Rindrianie's Blog

[Berani Cerita #38] Doa Pagi

“Kak, kok tumben kita ke pasar?”

Si Adik menatap hiruk pikuk di depannya. Penjual dan pembeli. Barang dagangan beraneka rupa. Keramaian yang berbeda. Dia belum terbiasa.

“Mengamen di lampu merah sekarang lebih sulit, Dik.”

“Iya juga sih, Kak.”

“Hari ini kita coba ngamen di pasar ya, Dik. Mudah-mudahan bisa lumayan hasilnya.”

“Kenapa orang-orang akhir-akhir ini enggan memberikan recehannya pada kita, Kak?”

“Mungkin, karena ada pengemis yang penghasilannya 25 juta sebulan, Dik.”

“25 juta itu segimana, Kak?”

Si Kakak tersenyum, menggelengkan kepala dan mengedikkan bahu, tidak tahu dan tidak bisa membayangkan uang sebanyak itu.

“Pokoknya banyak, Dik.”

“Terus?”

“Yaa… jadi orang-orang tidak mau lagi memberi kita recehan.”

“Karena menganggap pengemis sudah kaya?”

“Iya.”

“Tapi kan kita pengamen, Kak, bukan pengemis.”

“Iya, Dik. Tapi mungkin dianggap sama.”

“Kita juga betul-betul miskin, ngga punya orang tua, susah…”

“Sudah, Dik, tidak baik mengeluh begitu.”

Si adik terdiam, murung. Si Kakak tersenyum, pedih. Perlahan, diusapnya kepala sang adik dalam diam. Untuk beberapa saat, keduanya bergeming di pintu masuk pasar.

“Jadi sekarang kita ngamen di pasar nih, Kak?”

“Iya, Dik, itung-itung ganti suasana.”

Si Kakak tergelak, si Adik ikutan terbahak.

“Tapi Kak, yakin bisa dapet banyak?”

“Belum tahu, Dik. Tapi yang penting kita coba dulu.”

“Tapi sepertinya aku ngga kuat ngamen di pasar, Kak.”

Si Kakak menghentikan langkahnya, kembali pada si Adik yang tengah berdiri mematung di depan penjual martabak.

“Dik? Mau martabak?” tanya si Kakak pelan-pelan.

“Maaf ya, Kak, belum apa-apa sudah tergoda,” bisik si Adik samar, merasa bersalah.

Lantas keduanya cekikikan, menatap sang martabak hangat nan semerbak, untuk kemudian beranjak dari sana dengan kecrekan dan bungkus bekas permenΒ di tangan. Sebaris doa pagi teruntai ke langit, berharap di pasar ini bisa membuat mereka bertahan sehari lagi. Atau setidaknya, sang martabak hangat nan semerbak bisa terbeli siang nanti.

Note : 292 kata, sila klik bannernya untuk ikutan Berani Cerita yaa πŸ˜‰

0 Comments

  1. jampang

    sepertinya memang lebih susah kalau ngamen di pasar
    ___
    Iya ya Bang..

    Reply
  2. jampang

    sepertinya memang lebih susah kalau ngamen di pasar
    ___
    Iya ya Bang..

    Reply
  3. JNYnita

    πŸ™
    πŸ™

    Reply
  4. kakaakin

    Sini, Dik. Ntar kaka beliin πŸ˜€
    ___
    Asyiiiik :))

    Reply
  5. chiemayindah

    gara-gara pengemis, pengamen terkena imbasnya πŸ™
    ___
    Begitulah..

    Reply
  6. Lidya

    aku baru buat martabak telur nih Rin
    ___
    Aku tadi buat martabak tahu Teh hehehe

    Reply
  7. Lidya

    aku baru buat martabak telur nih Rin
    ___
    Aku tadi buat martabak tahu Teh hehehe

    Reply
  8. lazione budy

    tetep saja, stop beri uang ke pengamen/pengemis asongan.
    ___
    πŸ™‚

    Reply
  9. mamayara

    Aamiin buat martabaknya…

    Reply
  10. Titi esti

    jadi bukang “nggak tahan” secara fisik ya.. tapi karena di pasar banyak godaan

    Reply
  11. suci

    setidaknya pengamen lebih mau bekerja dari pada pengemis yang hanya menengadahkan tangannya saja… huft… kasihan.. :'(

    Reply
  12. abi_gilang

    Berarti mereka bukan cucunya “Haji Walang” :mrgreen:

    Reply
  13. lovelyristin

    Walo susah.. Tp tetap happy.. Bahagia itu memang simple aja yaa.. Kisah ini pasti byk di dunia nyata, jadi sedih bacanya πŸ™

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: