Rindrianie's Blog

Pak OB dan kertas fax :)

Ada seorang OB di kantor saya yang sudah cukup ‘sepuh’, beberapa tahun lagi saja beliau akan segera pensiun. Seringkali, beliau membuat kesalahan-kesalahan khas orang tua pada umumnya. Sulit diberi penjelasan, ngeyel, lupaan, merasa benar sendiri, dan kadang tidak mau melaksanakan tugas yang diperintahkan hanya karena beliau kurang suka pekerjaan tersebut (bah… :P).

Seringkali kami harus mengurut dada mencoba berbesar hati terhadap sikapnya tersebut, atas nama dedikasi dan loyalitasnya terhadap kantor selama ini, opsi memberinya surat peringatan apalagi memberhentikannya hampir tidak pernah dipertimbangkan. Selama sikap-sikapnya tersebut tidak merugikan kantor atau menimbulkan sesuatu yang membahayakan, kami menganggapnya sebagai ujian kesabaran di kantor.

Dan, ujian itu menghampiri saya hari ini. Jreng…jreng….

Di kantor saya, memang tidak terlalu ‘pelit’ dalam penggunaan kertas, tapi tetap berupaya menggunakannya seefektif mungkin, salah satunya menggunakan kertas bekas dalam mesin fax, baik untuk data fax yang masuk, maupun untuk sending report saat mengirim fax ke luar. Dengan meletakkan bagian kertas yang masih kosong dengan baik dan benar, menerima data dan informasi pengiriman fax tentunya tidak bermasalah, kecuali jika ada yang salah meletakkannya.

Saya menunggu konfirmasi sebuah dokumen by fax dari sebuah supplier yang sulit sekali saya mintakan konfirmasinya, sudah berkali-kali saya telepon dan email, akhirnya sang supplier mengatakan konfirmasi tersebut akan mereka kirimkan lewat fax. Jadilah saya sering mengecek mesin fax menunggu kedatangan dokumen konfirmasi tersebut.

Akhirnya, dokumen yang saya tunggu-tunggu itu masuk, tapi sayang, datanya tidak terbaca jelas karena kertas yang keluar adalah kertas bekas yang sudah terisi sepertiga bagiannya! Tidak bisa tidak saya kesal sekali. Dengan membawa ‘barang bukti’ dokumen tak terbaca itu, saya menemui pak OB (karena beliau yang bertugas memasang kertas di mesin fax, printer, dan sebagainya) di singgasananya.

Pak OB yang tengah asyik membaca koran tidak menyadari saya datang dengan kekesalan yang hampir meledak. Dengan menyabarkan diri saya mencoba mengingatkan beliau untuk tidak melakukan ‘kesalahan’ yang sama.

Saya : “Pak, lain kali cek yang betul saat meletakkan kertas di mesin fax yaa. Lihat nih, dokumen saya jadi tidak terbaca deh”

Pak OB : (Tanpa menoleh dan tetap membaca koran di depannya) “Makanya pake kertas baru aja mba Orin, kalo pake kertas bekas ya begitu deh.”

Saya : “(*&%!#%)**&&^%$#@%”

Tarik nafas panjang, mencoba untuk bersabar dan berbesar hati. Ingin bersikap tetap sopan tapi aktualnya lumayan sulit. Akhirnya saya juga ngeloyor pergi sambil berkata “Kalo masangnya betul yang ga akan salah, kan?”

Huuffttt… mengesalkan >_<

Saya tidak berharap beliau meminta maaf atau gimanaaa gituh, saya hanya ingin beliau menyadari ‘kekeliruan’nya, memperbaikinya (dengan mengecek kembali letak kertas di mesin fax), dan lebih berhati-hati lagi untuk selanjutnya sehingga tidak ada lagi dokumen yang tidak diterima dengan baik seperti dokumen saya itu. Tapi ternyata yang saya terima masih jauh panggang dari api (eh…bener ga seeeh peribahasanya?? :P).

Begitulah ujian kesabaran saya dari Pak OB hari ini. Dan masih harus kembali menelepon sang supplier untuk mengirim ulang dokumen. Semangaaaattt 😀

Leave a Reply

%d bloggers like this: