Rindrianie's Blog

喜怒哀楽

Pengetahuan ini saya dapatkan saat kuliah “Telaah Drama” Senin lalu. Kami sedang membahas Noh, sebuah drama klasik Jepang yang berkembang di zaman Heian. Saat itu penjelasan Morita Sensei -dosen saya itu- sampai pada topeng-topeng yang digunakan para pemain Noh, yang cenderung flat-datar-dingin. Dan bergulirlah materi topeng menuju bahasan mengenai 喜怒哀楽 ini.

Maaaaf, itu dibacanya : Ki-do-ai-raku, secara umum diartikan sebagai : human emotions (joy, anger, pathos, and humor).

Karakter kanji pertama ‘‘ (Ki), adalah kanji ‘yorokobu’ yang berarti bahagia, atau joy. Kemudian’怒’ (do), adalah kanji ‘okoru’ yang berarti kemarahan、atau anger. Sementara ‘’ (ai), adalah kanji ‘kanashii’ yang berarti penderitaan, atau pathos. Dan ‘‘, adalah kanji ‘tanoshii’ yang berarti kegembiraan, atau humor.

Ehem…Kanji adalah pelajaran yang sangat tidak saya sukai. Susah sodara-sodara! Tapi ya begitulah, tetap menyenangkan bagi saya menganalisa karakter-karakter aneh itu he he.

Kembali Ke Kidoairaku, rupanya ini adalah karakter bangsa Jepang yang (mungkin) tidak terlalu dikenal masyarakat di luar mereka. Karakter yang tidak mengizinkan mereka menjadi makhluk yang ekspresif. Dengan kata lain, mereka tidak boleh terlihat terlalu bahagia, terlalu marah, terlalu merana, atau terlalu senang. Duh…Alhamdulillah saya bukan orang jepang..

Sensei menjelaskan, mereka-mereka yang menunjukkan emosi-emosi tersebut dengan sangat jelas, dianggap orang yang kasar. Orang-orang di daerah Kyoto lah yang paling taat ‘menganut’ karakter ini. Sementara orang-orang Kyushu dianggap yang paling ‘kasar’ karena keekspresifan mereka. Oh iya, karakter ini lebih ditekankan lagi pada kaum wanita. Oh noooo. Sehingga, para wanita kalangan atas semisal Putri Putri Masako, Putri Kiko dan yang lainnya itu, harus menahan emosi yang mereka rasakan. Tetap tersenyum saat kesedihan melanda, tetap tersenyum saat kemarahan merajalela, dengan senyum yang tidak terlalu ‘senyum’. Resiko menjadi seorang ‘Putri’ mungkin ya 😛

Tambahan informasi dari Sensei, hal ini pulalah yang menyebabkan maraknya aktifitas 自殺 (jisatsu) a.k.a bunuh diri di Jepang. Karena tak semua orang bisa menahan sebuah perasaan negatif berlama-lama dalam dirinya, bukan? Sehingga hal tersebut memaksa mereka-mereka yang tertekan ini memilih untuk mengakhiri hidup. Phew…

At the bright side, karakter ini pula yang mampu membuat dunia tercengang atas ‘ketabahan’ bangsa Jepang. Bisa sahabat lihat dalam contoh berikut. Tidak ada yang menangis melolong-melolong saat mengetahui keluarganya hilang terbawa Tsunami. Tidak ada yang berteriak-teriak marah saat menunggu kereta terlambat datang karena jalanan rusak oleh gempa, atau berjalan kaki berjam-jam lamanya karena bus tidak beroperasi. Tidak ada yang berdemo anarkis saat perut lapar karena bantuan belum datang. Bagus juga kan, ya?

Well, mungkin diambil saja sisi baiknya ya Sahabat. Terlalu lebay pun akan seperti anak alay nantinya, bukan? hahaha… Terlalu menahan diri pun berpotensi melakukan Jisatsu kelak, bukan? Naudzubillah…. So. mungkin seperti lantunan lagu mba Vety Vera dulu, “yang sedang-sedang saja” yaa… 😀

Have a sweet life, Pals 🙂

0 Comments

  1. Lidya

    Pascal sekali nih 🙂 kalau dikasih tau jalannya janagn lambat,eh langsung lari padahal yang dimaksud jalan biasa saja.dia suka lebay tuh hihihi

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Wahh…lucunya. Yg penting Pascal ga jadi anak alay ya mba Lid hihihi*pisss….*

      Reply
  2. Nchie

    Oriiin..aku datang kembalii..
    Kanji?
    yang aku tau tepung Kanji hehehe
    *dasar emak2 taunya bahan makanan mulu*hihihi..

    Reply
    1. Orin (Post author)

      hahaha… iya Teh, tepung kanji buat bikin cireng, kan? *jd pengen cireng*

      Reply
  3. dPoer Nchie

    ikut belajar bahasa jepang disini..hhehe..

    Reply
    1. Orin (Post author)

      hihihi…Orin jg msh belajar Teh 😛

      Reply
  4. joe

    dan ketika jepang hancur lebur oleh bom atom sekutu pada tahun 1945 jepang segera bangkit dan menjadi salah satu kekuatan dunia, tentu saja setelah tsunami ini mereka juga akan bangkit kembali

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Yup, mereka pasti akan bangkit kembali. 🙂

      Reply
  5. Abi Sabila

    jangan lebay plis! jangan berlebihan dan jangan pula keterlaluan, sesuai porsi dan posisi masing-masing saja.

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Siap Abi. istilahnya apa? Tawazun yah? *sotoy dot com*

      Reply
  6. Gaphe

    kalo bunuh diri itu namanya apa.. harakiri yah?.
    itu mungkin sudah membudaya bagi orang jepang ketika memang sudah tidak lagi menanggung beban, malu, atau sudah tidak ada gunanya.. mereka memilih untuk meninggalkan hidup.

    susah jadi orang Jepang, kebanyakn aturan..
    yaa meskipun sekarang jadi negara yang adidaya tapi apakah sepadan dengan yang dirasakan per orang?. entahlah, saya pengen kesana tapi nggak pengen jadi orang sana

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Hehehe…kalo mau kesana ajak2 ya mas. Yup, harus bersyukur sepertinya ya kita jd orang Indonesia ^^

      Reply
  7. bintangtimur

    Banyak yang bisa kita pelajari dari bangsa Jepang, mungkin sisi positif itu yang harus kita tiru, Orin.

    Saya baca posting ini kalimat per kalimat lo, hehe, selain penggemar berat novel Musashi, saya juga *dulu* seneng banget koleksi perangko Jepang 😀

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Whoooaaaa… belom kesampaian mau baca novel Musashi Bu Ir, jadi ngiri.. Buat resensinya dunk Bu hihihii *ditimpuk pake geta*

      Reply
  8. Mechta

    Wah…padahal saat nulis saja aku suka pake hehe… atau huhuhu… sangat ga cocok jadi org jepang yah? 🙂

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Asyik, ada temennya kalo nulis suka terlalu ekspresif hihihi…

      Reply
  9. cahayabali

    belajar bahasa jepang cocok ne disini 🙂

    Reply
    1. Orin (Post author)

      waduh…saya jg masih belajar lho 😀

      Reply
  10. nia/mama ina

    wah ternyata mbak orin bener2 jepang-ers sejati , udah mukanya mirip orang jepang…seneng pula sama yg ber-bau jepang hehehe…

    ehh dulu suamiku punya cita2 pengen kawin sm orang jepang loch…makanya dia kursus bahasa jepang…trus waktu jadi guide di malioboro…kenalan sm orang jepang…sempet kesampean tuch punya pacar orang jepang, tp trnyata ngga jodoh hehhe…

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Alhamdulillaaaah, untung tidak berjodoh dg orang Jepang itu ya he he.
      Hah? aku mirip orang Jepang? kalo ada yg tau pasti pada protes deh mereka, mba hihihi

      Reply
  11. ais ariani

    mbak oriiin.. membaca postingan ini di akhirnya malah mbikin aku pengen ke tempat karoke;
    “yang sedang-sedang sajaaa… yang pentiing dia setiaaaa”

    yuuuk diangkat jempolnyaaa!!
    😀

    Reply
    1. Orin (Post author)

      huahahaha…. tarik maaaaang *ngangkat jempol*

      Reply
  12. advertiyha

    hihihi,,, setuju, sedang-sedang saja, semua yang berlebih akan menjadi tidak baik, dan kekuranganpun akan membuat tidak puas.. 🙂

    tetap senyum aja deh.. 🙂

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Sepakaaaaattt… Tetap senyum secantik mba Iyha *lho?*

      Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: