Rindrianie's Blog

Amerta

Namaku Amerta. Aku tidak tahu siapa atau kenapa aku dinamai demikian. Tapi nama itu lah yang semua orang serukan saat memanggilku, tanpa ada satu pun yang bertanya padaku, apakah aku menyukai nama itu atau tidak. Dan aku tidak pernah merasa namaku itu luar biasa, hingga saat aku bertemu dengannya. Dia, lelaki malaikat yang memberitahukanku tentang surga.

“Kau pernah berpikir tidak, kenapa Tuhan menciptakan Hawa?”

“Untuk menemani Adam di surga, bukan?”

“Hmm… Mungkin saja.”

“Mungkin saja? Menurutmu tidak begitu?”

“Menurutku sedikit berbeda.”

“Bagaimana?”

“Karena surga tak bermakna tanpa kehadiran Hawa.”

“Wow.”

“Iya, seperti aku yang tak ingin berada di surga, jika di sana tak ada dirimu.”

“Ah, itu gombal.”

“Terserah apa katamu. Tapi bagiku dirimu abadi.”

“Maksudnya?”

“Seperti arti namamu. Amerta.”

“Memangnya apa arti namaku?”

“Kau tak pernah tahu arti namamu?”

“Tak ada yang memberitahuku.”

“Dan kau tidak mencari tahu?”

“Untuk apa? Toh aku bukan siapa-siapa.”

“Hei, kau adalah segalanya bagiku.”

“Benarkah?”

“Ya. Amerta-ku. Amerta yang tidak dapat mati. Amerta yang abadi. Amerta yang tidak terlupakan.”

“Itukah arti namaku?”

“Benar sekali. Indah bukan?”

“Entahlah…”

“Kenapa? Kau tidak menyukainya?”

“Tapi untuk apa hidup selamanya? Kenapa harus tidak terlupakan? Bagaimana aku bisa menikmati hidup jika aku tidak bisa mati?”

“Ah…kau telah melupakan surga, rumah kelahiranmu. Tempat di mana semuanya tak pernah mati, abadi dan tak terlupakan.”

“Surga? Tempat yang sama saat Adam dan Hawa diciptakan itu?”

“Tempat semua berasal dan kembali.”

“Maukah kau mengajakku kesana?”

“Ke surga?”

“Iya.”

Lantas kau hanya tersenyum dan sesaat kemudian menghilang. Meninggalkanku yang tak dapat mati, abadi, dan tidak terlupakan. Untuk apa amerta-ku itu jika tanpamu?

Sekali lagi aku tatap dirimu yang kini hanyalah sebentuk abu pengisi botol kecil dalam genggamanku. Wahai lelakiku, izinkan aku menjadi debu sepertimu, dan segera kita akan berjumpa disana. Di surga. Tempat semua berasal dan kembali. Dan aku pun menari bersama api yang memelukku, hangat.

*Note : 301 kata

***

Cerita di atas hanya sekedar fiksi belaka. Ditulis dalam rangka meramaikan Kontes Flashfiction Ambrosia yang diselenggarakan Dunia Pagi dan Lulabi Penghitam Langit.

0 Comments

  1. Nchie

    Amerta nama temenku juga rin..
    d’Amerta nama komplek sebelah hhi..

    Ah..suksesnya ngontesna..

    Orin : oh? dijadiin nama komplek jg ya Teh? hihihihi

    Reply
  2. titi esti

    Hah ? tumben belum ada yg komen *celingak celinguk

    Reply
  3. titi esti

    Oriiin… ceritanya keren meluluuu…. jadi ngiri nih, kapan ya aku bisa bikin cerita keren kayak punya Orin

    Orin : eyampun, cerita geje begini Teh :p

    Reply
  4. jiahaljafara

    wah~
    mati, sdh jadi abuuuu 😀

    Orin : heuheu…begitulah Jiah 😀

    Reply
  5. Lidya

    ooh ini toh hasilnya, pantesan beberapa hari menghilang. keren

    Orin : Menghilang krn riweuh bin rusuh Teh, kalo bikin ini mah pas istirahat siang tadi doang 😀

    Reply
  6. yustha tt

    ikutan gk ya..ikutan gk ya….
    baca cerita temen2 udah keder mau ikutan..
    apalagi udah mau habis waktunya 😀 #alasan

    Orin : haiyaaa….kebanyakan alesan wew :p

    Reply
  7. kakaakin

    Ambrosia, amerta dan buah khuldi, ternyata sama2 berkaitan dengan keabadian ya…
    Baru ngeh setelah gugling 😀

    Orin : Aku dapet ide setelah tanya mbah gugel artinya amerta Ka hihihihi

    Reply
  8. Ngai

    ini Wow banget teteh..!

    tapi padahal Ngai pingin kenalan dulu sama si Amerta sebelum ia menari bersama api..

    Orin : Ah Ngai…ateu kan jd malyuuu *ngumpet*

    Reply
  9. anny

    Semakin menyastra tulisan Orin , keyennnn 😀
    Amerta, apakah dia amnesia?

    Orin : Hah? menyastra Teh??? *pengsan*

    Reply
  10. Akhmad Muhaimin Azzet

    Amerta, duh… indahnya.
    Cerita yang sangat bagus, Mbak Orin.

    Orin : terima kasih pak ustadz 😀

    Reply
  11. Tarry KittyHolic

    Semoga sukses…. ga bisa comment kalou ngomongin fiksi hikz

    Orin : no problemo Jeng, tengkyu lho udh mampir 😉

    Reply
  12. Mechta

    oo…klo amerta tak dapat mati, sedangkan anumerta utk yg udah mati…hehe..sory nglantur…
    fiksi yg (seperti biasa) kereennn… 🙂

    Orin : Aku jg baru ngeh Auntie hihihi…
    Aih….makaciiih *tersapu2*

    Reply
  13. angga SDP

    nma yg bgus

    Reply
  14. chocoVanilla

    Sipp, Orin. Selalu bagusss 🙂

    Reply
  15. ardiansyahpangodarwis

    wow
    keren sangat 🙂

    Reply
  16. masbro

    Dialognya oke, narasi penutupnya oke. Pasti yang nulis juga oke hehehe…

    Reply
  17. ^omman

    Orinn … makasih ya…gara2 baca postinganmu saya bisa ikutan juga kontes ~Amela … nicee 😛

    http://barangterlarang.wordpress.com/2012/02/14/kasih-sayang/

    Reply
  18. maminx

    kayaknya bagus punya anak dinamai amerta ya, hmmm 😀

    Reply
  19. tunsa

    amertaaaaaa… ajak aku ya jika kau kembali ke sana…

    Reply
  20. stupidlittlethinker

    Ah, si eneng..
    Emang “queen of drama” banget (eit, dalam artian positif ya…)

    kalo abis baca yang kayak gini suka mikir “hmmmmm….jadi?!… trus?!”
    😛

    Reply
  21. fanny

    aduh susah amat mau koment di sini. lemot sih inetku. hiks…padahal udah dua kali kemari. oke deh..oke…mau koment aja ; keren cerpennya. hehhee

    Reply
  22. outboundmalang

    amerta kyk nama kerajaan di dunia pewayangan ya…tp bgs kok nama itu….

    Reply
  23. ~Amela~

    teteh,, maaf baru sempet komen.. telah kucatat sebagai peserta.. thanks ya teh udah menyempatkan diri

    Reply
  24. Cahya

    Saya baru baca-baca ini lagi di blog Mbak Orin, oh ya “amerta” itu artinya “tanpa kematian” :).

    Orin : itu bahasa sansekerta ya Bli?

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: