Rindrianie's Blog

Anandhi

Siapa nih fans garis kerasnya sinetron India berjudul Anandhi ini? ­čśÇ

Sabtu lalu saya pulang ke Majalengka, dan tentu saja jadi terpaksa menonton tontonan di rumah ya :). Setelah malam minggu diisi dengan ikut menonton sinetron Dunia Terbalik sambil mengobrol, hari Minggu-nya, saya pun akhirnya menonton sinetron Anandhi yang fenomenal itu di episode ke-432-nya! Sepertinya Anandhi ini panjangnya akan mengungguli sinetron Tukang Bubur Naik Haji atau Tersanjung itu ya? hihihihi.

Mamah seperti biasa akan menjelaskan secara garis besar sang cerita itu berkisah seperti apa, secara singkat saya tahulah kalau Anandhi itu mengalami semacam ‘kawin gantung’ sejak kecil, tapi kemudian suaminya itu bukanlah lelaki yang dinikahkan dengannya pertama kali, dan kemudian si pemeran Anandhi ini diganti jadi tidak seberapa cantik hihihihi, yah random semacam demikianlah ya, apalagi kami pun sambil ngobrol ini itu ke sana kemari, tidak terlalu fokus menonton.

Tapi ada sebuah adegan yang kok menempel terus di kepala saya, hingga kemudian saya pun akhirnya merasa harus menuliskannya di sini (agar tidak terus-terusan ‘mengganggu’ kepala saya). Adegan itu adalah saat Anandhi berkunjung ke panti jompo. Di depan pagar, dia melihat seorang ibu tua yang kepanasan, konon katanya, dia sedang menunggu anaknya yang akan segera menjemput.

Bisa ditebak, sebetulnya ibu tua tersebut ‘dibuang’ oleh anaknya, para petugas panti sudah mafhum akan ‘modus’ semacam demikian, walaupun tentu saja ibu tua tersinggung dan tidak percaya anaknya demikian. Akhirnya Anandhi pun mengantar ibu tua ke hotel tempat dia dan anak-cucunya menginap sebelumnya, petugas hotel mengatakan anaknya tersebut sudah check out. Si anak pun tidak bisa lagi ditelepon, intinya menghilanglah ya, dan secara tidak langsung ibu tua pun sadar, kalau dirinya memang telah dengan sengaja ditinggalkan di depan panti jompo oleh anaknya sendiri.

Sedih? Iyalah ya, meskipun fenomena ini sudah banyak ditemui di kehidupan sehari-hari kita, ‘membuang’ orang tua ke panti jompo itu sangat tidak manusiawi, bahkan kalau bicara di koridor agama, tindakan tersebut sudah menjadi┬ásebuah dosa yang sangat besar.┬áTapi, bagaimana jika berada di panti jompo itu adalah keinginan dari sang ibu/bapak sendiri? Ada juga kan ya beberapa kasus yang demikian. Misalnya karena tidak ingin merepotkan anak cucu, atau lebih menyenangkan karena akan punya banyak teman, dan sebagainya dan seterusnya?

Itulah yang kemudian ‘mengganggu’ kepala saya. Bukannya sedang berputus asa, tapi setelah bertahun-tahun menikah, saya mulai berpikir┬áworst case scenario bahwa mungkin saja saya dan pak suami tidak dikaruniai anak. Dan saat melihat adegan dalam Anandhi di atas tadi, saya pun mulai berpikir, “Mungkin saat tua nanti, saya akan mendaftarkan diri saya sendiri ke sebuah panti jompo sehingga┬átidak perlu menjadi beban dan atau merepotkan adik atau keponakan atau sepupu atau orang lain.”

Saya termasuk yang tidak ingin membebani (calon) anak saya kelak untuk menjadikan urusan mengurusi saya saat tua sebagai kewajibannya sih. Maksud saya, toh si anak tidak pernah minta dilahirkan ke dunia kan ya? Lah terus kenapa jadi harus balas budi ke orang tua segala? Tapi sebagai seorang anak yang ingin berbakti, tanpa diharuskan pun saya ingin sekali membalas seluruh kebaikan yang saya terima dari kedua orang tua saya, tanpa ada paksaan dari pihak mana pun *halah. Jadi ya mungkin (MUNGKIN lho ya), kalau kelak anak saya (kalau saya punya anak tentunya) ingin membalas budi dengan mengurus saya saat tua ya Alhamdulillah, tapi kalaupun tidak (rasanya sih) tidak apa-apa :D.

Balik lagi ke pilihan tinggal di panti jompo, apakah yang saya pikirkan ini aneh? Ya, mungkin saja sih ya he he. Tapi menurut┬ásaya, ini cukup realistis sih, bagi mereka yang memang tidak diamanahi anak atau bahkan tidak menikah hingga usia senja, pilihan menghabiskan hidup di panti jompo terlihat sangat masuk akal. Kemungkinan-kemungkinan para sanak saudara yang dengan senang hati bersedia ‘menampung’ pun pasti ada tentu saja, tapi balik lagi (setidaknya bagi saya) hal tersebut akan sangat merepotkan dan justru membuat rasa┬ánggak enak hati.

Ah, tapi mungkin si ‘pemikiran aneh’ ini pun seharusnya tidak perlu dipikirkan segala ya, toh mungkin saja hidup saya tidak akan sampai di usia yang memungkinkan menjadi penghuni panti jompo kan ya? ­čśÇ

Sudahlah, maafkan postingan random hari ini ya, mungkin ini akibat saya sudah terlampau lama tidak menulis hihihihi.

 

1 Comment

  1. Arman

    gak aneh kok… emang banyak yang berpikiran seperti itu karena emang lebih praktis kalo udah tua ya tinggal di panti jompo. kadang orang suka mikir negatif sama panti jompo tapi sebenernya kan gak masalah ya. di sana malah bisa ketemu temen2 terus, ada perawat yang bisa selalu membantu dan monitor. anak cucu tetep bisa berkunjung. dan jadi gak ngerepotin orang…

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: