Rindrianie's Blog

[Berani Cerita #10] I Miss You

Ayah Liza keluar dari ruang kerjanya sambil mengacungkan sepucuk surat. “Liza,” katanya, “aku sedang mencarimu; masuklah ke ruang kerjaku.”

Liza mengikuti ayahnya memasuki ruang kerja, dan ia menduga bahwa apa yang akan disampaikan oleh ayahnya tentu berhubungan dengan surat yang dipegangnya. Mereka duduk berdua saling berhadapan. Liza menyusun kata-kata dalam kepalanya untuk memberikan penjelasan yang tepat. Tapi entah kenapa diam-diam dia merasa senang Ayahnya menemukan surat itu secepat ini. Semoga saja…

“Liza, apa ini maksudnya?”

It’s nothing.” jawab Liza hampir berbisik. Tiba-tiba dia menyesal telah menulis surat itu. Mungkin seharusnya dia bisa menunggu sedikit lebih lama. Mungkin nanti ayahnya akan kembali menjadi ayah yang dia kenal seperti sebelumnya.

“Berapa kali sudah aku katakan padamu, aku bekerja salah satunya  juga untukmu, buat biaya sekolahmu hingga universitas nanti, buat kehidupanmu, buat…”

I know,” potong Liza cepat, “aku cuma tidak mau Ayah terlalu capek bekerja. Kita sudah lama tidak pergi makan es krim bersama, nonton film di bioskop, atau main scrabble seperti yang biasa kita lakukan, Yah.”

Come on, kamu bukan gadis kecil lagi, Liza. Tolong mengerti bahwa semuanya telah berubah sejak…”

“Iya, semuanya berubah sejak Ibu meninggal, including you,” Liza mulai terisak, menatap Ayahnya beberapa detik dengan tatapan terluka, “hanya bekerja, bekerja, dan bekerja terus. Am I still your daughter, Dad?” tanya Liza untuk kemudian berlari keluar ruang kerja, meninggalkan sang ayah yang terkesiap tak siap.

Lelaki itu duduk, menenangkan diri. Pertanyaan Liza begitu menohok perasaannya, apakah putri kecilnya itu selama ini sudah merasa tidak diperlakukan sebagai seorang anak olehnya? Sepertinya dia memang terlalu lama ‘berlari’, menyembunyikan diri dari rasa berkabung yang berkepanjangan dengan bekerja, dan telah melupakan Liza yang masih membutuhkan dirinya. Aku harus kembali menjadi seorang ayah bagi Liza seperti dulu, janji lelaki itu pada dirinya sendiri.

Sekali lagi, lelaki itu membaca surat -sebetulnya cuma coretan singkat khas anak kecil- yang masih tergenggam tangannya, kini dengan senyuman di bibir.

Dear Daddy,

Stop working, please… and let’s have fun!

Because I miss you, Dad. A lot.

-Liza-

Note : 328 kata

Monggo, yang ingin ikutan bercerita sila cek di sini yaa 😉

PS : lagi-lagi tidak ada twist! Dan ternyata susah ya bikin cerita yg tokohnya orang ‘sono’ 😛

0 Comments

  1. titi esti

    singkat, padat dan berisi. *langsungmewek
    ___
    terpercaya ngga Teh? hihihihi

    Reply
  2. Zizy Damanik

    Duh… jadi ingat Vay yang juga sering bilang begitu…. dia rindu maminya main di rumah, tapi maminya kerja dan kerjaaaa terus… 🙁
    ___
    *pukpuk mba Zy* 🙁

    Reply
  3. junioranger

    tapi diawal bikin penasaran. itu surat apaan? isinya apaan? simplicity n nice story
    ___
    Tengkyu Jun^^

    Reply
  4. Lidya

    mudah-mudahan ayahnya sadar ya
    ___
    sepertinya sih udah mulai sadar Teh hehehe

    Reply
  5. riga

    anaknya bule, bapaknya pribumi. hehe
    ___
    bapaknya bule jg sih Riga, sek ta’ edit dikit biar dia ngomong londo jg qiqiqiqi

    Reply
  6. celoteh .:tt:.

    orang ‘sono’?
    maksudnya Liza-nya dah mati gitu kah?
    ___
    eh? bukaaann…maksutnyah orang bule Tt chan qiqiqiqi

    Reply
  7. ~Amela~

    aaak sedih..
    ___
    🙁

    Reply
  8. LJ

    gak ada twist, tapi tetap punya ‘sesuatu’

    #ayahnya Liza mirip akang Depp gak, Rin..? 😛
    ___
    Tetep sih Mak, akang Depp yg masih jadi juaranya 😛 hihihihi

    Reply
  9. myra anastasia

    mak jleb itu isi suratnya 😀

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: