Rindrianie's Blog

[Berani Cerita #11] Kembalinya Cincin Ibu

Mbak… cincin ibu hilang.” Si Menul langsung laporan begitu aku membuka pintu dan saling mengucap salam.

“Hah?”

“Semalam ibu simpan di laci nakas seperti biasa, tapi pagi-pagi udah enggak ada.”

“Yakin? Sudah dicari belum?”

“Sudah, malah jadinya Menul harus bantuin Ibu pindah-pindahin lemari dan tempat tidur, khawatir si cincin jatuh dan tergelincir masuk ke kolong.” Menul manyun, membuatku tergelak.

“Kok bisa ya? Paling juga Ibu lupa nyimpen, Nul”

“Ngga mbak. Kata Ibu cincinnya diambil tuyul.”

“Halah…” aku cepat mengesah, sebal karena ibu sepertinya selalu percaya yang ‘begituan’. Menul tahu aku tidak suka, dan langsung menyingkir melihat mukaku yang sudah berangsur kesal.

Tempo hari adikku itu panas, Ibu langsung berasumsi si Menul dicubit genderuwo. Aku masih belum nikah di usia hampir tiga puluh begini, Ibu bilang ada Jin yang suka sama aku. Lah sekarang cincin hilang biang keladinya si tuyul? Duh, Ibu nih. Aku gemas sendiri.

“Ibu tahu kamu nggak percaya, Nik. Tapi Ibu yakin ini pelakunya pasti tuyul.” Menul bersembunyi di belakang ibu, dasar pengadu! “Kemarin liontin Bu Broto juga hilang.” Aih…dasar ibu Broto, sebelas dua belas sama Ibu, “pokoknya cincin itu ngga boleh hilang, itu cincin mahar dari Bapakmu, Nik.” Aku mencoba sabar walaupun sudah sebal luar biasa, kalau aku ikut emosi, bisa-bisa ibu malah pergi ke dukun demi si cincin.

“Ibu sudah tanya Bapak?”

“Lah? Apa hubungannya sama Bapakmu? Justru Bapakmu jangan sampai tahu urusan ini. Nanti Ibu bisa diomelin”

“Menik pikir, mungkin Bapak tahu dimana cincin Ibu.”

 

“Ndak mungkin itu. Sudah, nanti sore kamu anter ibu ke Mbah Suryo ya, Nik.” Tuh kan?!

“Dicari dulu, Bu. Mungkin keselip.”

“Tadi udah dicari, Mbak. Menul juga bantuin Ibu cari. Mbah Suryo kan orang pinter, pasti bisa bantuin nangkep tuyul yang nyuri cincin Ibu, Mbak.” Aku langsung mendelik, membuat si Menul kembali ngumpet di belakang Ibu. Apa-apaan sih anak kecil itu? Malah sepakat sama Ibu.

“Assalamu’alaikum.” Bapak pulang, kalau Ibu didukung Menul, aku yakin Bapak pasti sependapat denganku. Kami bertiga kompak menjawab salam Bapak. “Bu, nih Bapak kasih hadiah.” Bapak tersenyum seraya menyerahkan sebuah cepuk berwarna hitam.

“Apa ini, Pak?”

“Dibuka saja.” Aku dan Menul saling pandang, kami yakin isi cepuk itu cincin ibu yang hilang.

“Hoalaaahh… ini cincin Ibu. Ta’ pikir hilang, nggak tahunya Bapak yang ngambil toh?”

“Iya Bu, maaf. Tadinya Bapak mau beliin cincin baru yang lebih besar, ternyata uangnya belum cukup. Ya sudah Bapak belikan cepuknya saja dulu ya, besok-besok cincin barunya menyusul.” Ibu tertawa, Bapak juga tertawa, aku dan Menul ikut-ikutan tertawa.

Kali ini si tuyul terbebas dari segala tuduhan.

Note : 415 kata.

0 Comments

  1. LJ

    xixi iya juga, kasian si tuyul terus2an jadi tertuduh ya Rin.. 😀
    ___
    qiqiqiqi…iya Mak, kesian dia jd tertuduh mulu 😛

    Reply
  2. Syahru Al Banjari

    yaah kasihan tuyul belum beraksi udah kena tuduh ajee…

    Reply
  3. nyonyasepatu

    Udh lamaaaaaaaa bgt gak denger tuyul, cerita ah ke matt hihi

    Reply
  4. Ayu Citranigtias

    hoalah bapak ini ambil cincin gak bilang2..

    Reply
  5. saidah

    Ambil nafas lega tuh si Tuyul 😀

    Reply
  6. Mechta

    aah… untung aku blom jadi demo! *batin si Tuyul sambil ngeluyur pergi..* 😉

    Reply
  7. myra anastasia

    nyaris aja tuyul dijadiin kambing hitam :p

    Reply
  8. ~Amela~

    Ngalir banget ceritanya teh, jadi enak bacanya.

    Reply
  9. Wong Cilik

    ha.ha.ha. tuyulnya seneng donk ya, terbebas dari tuduhan …

    Reply
  10. Lidya

    Allhamdulillah gak jadi hilang 🙂

    Reply
  11. Miss Rochma

    si ibu pasti besok-besok masih percaya tuyul :p

    Reply
  12. prih

    Tuyul punya peran ganda jadi kambing hitam nih Neng Orin. Salam

    Reply
  13. riga

    *senyum kecil membacanya 🙂
    ___
    senyum kecil teringat tuyul bang? #eh? qiqiqiqi

    Reply
  14. Imelda

    Tuyulnya si bapak deh 😀

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: