Rindrianie's Blog

[Berani Cerita #06] Bebas

Seandainya saja bisa, Rino ingin terlahir dan menjadi seseorang yang bukan dirinya.

Tapi tentu saja, dia hanyalah manusia yang tidak berhak memilih kehidupan. Tidak, dia tidak pernah menyalahkan kakek -yang tak pernah ditemuinya- yang dulu dituduh menjadi pembelot hingga pemerintah menembak mati beliau dengan jasad yang entah terkubur di mana. Dia pun tak pernah menyesal saat terpaksa menyandang gelar “keturunan tapol” yang selalu membuatnya berbeda. Dia hanya tidak mengerti kenapa dia menerima hukuman atas sesuatu yang tidak pernah dilakukannya.

Kesal dengan pemikirannya sendiri, Rino menendang sebutir kerikil kuat-kuat. Sesaat si kerikil melambung untuk kemudian terjatuh beberapa meter di depannya, membuat Rino berpikir dirinya sekilas mirip dengan si kerikil, tak bisa memiliki keinginan sendiri, selalu terlempar kemana pun kehidupan menendangnya tanpa bisa melawan.

Lantas Rino kembali melangkah dengan hati yang lebih siap, apapun yang akan terjadi, terjadilah. Toh seperti juga kerikil tadi, yang tetap ada walaupun selalu terinjak, Rino menolak untuk menyerah begitu saja. Bukan pertama kalinya dia menerima ancaman, semoga saja setelah dari rumah yang akan dikunjunginya ini, nyawanya masih melekat bersamanya.

Tak perlu waktu lama, Rino akhirnya sampai di rumah bergaya Jawa kuno yang cukup besar. Halamannya luas dengan beberapa pohon beringin. Tampaknya rumah ini adalah rumah turun-temurun.

Tok, tok! Rino mengetuk pintu.

Tak lama pintu dibuka. Rino terkejut melihat sosok yang berada di hadapannya.

“Ibu…” Detik berikutnya Rino memeluk wanita kurus di depannya itu sepenuh jiwa. Seolah tak ada lagi waktu yang tersisa bagi mereka berdua, Rino enggan melepaskan pelukannya. Jika bukan terpaksa, dia tidak mungkin meninggalkan wanita ini sendiri, tapi kebersamaan mereka akan selalu mengundang kecurigaan yang tak beralasan dari para aparat yang terlanjur keparat. Rino hanya ingin ibu -dan dirinya- selamat. Itu saja.

“Iya…ibu juga kangen, Rino.” seolah bisa membaca perasaan Rino, wanita kurus itu berkata. “Kamu menghilang terlalu lama. Kita berdua tersiksa terlalu lama. Ibu sudah tidak sanggup lagi, nak. Ibu sudah tua. Ibu ingin bebas.”

“Apa maksud Ibu?” Rino melepaskan pelukannya dan menatap sang Ibu gundah. Banyak cara yang sudah mereka coba lakukan untuk terlepas jerat dari dosa masa lalu yang pernah dilakukan kakek. Teringat ancaman yang diterimanya melalui SMS untuk datang ke rumah ini, jantung Rino mulai berdegup kencang, matanya waspada memperhatikan setiap sudut rumah, tangannya tak pernah lepas menggenggam jemari ibu.

“Tidak ada siapa-siapa di sini, nak.” Rino kembali menatap ibunya, mencoba mengerti apa yang sedang terjadi di sini. “SMS itu Ibu sendiri yang kirimkan. Maafkan ibu, ibu hanya…” Rino menggelengkan kepalanya berkali-kali, masih tidak mengerti apa maksud ibunya. Lantas memapah ibunya menuju kursi rotan yang lapuk termakan usia. Saat itulah dia melihat sebuah tabung kecil berisi pil-pil putih yang tinggal separuh.

“Bu…”

“Dulu ibu tidak ada di samping ayahmu saat dia tidak ada, nak.”

“Bu…Ibuuu.” Rino mulai panik, tidak tahu apa yang harus dilakukan saat sang ibu di pelukannya semakin terkulai. Pil itu? Jadi maksud Ibu?

“Ibu ingin mati di pelukanmu, Rino….”

“Ibuuuuuu.”

Note : 472 kata

Temans yang ingin ikutan ber-FF ria, sila main ke sini yaa 😉

0 Comments

  1. rinibee

    Waduh. Tragis sekali ini ceritanya.. 🙁
    ___
    heuheu….hari ini emang lg melow swallow nih mba Rin 🙂

    Reply
  2. nyonyasepatu

    duh sedih ya ceritanya 🙁
    ___
    cuma fiksi kooook hehehe

    Reply
  3. LJ

    hadehh, memang ada aja orang yang hidupnya dipersulit krn sesuatu hal yg tidak dilakukannya.

    semangat Rino..! Orin akan membuatmu ceria kembali..
    [Rino + Orin = saudara kembar]
    tunggu sekuelnya.. 😛
    ___
    Iya nih Mak, namanya mirip2 mulu, kmrn Ririn, skrg Rino *halah* hihihi.

    Reply
  4. Miss Rochma

    aku pernah tuh mbak denger cerita tentang tapol begitu. haduh, deg-degan deh..
    ___
    Iya, kesian ya Ri..

    Reply
  5. yuniarinukti

    Kok jadi seperti sinetron Mbak, mau mati pamitan dulu 😀

    Reply
  6. Lidya

    hiksss ibuuuuuu Rino berteriak gitu ya 🙂
    ___
    iya Teh, ceritanya Rino teriak hehe

    Reply
  7. Run_D

    ampun dah, mengharu biru 🙂
    ___
    Tengkyu ya

    Reply
  8. rina susanti

    jadi ingat buku AMBA yang baru beres saya baca…heheh
    ___
    Amba-ku msh disampul plastik nih Rin *nyengir*

    Reply
  9. danirachmat

    merinding Riiin. yaampuuunn…
    ___
    heuheuheu..thanks Dan 😉

    Reply
  10. penulisgoblok

    Tapi sekarang kan sudah dihapuskan sob tapol dan napol itu. Itu hanya berlaku saat rezim soeharto kan? kalau sekarang sudah penyamarataan. Nyatanya orang keturunan china sudah bebas melakukan apa saja.
    ___
    Syukurlah kalo sudah dihapuskan 🙂

    Reply
  11. dea

    waaaa cerita miris sekali 🙁
    ___
    cuma fiksi kok Dea 🙂

    Reply
  12. Mechta

    aih…. terharuuuu …hiks…
    Nah…aku baru tahu klo prompt (eh bener itu istilahnya ya?) nya tak harus ada di awal cerita,,, 🙂
    ___
    Gpp auntie, bebas diletakkan di mana aja, kecuali ada ketentuan harus di awal cerita 😀

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: