Rindrianie's Blog

Berkah Ramadhan

Sore itu di pelataran masjid.

“Kenapa, Kak? Kok sedih begitu? Tidak suka mengajariku membaca ya?”

“Tidak, Dik. Kakak malah senang kamu bisa membaca dengan cepat, kamu pintar, tidak seperti Kakak dulu.”

Si Adik sumringah, gembira dianggap pintar membaca. Si Kakak ikut tersenyum, senang sudah bisa mengajari adiknya membaca.

“Lantas? Kenapa Kakak terlihat sedih?” tanya si Adik lagi. Menutup buku lusuh yang sedang dipelajarinya.

Jeda yang senyap, si Kakak diam beberapa saat. Lantas mengajak adiknya mendekati jendela, mengintip ke dalam.

“Kakak ingin seperti mereka, Dik.”

Si Adik mengikuti arah pandang kakaknya, di dalam sana ada sekelompok anak-anak seusia mereka sedang membaca sebuah buku tebal yang berisi tulisan aneh, bukan seperti huruf-huruf yang sudah bisa dibacanya.

“Memangnya mereka lagi ngapain, Kak? Itu buku apa?”

Si Kakak tersenyum, lantas menunduk menatap rok kumalnya yang berdebu. Si Adik terdiam menunggu, tidak mengerti.

“Mereka sedang mengaji, Dik. Membaca Al Quran,” jawab si Kakak akhirnya.

Si Adik mengangguk-angguk, meskipun dia masih belum mengerti, apa istimewanya mengaji? Apa itu Al Quran? Tapi dia tak berani lagi bertanya, karena Kakaknya terlihat begitu sendu. Si Adik menatap anak-anak itu, yang berpeci dan berkerudung, yang berpakaian indah dan bersih, yang wajahnya gembira dan ceria. Alangkah bahagianya hidup mereka.

“Seandainya kita bisa belajar membacanya,” bisik si Kakak lirih, seperti berkata pada dirinya sendiri.

Sekali lagi jeda yang senyap menyapa. Kali ini si Kakak dan si Adik sama-sama menatap bisu anak-anak di dalam masjid. Hingga kemudian seorang perempuan berkerudung biru menyapa.

“Assalamu’alaikum, adik-adik,” katanya seraya tersenyum ramah. Si Kakak tergeragap menjawab salam itu, kaget bercampur takut, khawatir mereka diusir dari sana oleh sang Kakak berkerudung biru. Biasanya tak ada yang menyapa mereka, biasanya mereka dianggap seolah tak ada.

“Mau ikut belajar mengaji?” Ajakan sang Kakak berkerudung biru membuat si Kakak terkejut gembira, tidakkah telinganya salah mendengar?

“Bo…boleh, Kak?” tanyanya gugup, si Adik hanya ikut menatap Kakak berkerudung biru takjub.

“Tentu saja boleh,” jawab sang Kakak berkerudung biru, tetap tersenyum. “Tapi, kalian mandi dulu. Sini ikut Kakak,” ajaknya seraya menuju sebuah ruangan di belakang masjid. Di sana banyak kotak kardus yang rupanya berisi baju-baju bekas sumbangan dari warga. Si Adik tertawa lebar, dia tahu dia akan segera mendapatkan baju baru. Si Kakak terharu, karena sebentar lagi dia bisa belajar mengaji.

“Nah, ini baju bersih untuk kalian.” Kakak dan Adik menerimanya dengan suka cita. Padahal Lebaran masih lama, tapi mereka akan segera memakai baju baru!

“Setelah mandi, nanti kalian Kakak ajari  belajar membaca, Iqro dulu saja, kalau sudah lancar, nanti melanjutkan ke Al Quran,” jelasnya panjang lebar. “Seperti ini,” lanjutnya lagi seraya menunjukkan sebuah buku tebal yang tadi mereka lihat sedang dibaca anak-anak di dalam masjid. ‘Syaamil Quran’ demikian si Adik membaca huruf-huruf yang tercetak di depan buku tebal itu.

Keduanya mengangguk tanda mengerti, dan bersemangat berlarian kecil pergi ke kamar mandi, alangkah menyenangkannya bisa belajar mengaji.

“Alhamdulillah ya, Dik, berkah Ramadhan.”

“Iya, Kak. Tapi nanti bajunya jangan kita pakai untuk ngamen, sayang, nanti cepat kotor.”

Si Kakak tertawa, si Adik ikut terbahak. Sore itu menjingga lebih ceria untuk keduanya.

***

Note : 496 Kata, ditulis khusus untuk Lomba Menulis Cinta Al-Quran

0 Comments

  1. ysalma

    Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga belajar membaca Al-Quran-nya.
    Berkah Ramadhan semoga jg mengiringi yang posting dan yg membaca postingan ini. Aamiin.

    Reply
  2. jampang

    kisahnya mengahrukan, teh

    Reply
  3. bukanbocahbiasa

    Teh Orin, FF bikinan teh Orin selalu bikin hatiku gerimis, hiks. Sukses buat kontesnya teh. Aku juga ikut lho, hihihi…

    Reply
  4. dian_ryan

    terharu te bacanya 🙂

    Reply
  5. De

    selamat Ramadhan, neng Orin.

    smoga menang kontesnya.

    Reply
  6. prih

    Keping lain dari kisah ‘kakak beradik’
    Selamat dan sukses di lomba ini Neng Orin.
    Salam

    Reply
  7. Arman

    ikutan seneng jadinya 🙂

    Reply
  8. Lidya

    selalu ada berkah ramadhan

    Reply
  9. Lyliana Thia

    Ceritanya keren, Orin…
    Semoga Ramadhan ini membawa keberkahan utk qta jg, aamiin..
    Sukses kontesnya, Orin.. 🙂

    Reply
  10. Pingback: Lomba Menulis Cinta Al-Quran | Website Resmi Syaamil QuranWebsite Resmi Syaamil Quran

  11. Akhmad Muhaimin Azzet

    Alhamdulillaah…, ikut seneeeeeng membacanya, Mbak. Sungguh berkah Ramadhan. Semoga sukses ya, Mbak…

    Reply
  12. nhasalimah

    ahmdllh ceritanya bnyk ea senng

    Reply
  13. Attar Arya

    🙂

    Reply
  14. Tri Widy Astuti

    Ramadhan memang selalu membawa berkah untuk setiap orang…;)

    Reply
  15. Pingback: Pengumuman Pemenang Lomba Menulis Cinta Al-QuranWebsite Resmi Syaamil Quran

  16. bukanbocahbiasa

    Wow… menang, teh Oriiiin. Selamat yaa…

    Reply
    1. Orin (Post author)

      hehe…makasih Maaak, hadiahnya belom dateng tapi 😀

      Reply
      1. bukanbocahbiasa

        Ihiks. Ramadhannya udah kelar ajaa gitu hihihi.

        Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: