Rindrianie's Blog

Beruntung (?)

(Semacam) sekuel dari cerita sebelumnya.

***

“A..Ayah?!” Tergeragap aku menyapa. Aku seperti melihat hantu, karena sebenarnya memang demikianlah Ayah buatku saat ini. Orang yang sudah mati terkadang menjadi hantu, bukan?

“Maafkan aku belum mati, Nak,” katanya pelan. Menatapku beberapa detik tanpa berkedip.

Aku ternganga menatapnya. Hantu tak mungkin bisa bicara bahasa manusia. Iya, kan?”

“Kau terlalu kecil untuk bisa mengerti, Nak. Ah, hingga kelak kau dewasa pun rasanya kau tidak mampu untuk bisa paham apa yang sesungguhnya terjadi.”

Aku bergeming. Ayahku sepertinya bukan hantu, dia masih manusia betulan. Dan kini sedang bercerita, sebuah kisah yang katanya tidak mungkin aku mengerti. Dan sepertinya dia benar, aku tidak mengerti, sama sekali.

“Kami begitu dekat, aku bahagia bersamanya, dan aku tahu ibumu bahagia bersamaku,” katanya lagi seperti terisak. Nostalgia terkadang memang memilukan. Aku tahu kalau soal itu. Samar, aku melihat lelaki itu tersenyum.

Aku masih membisu. Rasanya memang aku tak perlu berkata-kata.

“Dan ya, seperti yang sudah kau tahu selanjutnya, kami jatuh cinta.”

Lantas?

“Tapi seharusnya itu tidak boleh. Seharusnya tidak pernah ada pernikahan. Seharusnya kamu tidak perlu ada.”

Aku menatap lelaki di depanku tak percaya. Aku meninggalkan perempuan -yang sudah tertutup kafan seluruhnya di depan kami- bertahun lalu karena membelanya. Bahkan untuk alasan absurd yang kini aku sesali aku sempat membencinya dan terlambat meminta maaf, itu semua karena aku pikir ibuku adalah perempuan iblis. Tapi apa yang dikatakan Ayahku barusan? Dan kenapa ceritanya berbeda dari kisah yang disampaikan Ibu Sadrah sehari sebelumnya padaku?

“Tentu saja ibumu akan selalu mengatakan hal-hal yang bukan sebenarnya, Nak. Dia selalu menjadi perempuan baik, terlalu baik.”

Baiklah, aku sungguh-sungguh tak mengerti.

“Itulah. Ayah tahu kau tak akan bisa mengerti, Nak.”

Aku masih diam. Menatap ibuku yang sudah resmi menjadi mayat, kemudian menatap ayahku yang ternyata tak lagi menjadi hantu.

“Untunglah kau tak punya saudara, Nak.”

Maksudnya?

“Sudah seharusnya kisah Ayah dan ibumu tak terulang lagi, tidak sepantasnya Ayah mencintai dan menikahi adik Ayah sendiri, Nak.”

Hah?

***

*Note : 313 kata, #FF2in1

Beruntung (?)

(Semacam) sekuel dari cerita sebelumnya.

***

“A..Ayah?!” Tergeragap aku menyapa. Aku seperti melihat hantu, karena sebenarnya memang demikianlah Ayah buatku saat ini. Orang yang sudah mati terkadang menjadi hantu, bukan?

“Maafkan aku belum mati, Nak,” katanya pelan. Menatapku beberapa detik tanpa berkedip.

Aku ternganga menatapnya. Hantu tak mungkin bisa bicara bahasa manusia. Iya, kan?”

“Kau terlalu kecil untuk bisa mengerti, Nak. Ah, hingga kelak kau dewasa pun rasanya kau tidak mampu untuk bisa paham apa yang sesungguhnya terjadi.”

Aku bergeming. Ayahku sepertinya bukan hantu, dia masih manusia betulan. Dan kini sedang bercerita, sebuah kisah yang katanya tidak mungkin aku mengerti. Dan sepertinya dia benar, aku tidak mengerti, sama sekali.

“Kami begitu dekat, aku bahagia bersamanya, dan aku tahu ibumu bahagia bersamaku,” katanya lagi seperti terisak. Nostalgia terkadang memang memilukan. Aku tahu kalau soal itu. Samar, aku melihat lelaki itu tersenyum.

Aku masih membisu. Rasanya memang aku tak perlu berkata-kata.

“Dan ya, seperti yang sudah kau tahu selanjutnya, kami jatuh cinta.”

Lantas?

“Tapi seharusnya itu tidak boleh. Seharusnya tidak pernah ada pernikahan. Seharusnya kamu tidak perlu ada.”

Aku menatap lelaki di depanku tak percaya. Aku meninggalkan perempuan -yang sudah tertutup kafan seluruhnya di depan kami- bertahun lalu karena membelanya. Bahkan untuk alasan absurd yang kini aku sesali aku sempat membencinya dan terlambat meminta maaf, itu semua karena aku pikir ibuku adalah perempuan iblis. Tapi apa yang dikatakan Ayahku barusan? Dan kenapa ceritanya berbeda dari kisah yang disampaikan Ibu Sadrah sehari sebelumnya padaku?

“Tentu saja ibumu akan selalu mengatakan hal-hal yang bukan sebenarnya, Nak. Dia selalu menjadi perempuan baik, terlalu baik.”

Baiklah, aku sungguh-sungguh tak mengerti.

“Itulah. Ayah tahu kau tak akan bisa mengerti, Nak.”

Aku masih diam. Menatap ibuku yang sudah resmi menjadi mayat, kemudian menatap ayahku yang ternyata tak lagi menjadi hantu.

“Untunglah kau tak punya saudara, Nak.”

Maksudnya?

“Sudah seharusnya kisah Ayah dan ibumu tak terulang lagi, tidak sepantasnya Ayah mencintai dan menikahi adik Ayah sendiri, Nak.”

Hah?

***

*Note : 313 kata, #FF2in1

0 Comments

  1. Pingback: Terlambat | Rindrianie's Blog

  2. junioranger

    Tuh kan jadi sequel nya 😉
    ___
    heuheu…iya Jun, emang niat dibikin sekuel 😀

    Reply
  3. Arman

    wuii inses…
    ___
    Iya mas hihihi

    Reply
  4. jampang

    waduh….. koq bisa?

    Reply
  5. missrochma

    weh, lanjutannya gimana, mbak? ditunggu..

    Reply
  6. Chrismana"bee"

    Waaawww….

    Reply
  7. Catatan Kecilku

    Penasaran dengan kelanjutannya…

    Reply
  8. Lidya

    bersambung ya

    Reply
  9. cow431

    sebelum baca yang sebelumnya, koment disini dulu ah, eh iya salam kenal dulu ya

    Reply
  10. dey

    Hmmm …. *mikir

    Reply
  11. abi_gilang

    Hadeuh ternyata cerita inses nih (maaf nulisnya gimana sih “inses”?)

    Reply
  12. prih

    Oriiin, selalu penuh kejutan.
    Salam

    Reply
  13. Lianny Hendrawati

    bersambung lagi nih ceritanya?

    Reply
  14. titi esti

    Trus apa dan bagaimana nasib si aku ?

    Reply
  15. Bibi Titi Teliti

    Whooaaaa…
    kalimat terakhirnya syereeeeem….

    Reply

Leave a Reply