada di masjid ini. Terlihat begitu tinggi dari tempat kami berada. Megah. Indah. Tapi untuk apa Si Kakek memandanginya berlama-lama?

“Oooh.” Aku hilang kata, hanya kuperhatikan saja saat Si Kakek memandangi sang menara, bibirnya tersenyum lebar, meski matanya kulihat sedikit mengkristal.

Mungkin Kakek ini sedikit gila, pikirku. Kutinggalkan dia menikmati si menara sendirian.

“Dibiarkan saja, Mas. Sudah beberapa tahun ini Pak Irman memang begitu,” ujar seorang anak muda yang kulihat sering menjadi muazin.

“Kenapa Pak Irman begitu menyukai memandangi menara masjid, Mas?” tanyaku masih penasaran.

Anak muda itu menatap Pak Irman yang masih asyik menatap menara. “Anak lelaki pak Irman terjatuh dan meninggal dunia saat sedang membersihkan menara.”

“Oh?”

**

Lombamenulis

Note: 210 kata

 

Insyaallah, #10TahunLagi Saya Berhaji

Apa sih yang teman-teman ingat dari kehidupan sepuluh tahun lalu?

2006 itu saya sudah bekerja di kantor lama, masuk tahun ke-2, tidak ada yang terlalu berkesan rasanya, kecuali pada saat itu saya sudah bisa melakukan banyak hal yang sebelumnya tidak bisa saya lakukan karena keterbatasan uang. Terbayang dong, sebagai guru freelance di sebuah tempat kursus dengan fee mengajar hanya 15 ribu rupiah per sesi, saya nyaris hanya mampu makan sekali sehari demi bisa membayar uang kost dan memiliki ongkos untuk pergi bekerja. Walaupun seringnya ya tetap terpaksa harus tutup lubang gali lubang, bagaimanalah menghemat uang yang terlampau sedikit ya? hihihhi.

Setelah menjadi karyawan ‘betulan’, Alhamdulillah saya merasa sangat tercukupi. Bisa makan di restoran-restoran yang sebelumnya hanya bisa saya idamkan diam-diam, membeli baju-sepatu-tas yang sebelumnya hanya mampu saya angankan, dan sebagainya dan seterusnya, melakukan banyak hal yang sebelumnya hanya berada dalam impian.

Continue reading

Sekali Lagi Tentang THR

Siapakah yang sudah menerima THR? Saya sudah dong hari Jumat minggu lalu hehehe. Alhamdulillah yaa.

Terima kasih pada Permenaker No. 6/2016 yang baru terbit Maret lalu, karena sudah memungkinkan karyawan baru dengan minimal masa kerja 1 bulan sebelum Lebaran, berhak mendapatkan THR dengan proporsional/prorata.

Jadi, menurut peraturan itu, karena lebaran jatuh di bulan Juli sementara saya mulai bekerja Mei, dianggap sudah 3 bulan bekerja, maka nominal THR saya adalah 3/12 kali gaji pokok, CMIIW. Tapiiiii pak bos saya yang orang Jepang itu lagi baik entah emang orang baik deh, THR saya dibayar setengah gaji dong hihihihi. Alhamdulillah banget kan yaa meskipun nggak full *yaiyalah*😀.

Continue reading

Tentang Uang Kembalian Berlebih

Baiklah, mari kita curcol pagi-pagi #eeaaaa.

Salah satu keteledoran saya yang teramat sangat sulit sekali diubah adalah : jarang mengecek uang kembalian. Kalau sedang ingat saja pasti saya hitung ulang, tapi kalau sedang ‘kumat’ ya begitulah, langsung weh masuk dompet kecil tempat saya biasa menyimpan uang-uang kembalian.

Kalau kembaliannya kurang, rugi sih pasti ya, tapi (kalau mau salah-salahan) kan itu akan menjadi kesalahan si mbak/mas kasir ya. Diikhlaskan saja sih biasanya. Nah, kalau kembaliannya justru berlebih ini nih, jadi nggak enak hati. Kalau masih dekat (dan bisa balik lagi) biasanya saya kembalikan, jadi hati tenang semua senang, yes? Tapi…tapi… kalau si kembalian yang berlebih ini adalah uang kembalian bayar tol kumahaaaa? *lebay*

Continue reading