Rindrianie's Blog

Akankah Bisa Ngebolang Seperti Dulu?

Terakhir kali ngebolang sebelum pandemi menyerang adalah pergi ke…Jakarta! hahahaha. Bagi warga pinggiran seperti saya, menghabiskan waktu di ibukota pun tentu saja termasuk berwisata, mencoba menaiki MRT, mengunjungi Museum Nasional, hingga berjalan kaki di trotoar ibukota yang tidak bisa saya temui di Karawang sangatlah menyenangkan.

Perjalanan menghabiskan akhir pekan di Jakarta itu terjadi di awal Februari 2020, planning ngebolang saya setelahnya tentu saja dibatalkan dikarenakan Si Eceu Coronces yang telah berhasil memporakporandakan dunia persilatan *halah.

Menerapkan 3M dalam kehidupan sehari-hari selama ini memang sudah menjadi kebiasaan baru. Merasa panik kalau lupa memakai masker saat keluar rumah (meskipun hanya untuk membuang sampah), langsung mandi dan berganti pakaian saat pulang ke rumah, dan sebisa mungkin menjaga jarak dengan tidak berkerumun jika tidak terlalu perlu sudah dilakukan. Tapi tetap saja, ngebolang sebagai jalan ninja saya, sangat sangat sangat saya perlukan untuk mempertahankan kewarasan.

Beberapa kali kami (saya dan pak suami) memang nekat staycation tipis-tipis di hotel. Berbekal bismillah yang banyak dan menerapkan protokol kesehatan seketat mungkin, kami berhasil sedikit merilekskan hati. Atau saat Bapak dan Bapak mertua meninggal, ya terpaksa jugalah kami tetap mengadakan acara tahlilan meskipun wanti-wanti pada pak Ustadz dan para tamu agar tetap memakai masker dan menjaga jarak.

Rencana ngebolang terdekat berikutnya ada di bulan Februari 2021, saya sudah menyiapkan hati untuk tidak terlalu kecewa jika memang kondisi belum memungkinkan dan perjalanan itu lai-lai harus dibatalkan. Memang benar, sudah banyak yang bertraveling ria, sudah banyak keluar masuk kota, toh hanya tinggal rapid tes, toh kalau ndilalah ternyata kena tinggal isoman, yada yada dan sebagainya dan seterusnya.  Tapi tetap saja, memutuskan untuk ngebolang atau tidak masih membuat saya maju mundur untuk berangkat karena bukan saja kesehatan saya yang dipertaruhkan, tapi juga orang-orang di sekeliling kami.

Apalagi prosedur bepergian yang saat ini jadi tidak semudah sebelum pandemi terjadi. Kabar terbaru harus rapis tes antigen segala kalau bepergian dengan pesawat, bus atau kereta apa ke luar kota ya? Padahal kan sebisa mungkin tidak pergi ke rumah sakit atau klinik toh? Walaupun sekarang ini sudah canggih sih ya zamannya, bisa daftar dulu di halodoc misalnya, jadi tidak perlu mengantri lama di rumah sakit atau klinik saat harus terpaksa melakukan pemeriksaan medis. Atau bisa konsultasi dengan dokter langsung lewat chat, kita terlindungi karena tidak perlu ke rumah sakit tapi bisa tetap konsul, dokter juga tetap aman tapi tetap bisa memberikan pelayanan konsul. Win win solution yang menyenangkan bukan?

Nah, wacana vaksin corona yang kabarnya sudah dipesan dan siap diedarkan memang menjadi harapan yang menjanjikan. Tapi kok saya masih sanksi ya hahaha. Maksud saya nih, prioritasnya kan sudah jelas ya,

  • Tenaga kesehatan dan responden pertama (sekitar 5%)
  • Orang-orang yang memiliki riwayat penyakit tertentu sehingga berisiko tinggi mengalami infeksi covid-19 yang serius hingga kematian, dan orang dewasa yang tinggal di lingkungan padat (10%)
  • Pekerja di layanan jasa esensial yang memiliki risiko terpapar yang tinggi, dan orang-orang yang memiliki riwayat penyakit tertentu sehingga dapat mengalami infeksi covid-19 moderat (prosentasenya cukup tinggi, 35%)
  • Orang dewasa muda, anak-anak, dan pekerja layanan esensial dengan risiko paparan yang meningkat (40-45%)
  • Masyarakat Umum yang tersisa

Dari sekitar 269 juta jiwa penduduk Indonesia, saya masuk kelompok yang mana nih? Sepertinya perjalanan saya masih saaaaangat panjang untuk bisa divaksin nih hihihihi. Dan apakah setelah vaksin nanti, saya bisa ngebolang seperti dulu? Well, semoga saja ya.

 

 

Leave a Reply

%d bloggers like this: