Rindrianie's Blog

[Berani Cerita #28] Firasat

“Bagaimana Abangmu sekarang?” Bunda melepas pandangan dari jalanan.

“Baik saja. Tak apa-apa,” kubilang. Aku menarik napas, sambil terus melaju di jalan tol. Apa yang bakal terjadi ketika bunda berjumpa abangku nanti?

“Kenapa baru bilang sekarang?”

Kenapa tidak? Riuh hatiku menjawab. Toh seharusnya Bunda tidak perlu tahu hal ini. Atau, abangku itu sendiri yang memberitahu Bunda hal sepelik ini, ramai hatiku lagi berceloteh. Tapi bibirkuΒ tetap terkunci, membiarkan Bunda mendelik ke arahku karena tanyanya dianggap angin lalu.

“Beritahu Bunda kenapa abangmu sanggup melakukan hal semacam itu!” Emosi yang tertahan samar terdengar dari suara Bunda, dan aku bisa mengerti ketidakpercayaan Bunda, abang kembarku Banyu adalah lelaki baik-baik yang bahkan tak tega menginjak mati seekor kecoa, bagaimana mungkin kini di penjara karena konon membunuh manusia? Pasti Bunda berpikir demikian.

“Apa sebetulnya yang terjadi pada Abangmu, Bayu?” lagi, Bunda bertanya, melepas pandangan dari jalanan dan menatapku yang salah tingkah memegang kemudi. Bagaimana aku harus menjelaskan pada Bunda? Aku tidak pernah terlahir untuk bisa bersilat kata. Apalagi untuk mengatakan bahwa Banyu menerima hukuman karena kesalahan yang aku lakukan.

Lagipula abangku itu memang keterlaluan, selalu saja sok jadi pahlawan untuk menolongku, memegang pisau yang aku gunakan untuk membunuh lelaki perebut kekasihku, dan menyuruhku pergi untuk membiarkan dirinya sendiri ditangkap Polisi.

Salah, aku yang keterlaluan, telah tega membiarkan dia diperlakukan demikian,

Ralat, yang keterlaluan adalah si lelaki bangsat yang berani-beraninya bercinta dengan Clara kekasihku.

Tidak, tidak, yang paling keterlaluan adalah Clara, wanita iblis yang ternyata berselingkuh dengan si lelaki bangsat di belakangku.

Aaaarrrghhh… Bagaimana aku harus mengurai semua itu pada Bunda?

“Abang tidak salah, Bunda.” jawabku akhirnya, berharap kalimat pendek itu cukup memuaskan Bunda, walaupun aku tahu pasti tidak demikian.

“Kenapa Bunda baru diberitahu sekarang?” Pertanyaan itu lagi. Bagaimana aku menjelaskan pada Bunda, bahwa abang memiliki firasat hidupnya tak lama lagi? Sehingga nekat memintaku membawa Bunda ke rumah tahanan untuk menemuinya sebelum semuanya tak mungkin lagi.

“Bayu!?” Bunda terdengar panik, tapi aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri bagaimana harus memberitahu Bunda tentang keberadaan Banyu di penjara. Detik berikutnya, aku hanya mendengar sebuah dentuman keras dari arah depan, tanganku terlepas dari kemudi seiring rasa sakit yang menjalar cepat di seluruh tubuh, panas yang sekaligus dingin menyapa.

Samar, tergambar Banyu di kepalaku yang sedang terduduk lemah seperti kesakitan di balik jeruji.

Sayup, kudengar suara Bunda yang memanggil lirih namaku.

Lantas semuanya gelap.

Note : 383 kata, sila klik bannernya untuk ikutan Berani Cerita yaa πŸ˜‰

0 Comments

  1. Arman

    lho jadi yang mati bukan abangnya ya?
    ___
    bukan mas hehehe

    Reply
  2. fannywa

    Yahh pengorbanan Banyu-nya sia-sia dong ya Mbak..
    ___
    Begitulah πŸ˜€

    Reply
  3. jampang

    tragis…. mungkin nasib orang kembar begitu kali yah…. mirip-mirip
    ___
    sepertinya begitu ya bang πŸ™‚

    Reply
  4. mama hilsya

    jadi gimana ini teh, maksudnya? … yg mati si tokoh aku ya?
    ___
    Iya Teeeeh, si ‘aku’nya yg mati πŸ˜›

    Reply
  5. herma1206

    Ternyata firasat banyu adlh untuk bayu adiknya..hiks..
    ___
    iyaaa πŸ™

    Reply
  6. latree

    nice.
    tapi to be honest. aku suka sebel ending tabrakan trus mati πŸ˜€
    ___
    ahahahaha…iya sih mbak, terlalu mainstream, tapi ga kepikiran cara matiin si aku coz dia lg di jalan tol *halah*

    Reply
  7. riga

    kan ceritanya cuma ‘gelap’, bisa aja cuma pingsan. Ayo Rin bikin sekuelnya… hehe *pembaca maksa
    ___
    Nah! bisa jadi open ending jg ternyata ya bang hihihihi

    Reply
  8. Miss Rochma

    yah, kok jadi gini endingnya mbak? setuju sama bang riga, bikin sekuelnya πŸ™‚
    ___
    Ish…kenapa pada request sekuel ini? qeqeqeqe πŸ˜›

    Reply
  9. D I J A

    kasihannyaaaa…..
    kok jadi mati semua gitu Tante…
    ___
    hihihi…cuma boongan kok Dija sayang^^

    Reply
  10. bintangtimur

    Weeeeits, lagi-lagi sad ending, Orin…kunaon?
    πŸ™
    ___
    heuheu…gpp Ibuuuu, nanti bikin yg happy ending deh ya πŸ˜‰

    Reply
  11. nyonyasepatu

    ambil tissue pas baca πŸ™
    ___
    Eh? emang sedih Non?

    Reply
  12. Lidya

    lagi musim cerita pembunuhan nih, eh itu mah di film indonesia premier hehehe. Orin apa kabar?
    ___
    Teh kemana ajaaa? sehat kan?

    Reply
  13. idana

    hiks…endingnya tragiss :((

    orange apa kabarr ??
    ___
    Hai Mbaaaaak *cipika cipiki kangen*

    Reply
  14. yuniarinukti

    Lantas?
    Mereka meninggal gitu?
    Oalah.. malah bukan Abangnya yang meninggal πŸ˜›
    ___
    bisa jadi begitu mbak, mungkin jg ngga meninggal sih *mbulet* hihihihi

    Reply
  15. eksak

    Hehe, kasus! Oh ya, BC gue dah gue remake, Rin! Gak sreg aja kalo ada Mimin yg gak mudeng! Coba elu cek lagi BC gue, kali aja skarang lebih memudengkan! Hehe..
    ___
    Siyap, nanti gw tengokin lg Sak πŸ˜‰

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: