Rindrianie's Blog

Aku Akan Menunggu

Aku mengerjap. Silau. Ruangan putih benderang yang terlampau luas ini membuatku segera tahu, aku sudah mati. Tapi, sejak kapan?

“Baru saja,” jawab sesosok makhluk putih yang berdiri di samping kananku, seolah menjawab pertanyaan yang aku yakin betul hanya berdengung di kepalaku. Pasti makhluk ini malaikat, gumamku sendiri.

“Bisa dibilang begitu,” katanya lagi seraya tersenyum, membuatku salah tingkah. Tentu saja, dia bisa tahu apa yang aku pikirkan. Aku tidak akan bisa menyembunyikan apapun darinya. Baiklah, aku akan berkata jujur dan berterus terang saja padanya.

“A-apakah kau yakin aku sudah harus betul-betul mati?” tanyaku kurang ajar. Makhluk itu, ralat, malaikat itu menatapku kaget.

“Kau tidak akan berada di sini dan bisa melihatku seperti ini jika belum benar-benar mati.” Sudah kuduga, pertanyaan kurang ajarku pasti membuatnya kesal. Atau, jika sesosok malaikat tidak bisa merasa kesal, malaikat di depanku ini sekarang terlihat sedikit tersinggung.

Aku berdeham, mencoba menenangkan diri. “Maksudku, a-aku sebetulnya tidak bermaksud untuk mati.”

“Kau ingat kan apa yang terakhir kali kau lakukan sebelum berada di sini?” tanyanya tak sabar. Aku mengangguk cepat.

Aku ingat betul apa yang kulakukan. Sebetulnya bukan sesuatu yang bisa aku banggakan, bukan tindakan heroik sama sekali. Aku hanya meminum semua pil dan tablet dan kapsul dan obat sirup yang ada di kotak obat. Awalnya ingin kuminum juga betadine dan boorwater dan minyak telon yang ada di sana, tapi urung karena kepalaku terlanjur pusing. Itu saja. Aku tidak menyangka hal sesederhana itu bisa mengantarkanku menuju kematian.

“Obat-obatan itu memang belum membunuhmu. Kau juga terjatuh dari tangga karena kepalamu yang terlanjur pusing itu. Begitu sampai di bawah, otakmu mengalami pendarahan karena selain terjatuh juga membentur guci keramik besar yang akhirnya hancur berkeping. Tapi terlepas dari semua penyebab yang memungkinkan kematianmu, memang sudah ditentukan hidupmu berakhir saat itu, kau tak bisa berlari atau bersembunyi.”

Aku mengangguk cepat, lantas tertunduk, malu. Tapi malaikat itu rupanya belum selesai, “Dan tidak perlu protes segala!”

Ah, kepalaku semakin dalam tertunduk. Padahal aku tidak bermaksud protes, hanya bertanya. Aku tahu kok, aku sendiri yang salah, bermain-main dengan kehidupan hanya karena aku merasa kehidupan telah sering mempermainkanku lebih dulu. Aku hanya ingin perhatian orang tuaku kembali tertuju pada diriku, anak semata wayang yang dulu pernah menjadi gadis kecil kesayangan mereka. Aku hanya ingin rumah kami damai dan bahagia seperti sebelumnya. Aku hanya ingin keluargaku baik-baik saja.

Sepertinya aku terlalu kecil untuk berharap bisa melakukan sesuatu untuk mengubah keadaan itu. Toh hingga detik ini pun aku tidak mengerti apa masalah kedua orang tuaku, apa penyebab pertengkaran-pertengkaran di antara mereka, menjadi orang dewasa seperti mereka rupanya jauh lebih sulit daripada menyelesaikan persamaan integral. Mungkin seharusnya aku hanya perlu menangis keras-keras seperti remaja lainnya. Atau kabur dari rumah menginap di rumah teman berhari-hari. Atau bolos sekolah dan bermain di jalanan. Atau apalah. Tapi bukan meminum banyak obat yang berujung pada kematian semacam ini.

Aku menghela napas panjang. Penyesalanku tidak berguna lagi. Aku terlanjur mati.

“Maaf…” kataku akhirnya, lirih, nyaris tak terdengar telingaku sendiri, bahkan tak lagi berani menatap sesosok putih di samping kananku itu. Permintaan maafku itu pun rasanya tidak tepat jika aku tujukan pada Sang Malaikat. Ah, entahlah. Aku mencoba berhenti berpikir. Aku harus bisa menerima keadaan, bahwa ruang putih luas tanpa dinding inilah rumahku sekarang.

“Aku bisa membawamu turun sebentar kalau kau mau.”

“Eh?” Aku mendongak, dan sang malaikat tengah tersenyum padaku, lantas mengangguk.

“Kedua orang tuamu mengerti pesan yang ingin kau sampaikan.”

“Benarkah?” Aku sumringah. Membayangkan Ayah yang akan pulang lebih cepat, tanpa bau alkohol di pakaiannya, dan tersenyum lebar merentangkan tangannya menunggu untuk kupeluk seperti saat aku kecil dulu, lantas mengecup kening Ibu malu-malu. Membayangkan Ibu dengan apron putih yang bersenandung ceria di dapur, mencipta masakan dan kue yang membuatku mendeguk ludah, tidak lagi melempar piring dan mengirim caci dan berteriak murka pada Ayah.

Benarkah kehidupan bahagia itu akan kembali lagi di rumahku?

Entah bagaimana, aku tidak lagi berada di ruangan putih luas tak berdinding itu. Aku berada di kamarku, keadaannya masih persis seperti yang kuingat. Berantakan sepert biasanya. Dan di sana, di ambang pintu, kulihat Ayah dan Ibu yang saling menggenggam tangan, memandang kamarku dengan senyum samar di bibir, juga isak tertahan dan air mata yang mengaliri pipi.

“Aku minta maaf, Mas.”

“Tidak, aku yang minta maaf, Dik.”

“…”

“…”

Aku tidak bisa lagi menangkap obrolan Ayah dan Ibu, tapi aku tahu, keduanya akan kembali mencoba bergembira dalam kebahagiaan yang damai. Syukurlah, rencanaku berhasil. Tak ada kata terlambat bagi Ayah dan Ibu untuk memulai kembali saling menyayangi seperti dulu. Yahh…walaupun harus tanpa aku di sana.

Seandainya saja kematianku bisa…

“Tidak bisa. Kematianmu tidak bisa dibatalkan.” Ha ha, aku tersenyum masam pada Sang Malaikat di sampingku yang lagi-lagi memotong pikiran di kepalaku. Kami sudah kembali di ruangan putih luas tak berdinding ini lagi. Imaji Ayah dan Ibu di kamarku tadi sudah terpatri jelas di kepalaku. Ah, belum apa-apa aku sudah merindukan keduanya. Tapi tak apa, aku akan bersabar menunggu Ayah dan Ibu di surga.

***

Note: 801 kata. Ditulis khusus untuk GA-nya Bang Riga “AttarAndHisMind First Giveaway”

0 Comments

  1. bukanbocahbiasa

    Aku ngebayangin adegan pas Ladya Cherryl bunuh diri di pilem AADC mak

    Reply
    1. Ryan

      Ada Ladya Cherryl ya di AADC… gak ngeh. sebagai penggemarnya kok saya tidak tahu ya. Eh lupa, pas AADC belum jadi penggemar. hehe

      Reply
  2. Info Menarik

    aku akan menunggu sampai tetes darah penghabisan … 🙂
    salam kenal …

    Reply
  3. jampang

    mantap ceritanya, teh

    Reply
  4. desweet26

    ceritanya jelas dan enak banget dibacanya…ah maak Orin.. aku selalu kagum sama orang2 yang bisa bikin cerita fiksi kayak begini ;)))

    Reply
  5. mandor

    mbak orin, ceritanya keren banget. Sukaaaaaa

    Reply
  6. prih

    Khas Orin, cerita yang mengaduk hati pembaca, kereeen
    Salam

    Reply
  7. Vera

    Oriiiinn hebat ih ide2 nya….rajin nulis

    Reply
  8. senengutami

    selalu menunggumu Mbak Orin, jadi silent reader aja hehhe

    Reply
  9. chocoVanilla

    Aduuhh, ngenes yaa 🙁 hiks…

    Reply
  10. Ryan

    Mba Orin mah selalu gitu… 🙁

    Reply
  11. Pingback: Pengumuman Pemenang AttarAndHisMind First Giveaway | AttarAndHisMind

Leave a Reply

%d bloggers like this: