Rindrianie's Blog

Belajar Lagi

Ampuuun, literally dua minggu lebih ya blog ini lumutan ngumpet hihihihi. Tapi mudah-mudahan April ini saya lebih rajin sih, setelah kemarin-kemarin memang males ngeblog, setelah lama ditinggalkan ternyata kangen juga :P.

Eniwey, seperti yang saya singgung di postingan beberapa minggu lalu tentang belajar sesuatu yang baru, kemarin ini saya sengaja belajar dengan Sisternet. Kembali belajar tentang personal financial planner dengan Ligwina Hananto, dan travel writing dengan Amalla Vesta. Tapi bukan itu yang ingin saya ceritakan.

Pergi pulang Karawang-Jakarta-Karawang memang sedikit riskan, apalagi mengandalkan transportasi umum. Bus yang langsung dari Karawang menuju Jakarta masih sangat sedikit. Itu pun dengan tujuan yang pilihannya lebih sedikit lagi. Setahu saya, tujuannya cuma ke Tangjung Priuk, Kampung Rambutan, dan Bogor. Ada juga mobil elf yang berakhir di UKI. Tapi mostly, saya harus berganti bus di Jatibening karena bus atau elf itu tidak menuju arah destinasi saya di Jakarta.

Berangkatnya sih mudah ya, pulangnya nih yang riweuh, apalagi kalau selepas maghrib, apalagi kalau hujan. Beuuuh, pedih sodara-sodara hihihihi. Tapi pan katanya hidup adalah perjuangan yes? tsaaah, jadi ya dinikmati saja. Dengan mensiasatinya pulang sesiang mungkin, agar setidaknya saya tidak terlalu lama menunggu bus/mobil omprengan dari Jatibening. Maka kemarin ini, sekitar pukul 5 begitu acara dinyatakan selesai, saya langsung cus kabur, bahkan tidak berhaha hihi lagi dengan teman-teman.

Saya yang buta arah dan tukang nyasar, terbengong-bengong di depan Hotel 101 Dharmawangsa tempat acara berlangsung. Paginya, saya tiba di sana menumpang metromini 610 dari Blok M, turun di perempatan dan tinggal jalan kaki sedikit ke hotel. Tapi setelah saya perhatikan, itu adalah jalan satu arah, si metromini berputar ke kanan (dan entah menuju ke mana), dan saya tidak melihat (di jalur jalan lain) si metromini yang mengarah ke Blok M melintas. Padahal kalau ngintip google maps itu deket banget kan ya ke terminal.

Aplikasi gojek saya entah kenapa error (mungkin karena belum terupdate akibat jarang dipakai), bajaj pun kebanyakan sudah berisi penumpang, dan ojek pangkalan tidak terlihat di mana pun. Cihuy banget deh ya itu mah :P.

Nah, ‘pelajaran’ yang saya dapat hari itu berasal dari seorang mbak-mbak naik motor tanpa helm yang sedang berhenti sebentar untuk menyebrang. Karena lalu lintas sedang ramai dan Si Mbak berhenti dekat sekali dengan tempat saya berdiri, bertanyalah saya padanya kalau mau ke blok M saya harus naik apa?

Si Mbak pun dengan semangatnya menjelaskan, bahwa si metromini 610 itu memang akan lewat situ, tapi biasanya lama. Dan menyarankan saya ke taman, yang dari situ saya tinggal nyebrang saja menuju terminal. Tapi bagaimana saya bisa dengan cepat adalah persoalan lain, yang menurutnya kalau naik bajaj akan berputar-putar.

Singkat cerita, entah karena melihat tampang bingung saya yang menyedihkan atau sebab lain, terjadilah dialog berikut:

“Yuk, Mbak, saya anterin aja.”

“Hah? Dianterin gimana, Mbak?”

“Iya, saya anterin, tapi cuma ke taman ya.”

“Emangnya Mbak mau ke arah sana?”

“Nggak, saya mau ke … (lupa saya dia menyebutkan apa), tapi nggak apa-apa deket kok.”

“Serius, Mbak? Nggak usahlah saya nanti nunggu bajaj aja.”

“Ah, muter-muter nanti mbak kalo bajaj. Udah saya anterin aja.”

“Ngga usah, ngerepotin.”

“Udah, nggak apa-apa.”

Maka begitulah, daripada ‘berantem’ di pinggir jalan melawan seseorang yang ingin melakukan kebaikan, saya dibonceng mbak-mbak baik hati yang (sayangnya) tak berhelm, dari jalan Dharmawangsa ke taman di sebrang terminal blok M yang sebetulnya memang tidak jauh tapi kalau jalan kaki ya gempor juga.

Sampai di ‘taman’ yang dia maksud, dia lagi-lagi menunjukkan (sampai turun sebentar dari motor), jalan mana yang harus saya ambil. Sangat detail, dengan wejangan ini itu jangan belok sini nanti menuju ke situ. Meskipun akan terdengar lebay, saya benar-benar merasa terharu. Sehingga saya hanya bisa mengusap punggung si mbak, berterima kasih dan mengucap sebait doa semoga kebaikannya dibalas berkali-kali lipat. Tidak, saya tidak menawarkan sejumlah uang padanya, karena -entah bagaimana- saya yakin si mbak tulus melakukannya, dan tawaran saya hanya akan berpotensi membuatnya tersinggung.

Mungkin sepele ya, tapi Mbak baik hati itu telah mengajari saya, untuk tetap peduli dan melakukan kebaikan meski pada orang asing. Jujur deh, seberapa sering kita curiga duluan jika ada orang asing yang bertanya alamat atau semacamnya? Saya sih seringnya parno duluan lho. Iya sih, memang sudah terbukti banyak modus tindak kriminal atau penipuan dengan cara yang sama, sehingga kita juga harus berhati-hati.

Tapi Mbak baik hati itu tidak mencurigai saya sama sekali, dia tidak melihat saya sebagai seseorang yang berbahaya, bahkan dia menawarkan kebaikan yang sedikit pun tidak pernah terpikirkan oleh saya. Subhanalloh..

Saat saya mengetikkan postingan ini, masih tergambar dengan jelas Mbak sang penolong itu, berkemeja pink dengan motif bunga-bunga kecil berwarna, rambutnya yang panjang masih basah setelah keramas, wajah bulatnya dibedaki yang terlihat terlampau putih bagi kulitnya yang sedikit gelap. Tidak, saya tidak mengingat merek atau nomor plat motor matic hitamnya, tapi saya ingat betul dia membantu membetulkan foot step saat saya naik di boncengannya.

Dan sekali lagi, saya ingin mengiriminya sebait doa, semoga kebaikan yang dilakukannya pada saya tercatat sebagai sebuah amal yang akan menjadi bekal baginya menuju surga. Aamiin.

10 Comments

  1. rahmattrans

    Gegara banyaknya berita2 kriminal di negeri kita, jadinya kadang was was juga. Tp TOP deh untuk ibu itu, mbak.. tulus banget kayaknya… hehe 😀

    Reply
    1. Orin (Post author)

      iya, jadi curigaan mulu bawaannya..

      Reply
  2. echaimutenan

    kadang banyak orang baik yang tidak kita sangka-sangka ^^

    Reply
    1. Orin (Post author)

      bener bgt Cha, ternyata masih banyak orang baik ya 🙂

      Reply
  3. Arman

    Waduh bener bener perjuangan ya rin Hehe untung ada yg baik nolongin ya…

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Iya mas, itu udah ditolongin cepet pulang tetep aja nyampe rumah jam 9^^

      Reply
  4. Monda

    alhamdulillah Rin…, masih banyak kok orang baik di Jakarta ini
    bunda dan seorang ibu lainnya pernah diajakin bareng2 naik taxi dari Tanah Abang sampai Jatibening, dibayarin pulak.., gara2 kami nunggu bis di tempat sama, bisnya nggak datang2 udah satu jam

    Reply
  5. eda

    aamiin… masih banyak orang baik di dunia ini mba 😀

    Reply
  6. dewi octalia gurning

    Senengnya masih ada (banyak) orang baik, di dunia ini,,,

    Reply
  7. liaharahap

    Perjalanan panjang ya, Mbak untuk pulang aja. Kemarin pun aku juga begitu.

    Tapi berani juga ya, Mbak. Gak takut dibawa kabur sama si mbak pakai baju pink hehehe. Atau memang kelihatan sekali ya ketulusannya. Jadi gak ada perasaan curiga sama sekali. Syukurlah bisa pulang dengan bantuan orang yg baik hati 🙂

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: