Rindrianie's Blog

-4- Diandra Swastika

Cerita sebelumnya di sini.

***

Untunglah toko buku ini tidak terlalu ramai, aku bisa melamun, yeah berpikir mungkin lebih tepat, atas selembar foto yang baru saja aku temukan di laci meja kerja Ayah semalam. Ujung foto itu sedikit menyembul dari agenda kerja Ayah yang terletak di meja saat aku mengambil kunci mobil yang dimintanya. Tidak biasanya aku penasaran seperti itu, tapi sepertinya selalu ada yang pertama kali dalam segala hal.

“Tyo, kamu ngga ada latihan sore ini ‘kan?” Bunda yang sudah berdiri di depanku membuyarkan lamunanku yang baru sekejap. Di keranjangnya sudah ada beberapa buku dan majalah.

“Ngga ada Bun. Hari ini libur karena besok kami sudah harus ke Bandung.”

“Pertandingan lagi?” Aku hanya mengangguk. “Kapan kamu berhenti main basket dan mulai belajar menggantikan ayahmu?”

“Bunda ‘kan tahu Tyo tidak suka bekerja kantoran seperti Ayah, Tyo tidak mau jadi pengusaha Bun.” Bunda menatapku beberapa detik, lantas kembali berjalan menjauh, mencari buku-buku lain yang diinginkannya tanpa menanggapi pernyataanku. Aku tahu aku mungkin telah mengecewakan Bunda, dan juga Ayah, tapi aku pun berhak memiliki keinginanku sendiri, bukan?

Kembali ke foto itu, rasanya tidak mungkin aku bertanya pada Bunda siapa wanita yang terekam dalam gambar. Dari kertasnya yang sudah mulai menguning, wanita muda yang ada di sana pasti seusia Bunda sekarang. Wanita itu -menurutku- tidak secantik Bunda, tapi juga sangat manis, tipe wanita mungil yang seolah tercipta untuk dilindungi pria-nya. Diandra Swastika. Begitu sebaris nama tertulis di sudut bawah kanan foto.

Ada sesuatu -entah matanya yang sayu, atau hidung mungilnya yang mancung, atau rambut ikalnya yang legam- dari foto Diandra Swastika yang mengingatkanku pada seseorang. Seolah aku pernah melihatnya entah di mana, atau bahkan mengenal wanita itu secara dekat. Tapi siapa ya?

“Kamu ngga beli buku?” Lagi-lagi Bunda sudah ada di dekatku. Aku hanya menggeleng. Lantas kami berdiri mengantri di kasir. “Kamu kapan ngenalin Bunda sama pacar barumu?”

“Delia?”

“Iya, dia yang kemarin menjemputmu di bandara waktu pulang dari Surabaya ‘kan?” Aku mengangguk, seketika teringat gadis periang bermata bening itu.

“Dia manggil Tyo dengan sebutan mas Ghani, Bun.” Ucapku seraya tersenyum.

“Mas Ghani?” Bunda tertawa. “Bunda jadi tidak sabar bertemu dengannya.”

“Iya, nanti Tyo ajak ke rumah sepulang dari Bandung ya Bun.” Aku senang Bunda sepertinya menyukai Delia. Sepertinya gadis itu memang berhasil memenangkan hatiku juga, akhir-akhir ini aku mulai bisa melupakan Seruni.

Seruni… Sebentar, sepertinya kini aku tahu Diandra Swastika itu mengingatkanku pada siapa.

“Bun…” Bunda yang sudah membayar belanjaannya masih melihat-lihat rak ‘buku best seller’ dekat pintu keluar.

“Hmmm…” Aku tidak yakin tindakanku ini benar atau tidak, tapi rasa penasaranku menang.

“Bunda tahu siapa Diandra Swastika?”

“Dari mana kamu tahu nama itu, Tyo?” Suara Bunda yang menaik beberapa oktaf membuatku sadar pertanyaanku seharusnya tidak pernah diajukan. Matanya berkilat marah, tapi wajahnya sedikit pucat. Rasanya tidak pernah aku melihat Bunda seperti itu.

“Err… itu, Tyo… ” Aku berpikir cepat, sepertinya mengatakan pada Bunda bagaimana aku ahu nama itu bisa lebih membahayakan lagi.

“Dengar Tyo. Wanita itu adalah wanita penggoda yang nyaris membuat keluarga kita hancur,” Bunda berkata pelan dengan penuh tekanan, “Ayahmu diam-diam menikahinya padahal saat itu Bunda sedang mangandungmu.” Aku tidak mempercayai yang aku dengar. “Tapi semuanya baik-baik saja sekarang Tyo. Kita baik-baik saja.” Suara Bunda kembali normal, bahkan dia tersenyum.

Ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan pada Bunda, tapi aku sungguh tidak siap akan jawabannya kelak. Apakah… apakah… “Bunda harap kita tidak perlu bertemu dengan adik perempuanmu itu selamanya.”

Apa??

Bersambung…

Note : 558

***

Hedeeeehhhh….sepertinya terlalu banyak konflik ya hahahaha 😛

Setting-nya yang kali ini menyulitkan,  masih ada kah pria dewasa yang pergi ke toko buku dengan ibunya??? Judulnya juga ajaib pisan, dipaksa-paksain lah ya, semoga masih bisa dinikmati he he

Eniwey, happy weekend, Pals 😉

0 Comments

  1. Evi

    Ah jangan2 seruni adiknya Tyo…Ayoh deh berbelok lebih banyak, lebih seru Teh..:)
    ___
    hihihi…seru ya Tan bolak belok, kyk telenovela 😀

    Reply
  2. yustha tt

    Sudah semakin terbuka kok Teh misterinya. Asiiik… Enak deh mbaca rapel 4 gini. Penasarannya langsung kejawab. Hihi… Tp yg ke-4 ini jd penasaran juga kelanjutannya 🙂
    ___
    Aku terliminasi Tt chaaaan, ga ada kelanjutannya hihihihi

    Reply
  3. danirachmat

    Baguuusss…….
    Tapi mbayangin tadi adegan waktu si Bunda denger nama Diandra Swastika muka si Bunda zoomin-zoomout trus ganti-ganti sama mukanya Tyo ama Bunda. *sinetron abweess*
    Iyah Riiin, ditwist lagiii duoong… sama seperti rikwesnya Mba Evi….
    Hihihi..
    Aseli bagus buanget. 😀
    ___
    Eyampun, kek sinetronnya Ram Punjabi gitu ya Dan? hahahaha

    Reply
    1. tunsa

      hahaha… korban sinetron ya mas.. 😀

      Reply
  4. tunsa

    Lnjutkan mbak… aku lbh suka mbak bercerita dari sudut pandang wanita, hihi.. entahlah..
    ___
    hahaha….emang kenapa Ri? 😀

    Reply
  5. ~Amela~

    lanjut teh.. lanjut.. *gelar tiker*
    ___
    *sodorin teh manis sama gorengan*

    Reply
  6. Ikakoentjoro

    Waaah, jadi penasaran kelanjutannya 🙂
    ___
    Terima kasih sudah baca ya^^

    Reply
  7. mechtadeera

    eng ing eng…. kalau ini sinetron..maka adengannya berakhir dengan meng-close-up wajah Tyo / Bram / Ghani itu… *kebawa Dani ngebayangin sinetron,,hehe..*
    ___
    Ish…auntie jg sama aja neh 😛

    Reply
  8. ayankmira

    Aku salut sama orin yang jago dalam membuat cerita. jujur aja, aku sendiri sudah mencoba beberapa kali, tapi akhirnya, mentok.
    ___
    Ah…aku juga seringnya mentok kok Mir..

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: