Rindrianie's Blog

Day#4 Aku Maunya Kamu. Titik!

3 tahun yang lalu

“Tinggalkan wanita miskin itu, atau Papa coret kamu dari daftar waris!”

“Aku memilih Laras, Pa.” Jawabmu mantap. Sementara aku tertunduk tanpa daya di antara mereka. Menjadi si wanita miskin  membuatku seolah sedang berakting sinetron besutan Ram Pundjabi. Jangan begitu Mas, Mas ngga boleh melawan orang tua seperti itu, bisikku dalam hati.

“Aku maunya kamu. Titik!” Ujarmu cepat padaku. Dan membawaku pergi dari rumah istana itu.

2 tahun yang lalu

“Hai istriku.” Sapamu merdu sembari membelai rambutku. Aku terlalu bahagia untuk mengatakan apapun.

“Seandainya saja Papa dan Mama juga hadir di pernikahan kita tadi ya.” Ucapmu lagi, membuatku semakin membisu. Bahagiaku berubah menjadi sebuah rasa yang tak mampu aku namai apa.

“Tapi tak mengapa. Kamu ada di sisiku, dan itu sudah lebih dari cukup.” Aku semakin kehilangan kata.

“Karena, aku maunya kamu. Titik” katamu lagi sebelum mengecup bibirku.

1 tahun yang lalu

“Apa yang terjadi dengan istri saya Dokter?” Kudengar panikmu samar.

“Istri Anda korban tabrak lari Pak. Gegar otak cukup parah. Kami akan berusaha sebaik mungkin.”

“Lakukan semua yang terbaik untuk dia Dok. Saya mohon.” Aku tak pernah mendengarmu mengiba seperti itu.

Tapi tidak ada satupun usaha terbaik yang bisa membuatku membaik sejak saat itu.

6 bulan yang lalu

“Laras..”entah kapan kau datang, atau kau memang tak pernah beranjak dari sana? Aku tidak tahu lagi.

“Ras…kapan kau pulang? Aku mau kamu selalu di sisiku, seperti seharusnya.” Betapa aku ingin memelukmu erat. Pergilah mas, teriakku dalam sunyi, carilah wanita lain, tinggalkan aku.

“Pak Bimo, keadaan istri Bapak masih belum menunjukkan kemajuan…” Jelas seorang dokter yang tiba-tiba saja sudah ada di samping suamiku.

“Dia akan tetap di sini, sampai dia sembuh Dokter.” Katamu cepat. Membuat dokter itu pergi dalam diam.

3 bulan yang lalu

“Kamu kualat Bimo, ini akibat kamu ga nurutin papamu. Lihat istrimu yang bagai mayat hidup itu.” Mamamu datang. Suamiku terluka. Betapa aku ingin bisa memelukmu, atau sekedar menggenggam tanganmu. Mungkin? Mamamu pergi tanpa kata.

Tadi dia benar mas, kataku, aku adalah mayat hidup. Lepaskan saja semua selang dan peralatan ini, lanjutkanlah hidupmu tanpaku mas.

“Tidak Laras,” seolah bisa mengerti aku mas Bimo menjawab, “Aku maunya kamu. Titik”

1 Bulan yang lalu

“Maaf Pak Bimo, ini daftar biaya perawatan Bu Laras, jika Bapak belum bisa membayar hingga minggu depan, Rumah Sakit tidak bisa lagi membantu Pak.” Seorang suster menghampiri mas Bimo-ku yang tengah menatapku.

Kamu hanya menerima kertas-kertas itu dan kembali membelai tanganku.

1 hari yang lalu

“Maafkan aku Laras..” Katamu pedih. Betapa aku ingin memelukmu. Aku mengerti mas, ikhlaskanlah aku, biarkan dokter-dokter itu membebaskan aku.

“Seandainya aku tak perlu melakukan ini, Ras,” Tangismu mulai menggema pilu, “Aku maunya kamu. Titik” Aku tahu mas, aku tahu, jawabku lebih pilu. Tapi terkadang tak semua hal bisa kau kendalikan bukan?

Hari ini

Kau berdiri di sana setelah memelukku, lama. Mematung sendiri dalam diam, sunyi. Baju putihmu membuatmu terlihat tampan, seperti biasanya. Aku tunggu kau di surga ya mas? Pamitku kelu.


Note : 483 kata

0 Comments

  1. Cahya

    Segera menyusul :).

    Reply
  2. Ahmad Alkadri

    Wow… :O *acung jempol* *Like this*

    Reply
  3. nique

    keren!!!
    Oriiin ….. jempol euy
    aduh, saya bahkan blom dapat ide x ini hiks

    Reply
  4. yustha tt

    apa sebut2 namaku??
    #sorry belum sempat baca…lagi hayaku ngerjain ppt nih… 😀

    Hahahahah…. nanti dpt royalti deh 😛

    Reply
    1. yustha tt

      udah baca…
      Lah..akhirnya Titik meninggal ya?

      “Laras, Tik..Laras….!! Bukan Titik!!” kata Orin
      “Aku maunya Titik. Titik!” 😀

      Reply
  5. prih

    Orin…. terus berkarya ya, suka kelincahan bahasa, kedalaman makna akan arti kesetiaan pilihan. Salam

    Reply
  6. arman

    ah tragis…

    jadi namanya laras atau titik? hehee becanada… 😀

    Reply
  7. Lidya

    orin tambah cihuy aja nih 🙂 aku maunya kamu hihihi

    Reply
  8. jiahaljafara

    hiks hiks….
    jadi deg degan sendiri mb’ Orinn

    Reply
  9. Lidya

    orin makin cihuy 🙂

    Reply
  10. Mabruri Sirampog

    uuuhh, kereenn pisaann…

    singkat2 kalimatnya, namun mak jlebbhh..

    Reply
  11. Rachma Lestari

    Hatiku bergetar baca ini.. T-T
    *bukan gombal*
    Keren ! :3

    Reply
  12. Melissa

    Aduh merinding bacanya 🙁

    Reply
  13. Mechta

    wow! semua jempol utk yg ini, Rin! tambah OK dari hari ke hari ya…

    Reply
  14. Agung Rangga

    hiks, cinta tak direstui dan… endingnya bikin terharu teh… 😥

    Reply
  15. riez

    terlalu pilu jika jadi kenyataan

    Reply
  16. ~Amela~

    Seperti biasa bagus teh.
    Tapi sudut pandangnya gak k0nsisten teh, bim0 kadang dipanggil ‘mu’ kadang dipanggil ‘nya’
    jadi ngerasa ad 2 orang yang brbeda

    Orin : Ameeelll…tengkyu kritikannya, ini aseli ga dibaca lg lgsg publish, emang ga konsisten ya *dasarpenulislabil* qiqiqi, udh aku edit hohoho… tengkyu ya Neng 😉

    Reply
  17. kakaakin

    Pasien koma itu memang masih bisa mendengar. Dulu saat aku masih mahasiswa, selalu diingatkan untuk tidak berbicara macam2 pada orang yang sedang koma. Karena telinganya masih berfungsi 🙂

    Reply
  18. della

    Orin, tega banget kamu pagi-pagi bikin aku mewek di kantor. Malu tauuuuuuuuuuu..

    Orin : hahaha…Bubil nangis… bubil nangiiiis qiqiqiqi

    Reply
  19. Mak Cebong 2

    keren…makin keren aja nech Orin…dah jago bikin cerpen yg bagus seperti ini…kalo dah jadi buku minta satu yach hehehe….

    Reply
  20. gie

    merinding bacanya, MANTAB

    Reply
  21. fanny

    wah kok mati sih si laras. serem amat.

    Reply
  22. Dee Ayu

    *rembes* hikss… kenapa ga happy ending??? T_T
    ceritanya baguss…

    Reply
  23. Lyliana Thia

    aiih Orin kenapa endingnya sedih siiiih? *protes*

    sampe deg2an bacanya… ^_^

    Reply
  24. titi esti

    Neng orin punya gawe apalagi neeh? lama gak blogging disuguhin cerita super pendek yg mengaduk aduk perasaan (aku baru baca dua judul)

    Reply
  25. mylitleusagi

    waww..
    endinya selalu gak ketebak ye
    lanjut cyin

    Reply
  26. rizalean

    termenung lama ketika ceritanya berakhir.
    sepertinya hati kecilku tak ingin endingnya begitu 🙂

    Reply
  27. Pingback: Si Odol Masochist « Rindrianie's Blog

Leave a Reply

%d bloggers like this: