Rindrianie's Blog

Alika

Kebebasan selalu layak dirayakan. Maka selepas keluar penjara, yang diinginkan ialah mengunjungi kedai kopi ini. Kebahagiaan akan semakin lengkap bila dinikmati dengan secangkir kopi. Hanya di kedai kopi ini ia bisa menikmati kopi terbaik yang disajikan dengan cara yang paling baik.

Walaupun sesaat tadi ia sebetulnya sempat ragu, atau malu, atau mungkin campuran di antara keduanya. Penyebabnya tak lain tak bukan adalah seorang jelita bernama Alika. Dulu sekali ia pernah berpikir, alangkah miripnya nama itu dengan ‘torabika’ atau ‘jamaika’, seolah Alika memang diciptakan Tuhan bagi lelaki pencinta kopi seperti dirinya.

Kenapa ragu? Karena ia menghabiskan nyaris lima tahun terakhir di balik jeruji besi. Dalam waktu yang sama, seorang bayi merah yang hanya bisa berteriak-menangis-berliur, bisa dipastikan sudah mahir berlari, bahkan mungkin memanjat lemari. Atau dalam kasus si jelita Alika, gadis itu tak lagi bekerja di kedai kopi yang sama dan entah berada di mana.

Malu, karena jika ternyata Alika masih ada di sana dan kemudian menyiapkan secangkir kopi pesanannya, bagaimanakah ia mesti bersikap? Akankah Alika masih mengingat ia, seperti ia yang tak pernah bisa melupakannya?

“Mau pesan apa, mas?”

Anggodo. Bukan Alika. Alika tentunya tidak mungkin bertransformasi menjadi pemuda kurus bernama Anggodo yang kini tengah tersenyum menunggunya memesan.

Ia menatap Anggodo, ingin bertanya kenalkah pemuda itu dengan seorang pelayan seperti dirinya, gadis jelita bernama Alika? Ia mungkin akan juga menjelaskan, jika Anggodo masih belum paham, bahwa lima tahun lalu ia membela Alika, dari seorang lelaki yang hendak merusaknya (sayang, lelaki berengsek itu terlampau cepat mati, hingga ia terpaksa harus dipenjara karena di tangannya nyawa lelaki itu hilang). Tapi kemudian ia merasa Anggodo tidaklah mengenal Alika.

Secangkir latte akhirnya Anggodo antarkan ke mejanya. Ia masih belum bertanya perihal Alika, pun tidak melihat gadis itu di mana pun di kedai kopi yang tak seberapa luas ini. Mungkin gadis itu telah pergi, pindah ke luar kota, menikah dengan bule lantas tinggal di luar negeri, atau bisa saja mati terpendam di dalam bumi.

Blah.

Ia menyesap kopinya perlahan, membiarkan cairan hitam itu melaju menuju lambungnya yang selama ini hanya dikunjungi kopi instan sachetan. Dan mempertanyakan kembali, kenapa dia berani (atau nekat?) membela gadis yang nyaris tak dikenalnya itu, sehingga merelakan lima tahun hidup pada gadis yang bahkan tak sekali pun menemuinya di penjara. Tapi ia merasa itu bukanlah salah Alika sepenuhnya, karena gadis itu memang tak pernah mengenalnya, atau ….

“Yang kau bunuh itu kekasihku.” Seorang perempuan gempal menarik kursi di depannya, duduk dalam amarah dendam yang tak ditutup-tutupi. Membuatnya diam, menunggu apa yang akan dikatakan perempuan gempal selanjutnya.

“Aku tahu, dia bukan lelaki baik, binatang pun tidak akan menggagahi anak gadisnya sendiri seperti itu.”

Oh? Ia baru tahu lelaki berengsek itu ayah Alika. Dan apa yang dilakukan perempuan gempal ini pada gadis itu?

Seolah menjawab pertanyaan yang baru hadir di kepalanya, perempuan gempal itu berkata, “Maaf, jika kau mencari Alika, dia sudah tak ada di bumi ini, karena sebab-sebab yang tidak bisa aku ceritakan padamu.”

Ia ditinggalkan sendiri, bersama cangkir kopi yang hampir kandas, dan cintanya pada Alika yang telah terhempas.

**

497 kata, untuk prompt #104: Kopi dan Cinta yang Tak Pernah Mati

PS : Udah lama ga nulis, aneh banget ya bhuahahahaha *ngumpet*

4 Comments

  1. Arman

    Alika nya mati kali ya?

    Reply
  2. chocoVanilla

    Oriin, paragraf terakhir ada “katanya” dan “ujarnya” dalam satu kalimat :mrgreen:

    Reply
  3. Attar Arya

    nggg….

    Reply
  4. Tri Widy Astuti

    alika…dimana dirimu? tuh dicariin 😉

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: