The Crystal Voice

Postingan pendek di Senin pagi yang (entah kenapa) selalu terasa lebih hectic dibandingkan pagi hari yang lain.

Jadi ceritanya, kantor pusat tempat saya bekerja ini ada di Jepang. Maka berkorespondensi dengan kolega satu divisi di sana ya sering banget, dalam satu hari, bisa saja lebih dari sepuluh kali berkirim-balas email. Lumayan ‘berteman’ lah akhirnya sama kolega yang satu ini, sebut saja Tsukada san (memang nama sebenarnya hihihihi).

Selain pekerjaan, kami ngobrol hal remeh temeh selayaknya dua orang teman. Obrolan semacam cuaca hari itu biasanya mengawali hari. Atau misalnya minggu lalu, saat di Jepang melintas typhon, Tsukada san akan mengabari dia harus pulang cepat terkait antisipasi angin topan tersebut. Atau ketika saya baru membalas emailnya siang karena mobil saya mogok saat mau berangkat ngantor, maka saya pun bercerita accu-nya harus diganti jadi saya datang terlambat.

Obrolan-obrolan itu selalu terjadi by email, hingga suatu saat saya terpaksa harus meneleponnya. Ngobrol di telepon ternyata sedikit canggung, karena saat saya bicara memakai bahasa Jepang, ndilalah Tsukada san malah membalasnya dengan bahasa Inggris. Ya sudahlah yaaa kita nginggris aja kalau begituh😛. Dan saat masalah penting selesai dibicarakan, Tsukada san mengatakan “You have a crystal voice!” (entah itu maksudnya apa) sebelum perbincangan telepon kami akhiri bhuahahahaha.

Udah sih, mau cerita itu aja. Jika di kantor lama seorang teman pernah mengatakan saya memiliki smiling voice yang terdengar ramah di telepon meskipun saya sedang marah-marah, ternyata sekarang ini saya dituduh ber-crystal voice nih hihihihi. Dan kemudian mulai berpikir jangan-jangan saya berbakat jadi penyanyi *abaikan!*

Well, have a great Monday ya, Pals😉

 

#FFKamis – Seandainya Dul Tahu

Seandainya Dul tahu apa yang akan ditemuinya malam itu, mungkin dia akan menunda kepulangannya hingga esok pagi, atau minggu depan, atau tak usah pulang sekalian.

Seandainya Dul tahu, dia tak perlu terimpit berdesak di bus yang sesesak neraka. Dul juga tak perlu lelah berjalan kaki di malam buta yang gelapnya terlampau keparat.

Tapi yang sudah terjadi terlanjur terjadi. Dul hanya bisa terkejut saat didengarnya desahan laknat suara lelaki bersahut lenguhan istrinya di kamar yang seharusnya hanya miliknya.

Dul tak bisa apa-apa. Maka dipandanginya saja rumah yang baru saja dibakarnya dengan dua calon mayat gosong di dalamnya yang melolong minta tolong.

Photo Challenge: Edge

Another silent post.

Eh, bawel sedikit deh *halah*. Foto-foto berikut bukan foto baru sih, dan pernah diaplod untuk challenge serupa dengan tema entah apa. Jika saya tetap memaksakan diri untuk memajangnya, mungkin karena saya sedang merindukan motret dengan kamera SLR saya yang mati suri karena lensanya dijual tapi belum beli penggantinya #eeaaacurcol hahahaha.

Ya sudahlah, nggak apa-apa ya posting foto lama😛

_DSC1049

_DSC0811

Have a great day, Pals😉

Random Story

Dalam rangka menghindarkan blog ini dari sebuah penyakit bernama lumutan, izinkan saya menuliskan beberapa cerita random yang saat ini terlintas di kepala saya ya.

Cerita random 1

Ada berita mengejutkan saat saya pulang ke rumah Mamah kemarin ini, perihal kematian seorang saudara jauh yang seusia dengan saya, yang disebabkan oleh entah penyakit apa yang tak bisa ‘terdeteksi’ dokter.

Saat kecil dulu, saya lumayan dekat dengannya, kita sebut saja Melati ya. Kadang, kalau liburan sekolah dan saya berlibur ke Bandung, saya pasti akan mampir juga ke rumah Melati, bermain dan belajar dan baca buku bersama, bercerita ini itu di sekolah masing-masing, hingga pamer-pameran siapa yang paling bagus nilai raportnya dan sebagainya dan seterusnya.

Zaman kuliah, Melati terbukti jauh lebih pintar daripada saya karena almarhumah bisa berhasil lulus UMPTN. Sehingga meskipun kami berada di kampus yang sama, saya cuma bisa berpuas diri belajar di Diploma 3. Bahkan Melati bisa menjadi asisten dosen di sana yang tentu saja tak semua orang bisa melakukannya.

Continue reading

#FFKamis – Belanja Online

“Bu, kok uring-uringan begitu?”

“Ibu kena tipu, Pak”

“Hah?”

“Ceritanya kemarin ini Ibu nyobain belanja online itu lho, Pak. Biar kekinian.”

“He-eh, terus?”

“Ya terus gitu, kena tipu.”

“Kena tipu gimana sih, Bu?”

“Yaa … begitulah, Pak.”

“Ibu ceritanya yang jelas dong. Gimana detailnya?”

“Ibu kan order baju, Pak. modelnya bagus, motifnya cantik, warnanya manis.”

“Terus?”

“Pas barangnya dateng dan Ibu coba kok ya nggak pantes buat Ibu. Kena tipu toh namanya, Pak?”

“Hoalah, salah pilih ukuran ya? Kekecilan? Lah badan ibu sama model di foto kan pasti beda. Bukan kena tipu itu mah, Bu.”

“Hihhh … Si Bapak bukannya belain Ibu!”

**

Note: 100 kata

Karena Tuhan Tak Menciptakan Beban Tanpa Pundak

Warning: hanya sekadar tulisan pendek dari pikiran  geje tidak seberapa penting🙂

*

Pagi tadi saya menghadiri sebuah acara yang diselenggarakan oleh DirJen Bea Cukai, sosialiasi tentang apa dan sebagainya dan sebagainya tidak perlulah ya saya jelaskan, ribet bo! hihihihi. Dan meskipun menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Bagimu Negeri itu juga cukup menarik, tapi bukan itu yang ingin saya bahas kali ini, tapi sebait doa yang dipimpin penyelenggara.

Ada sebaris doa yang (kurang lebih) berbunyi demikian, “….Tuhan, jangan beri kami ujian yang tidak bisa kami selesaikan…” Dan kalimat itu entah kenapa menggelitik hati dan pikiran saya selama perjalanan kembali ke kantor (sehingga akhirnya terciptalah postingan ini :P).

Tidak, saya tidak mengatakan bahwa kalimat itu -katakanlah- kurang tepat, tapi saya memang kurang sependapat. Kenapa? Karena (menurut logika sederhana saya) Tuhan memang tidak akan memberikan ujian di luar kemampuan hambaNya, sehingga apa pun ujian yang menimpa si hamba, pasti akan terselesaikan dengan baik selama dia beriman pada Sang Pemberi Ujian. Dan bukankah tidak ada seorang manusia pun yang mengakui beriman, yang tidak diuji keimanannya?  ‘Tawar menawar’ ujian pada Tuhan menjadi terlihat sedikit absurd.

Maka saya kembali teringat kalimat pendek indah yang pernah dituliskan Gola Gong di salah satu bukunya yang entah apa, bahwa Tuhan tak menciptakan beban tanpa pundak”, sehingga (mungkin) kalimat yang lebih tepat, atau setidaknya, kalimat yang akan saya pilih untuk berdoa adalah meminta Tuhan untuk berkenan menguatkan pundak saya atas apa pun beban yang dikehendakiNya bagi saya.

Ah ribet hidup lo, Rin. Berdoa aja dibikin masalah!

Demikian komentar seorang sahabat saat saya menanyakan pendapatnya perihal sebaris doa yang menurut saya kurang tepat itu. Dan saya bisa memaklumi komentarnya sih, sebagian besar toh berdoa dilakukan sendiri, langsung antara si hamba dan Tuhannya, terserahlah ya bahasanya seperti apa.

Dan saya memang tidak sedang bikin masalah kok, cuma kurang sependapat saja dengan redaksional kalimat doa tersebut. Toh saya sangat mengerti, esensi sebuah doa adalah keberserahan kita, pengakuan si hamba yang tergantung sepenuhnya pada Sang Pencipta, yang menginginkan bisa lulus ujian dengan sempurna.

Nah, jadi gimana? Kita masih berteman kan ya? hehehehe