Rindrianie's Blog

[Berani Cerita #36] Amba

Teriakan-teriakan penuh kemarahan itu masih terdengar jelas di benak. Panas menyergap dari segala arah, pengap yang menyesakkan, lengkap dengan lidah api yang meliuk menari seolah tertawa ada di mana-mana. Kekacauan yang terjadi saat itu seolah baru saja terjadi kemarin, tetap mengada di ingatan, selalu kembali walaupun telah dimintanya pergi berkali-kali.

Takut.

Tak berdaya.

Putus asa.

Bahkan Amba masih ingat betul, dia sempat meminta pada Tuhan, untuk mencabut nyawanya saja dengan segera, saat itu juga. Daripada dirinya harus tetap  hidup dengan sisa-sisa nestapa yang mungkin tak bisa hilang, selamanya. Entah apa salahnya hingga Tuhan tak mau mengabulkan pintanya. Apakah cuma karena dia masih terlalu muda untuk mati? Tapi setelah peristiwa itu, Amba tak lagi merasa benar-benar hidup.

Seperti ribuan orang lain yang hari-hari itu ketakutan, Amba harus tidak lagi punya masa lalu. Walaupun dia hanya berada di tempat dan waktu yang salah, tapi apa peduli orang-orang berhati iblis itu? Yang mereka tahu, Amba berada di toko kelontong yang bukan milik pribumi, maka mereka bisa melakukan apapun pada Amba, termasuk memperlakukannya bagai pelacur di jalanan.

Padahal Amba -seperti namanya- adalah orang Jawa.

Padahal warna kulitnya kecoklatan dan matanya nyaris bulat sempurna.

Padahal Tuhan Amba juga sama dengan nama Tuhan yang mereka teriakkan.

Padahal…

“Mbak Amba…” Amba menoleh pelan ke arah suara. Mita mendekatinya hati-hati, senyumnya ceria, seolah Amba adalah bocah kecil dan dia membawakannya seikat balon warna warni. “Ada yang ingin bertemu dengan mbak lho,” lanjutnya lagi, membimbing Amba untuk menoleh ke sebuah arah. Di sana, di sisi pintu yang setengah terbuka, seorang lelaki bermata cerlang tersenyum, menatap Amba dengan cinta.

Amba geming. Menatap lelaki itu sekejap, tapi tetap diam tanpa ekspresi. Lantas kembali memandang ke luar jendela, berkelana dalam dunianya sendiri, tanpa lelaki bermata cerlang yang tengah menatap dirinya.

“Suster, apakah Amba masih tidak mengenali saya?” berbisik, lelaki itu bertanya, pedih.  Dan Mita hanya mengangguk, ikut merasa sedih.

“Ikhlaskan saja, Pak. Setelah 15 tahun berlalu, mungkin Mbak Amba sudah tidak bisa kembali seperti sebelumnya.”

Lelaki itu mendengarkan tapi tidak menyimak, baginya Amba hanya sedang bepergian, dan dia akan tetap menunggunya pulang.

Note : 339 kata, yang ingin ikutan, sila klik bannernya yaa 😉

0 Comments

  1. jampang

    belum buat nih untu BC ini
    ___
    Ayo buang bang 😉

    Reply
  2. Chrismana"bee"

    Baguuussss
    ___
    Tengkyuuuuu

    Reply
  3. Lidya

    memang belum waktunya aja diambil ya

    Reply
  4. nurlailazahra

    duuh 15 th, lama juga ya, kasian …..

    Reply
  5. noichil

    Sukaaa

    Reply
  6. danirachmat

    Sedihnya Riiiin. Huhuhuhu… Aduuh ngebayangin Amba dan si lelaki.. huhuhu

    Reply
  7. titi esti

    Penantiannya juara, 15 tahun.

    Reply
  8. Arman

    ini tentang kerusuhan 2008 ya? traumatis ya..

    Reply
    1. Arman

      eh 1998 maksudnya 😛

      Reply
  9. niken kusumowardhani

    Reformasi? Ada banyak Amba-Amba yang lain.
    Nice Rin.

    Reply
  10. Baginda Ratu

    hiks, aku syediiihhh… 😥

    Reply
  11. riga

    menyentuh…. lebih-lebih membayangkan si lelaki yang setia 15 tahun menanti….

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: