Rindrianie's Blog

12.11.10

Yup, hari ini Jum’at, tanggal 12 November di tahun 2010.

Seperti menghitung mundur, seperti tahun yang semakin habis, seperti usia yang semakin berkurang, seperti bumi yang semakin menua, seperti hidup yang semakin mendekati ‘hidup’ yang sebenarnya.

Kira-kira 2 tahun lalu, saya bermain ke Bandung menemui seorang sahabat semasa kuliah. Sesaat setelah kami bertemu, beliau mengajak saya ke suatu tempat, tempat yang beliau rahasiakan saat saya bertanya akan kemana kami pergi. Dan, ternyata beliau membawa saya ke sebuah pemakaman. Tanpa kecurigaan yang berarti, saya hanya terheran-heran sebentar, dan sesaat kemudian tanpa banyak cakap mengikuti sahabat saya ini berjalan dalam diam, sambil sesekali memotret sana sini, mengambil objek-objek gambar yang menarik minat saya.

Setelah beberapa lama, beliau berhenti di sebuah makam yang masih baru, dan berucap pelan “Ini makam papa.”

Deg, kamera saya hampir saja terlepas dari genggaman. Kaget bukan main. Menatap tak percaya ke makam di depan saya. Ada banyak bunga layu di atas tanah merahnya yang terlihat masih basah. Dalam diam sahabat saya ini berjongkok, mencoba mencari rumput liar yang belum ada, memindah-letakkan bunga-bunga layu itu, bibirnya berdesis lirih berdoa.

Lantas mengalirlah cerita itu, bahwa sang Ayah meninggal tanpa sakit di penjara, hanya sehari sebelum beliau dibebaskan, karena tuduhan padanya memang tidak terbukti dan beliau hanyalah korban dari sebuah fitnah yang kejam. Terbata dan pelan, sahabat saya bergumam -seolah pada dirinya sendiri- betapa beliau berharap bisa melakukan lebih banyak hal untuk dan dengan ayah tercintanya itu, lebih sering menelepon, lebih banyak berkunjung ke rumah, lebih ini lebih itu, lebih baik lebih segalanya.

Tapi selamanya detik yang telah berdetak tak mungkin kembali, seperti halnya waktu yang tak pernah bisa diputar ulang. Hidup akan selalu maju (atau mundur?), maju, maju dan maju hingga waktu dihentikan -entah kapan dan dimana- oleh Beliau Sang Maha Segala.

Entah kenapa saya teringat hal ini saat menuliskan tanggal di sebuah PO yang saya buat beberapa menit yang lalu.

12.11.10

9.8.7.6.5.4.3.2.1. … persis seperti meng-count down detik-detik menjelang pergantian tahun.

Jika pesta hingar bingar tahun baru itu selalu meriah dan megah, mungkinkah count down  menjelang berakhirnya hidup kita bisa kita ‘raya’kan dengan bahagia sukacita?

Bukankah kematian adalah gerbang awal pertemuan kita dengan Tuhan? Bukankah kematian adalah garis start atas kehidupan abadi yang sebenarnya?

Hmm… serius sekali tulisan kali ini 🙂

Semoga kita -saya- ‘siap’ saat kematian itu menghampiri. Amin ya robbal’alamin.

Leave a Reply

%d bloggers like this: