Rindrianie's Blog

Agree to Disagree

Pilihan agree to disagree rasanya sangat bijak daripada letih berdebat, iya nggak sih? 😀

Bukan, ini bukan masalah pilpress yang akan segera tiba itu manteman, walaupun tentu saja si aggre to disagree ini bisa saja diaplikasikan untuk hal tersebut. Kalau cebong dan kampret masing-masing tetap keukeuh merekalah yang paling baik yasudahlah ya biarkan saja, biarkan saja cebong tetap menjadi cebong sedemikian juga kampret yang memilih tetap menjadi kampret, apa pun asal kau bahagia *apasih.

Jadi ceritanya kemarin ini saya sempat muntab, ‘cuma’ gara-gara hobi ngebolang saya rupanya dianggap sebagai sesuatu yang buang-buang duit. Lha … padahal kan ya emang buang-buang duit ya, terus ngapain marah, Rin? hahahaha.

Tapi setelah dipikirkan lebih tenang, sepertinya bukan hal sesepele itu yang membuat saya marah. Saya marah karena merasa pilihan saya tidak dihormati.

Begini, penting atau tidaknya sesuatu pasti berbeda bagi tiap orang, betul?

Bagi saya, tinggal di rumah satu lantai type 60/70 dengan halaman seuprit pun sudah cukup. Tapi bagi orang lain mungkin tidak. Mungkin definisi ‘cukup’-nya adalah rumah minimal 2 lantai, atau harus ada halaman luas tempat bercocok tanam, atau wajib rumah dengan kolam renang, atau apartement jenis studio yang super praktis.

Bagi saya, salah satu hiburan adalah membaca, sehingga membeli buku-buku baru adalah penting. Tapi bagi orang lain mungkin tidak. Mungkin lebih suka berkaraoke, sehingga penting untuk menjadi member di Inul Vista dengan bonus free karaoke 1-2 jam. Mungkin lebih suka bermain-main dengan si kucing peliharaan, sehingga rutin pergi ke dokter hewan bagi si kucing adalah penting. Mungkin lebih suka memotret, sehingga memiliki berbagai jenis lensa adalah penting.

Nah, sudah cukuplah ya contohnya :P. Bagi saya, ngebolang itu penting, dengan berbagai alasan yang jika saya uraikan satu per satu akan menjadi satu postingan tersendiri *halah, saya akan berupaya untuk bisa ngebolang dalam periode tertentu. Period.

Tapi rasanya saya tidak akan menghakimi mereka yang menjadi member tempat karaoke sebagai buang-buang uang sekadar untuk bernyanyi, apalagi dengan tambahan kalimat pedas bin julid semacam “nyanyi mah di kamar mandi juga bisa, nggak usah buang-buang duit” lho.

Well, kalimat di atas sedikit beraroma julid sih sepertinya hahahaha. Maafkan.

Eniwey, balik lagi ke agree to disagree tadi, saya pernah sempat kaget saat tahu teman saya rupanya pengkoleksi tas branded yang (bagi saya) sangat mahal. Teman saya ini bukan sosialita atau apalah ya, lifestyle-nya juga ya biasa aja, mbak-mbak kantoran Sudirman gitu aja. Jadi si tas-tas mehong itu dibeli bukan karena dia kepengen pamer atau dianggap kaya atau apalah, literally karena dia memang suka tas bagus (beda dong pasti kualitasnya dengan yg KW-KWan :P), dan rela menabung beberapa lama untuk bisa memiliki tas yang diinginkannya.

Sederhananya, kalo saya dan teman saya sama-sama punya uang 3 juta misalnya, saya akan bersuka cita hunting tiket promo ke Jepang, sementara dia akan hunting harga promo tas Kate Spade atau Longchamp. Begitu.

Jadi sudahlah ya, kalau pilihan orang-orang itu berbeda yawda sih dihormati saja, nggak ngerugiin kita juga kan? hihihihi. Dan catatan buat saya sendiri, harus belajar berhenti mendengarkan omongan orang lain, lah ngapain juga saya sempat marah-marah untuk hal setidak penting itu ya? hahahaha *jitaksiOrin.

PS : visa Korea saya sudah diapproved! Yeaay, periode harap-harap cemas sudah berakhir he he.

 

 

 

 

4 Comments

  1. ameliatanti

    Jadi .. cuma segitu ngacapruknya

    Reply
  2. Kalinna

    sebuah seni untuk bersikap bodo amat ya kak wkwk

    Reply
  3. @nurulrahma

    Teh Oriiiinnn, aku lho nyasar di blog dikau yg blm TLD.
    Trus Alhamdulillah, bisa ketemu lagi di mariiii.

    Sering2lah ngacapruk gini yaaa, aku syukaaakkk

    Reply
    1. Orin (Post author)

      walaaahhh nyasar toh, alhamdulillah ditunjukkan ke jalan yg benar ya *halah

      hihihihi

      Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: