Rindrianie's Blog

Bukan Cinta Biasa

“Apa? Kamu mecintainya? Apakah aku tidak salah dengar, Gus?”

“Bukankah cinta tak pernah salah?”

“Mungkin saja.”

“Lantas?”

“Tapi cintamu kali ini gila, Gus. Terlampau gila untuk seorang edan macam kamu sekalipun!”

Aku geming, menunduk menatap lantai di bawah kakiku yang gemetar keriput. Enggan menatap Pras yang tengah melotot, kedua matanya seolah hendak menyantapku sekali telan. Aku tidak bisa mengerti kenapa dia bisa semarah itu. Bukankah dirinya pun pernah jatuh cinta? Berkali-kali, bahkan. Lantas, apa salahnya jika aku jatuh cinta lagi kali ini?

“Sudahlah, lupakan saja dia. Masih ada Magda yang selalu mencuri pandang padamu saat kita makan.”

“Blah! Nenek tua mirip kuda nil itu? Tak sudi aku.”

“Atau si Nora? Kau tahu? Kemarin dulu dia bilang padaku kau mirip sekali dengan lelaki pacar pertamanya berpuluh tahun lalu.”

Aku menggeleng mantap. Nora bukan perempuan tipeku. Lagipula apa maksudnya menyamakanku dengan pacar petamanya begitu? Cih!

“Bagaimana kalau Wulan, Gus? Dia anggun sekali, kan? Mantan pemain film terkenal lho dia.”

Lagi, aku menggeleng.

“Kamu pasti menyukai Ibu Lena, Gus! Dan kalau kau jadi kekasihnya, bisa jadi kamu tidak perlu membayar hingga kamu mati di sini nanti.”

Aku mendelik tidak suka. Memangnya aku tidak mampu bayar sampai harus pacaran dengan pemilik panti segala?

“Percuma saja, Pras. Aku hanya mencintainya. Titik.”

“Tapi, Gus…”

“Sebentar lagi dia datang, Pras. Tidak mungkin setiap hari dia datang menemuiku jika tidak mencintaiku, bukan?”

Pras menggebrak meja lantas berdiri, “tambah tua tambah gila kamu, Gus!” katanya seraya melangkah pergi dengan marah.

Kuabaikan Pras yang masih saja meracau memakiku dengan kalimat-kalimat entah apa. Dia sudah datang. Gaun biru laut dengan bunga-bunga putih yang dikenakannya sore ini membuatnya semakin terlihat cantik. Senyum matahari paginya menghangatkan hatiku, membuatku sanggup segera berdiri untuk menyambutnya meskipun kaki gemetarku riuh mengutuk keinginanku. Cinta rupanya bisa membuatku melakukan hal-hal yang kupikir tak bisa lagi aku lakukan.

“Kakeeeeeeek, aku bawakan coklat kesukaan kakek,” ujarnya seraya memelukku.

“Terima kasih, Cu,” jawabku seraya balik memeluknya. Ingin sekali kucium bibir mungilnya yang merah merekah, tapi mungkin itu bisa membuatnya berhenti menemuiku lagi. Maka kukecup saja keningnya, aku bisa melakukan ciuman itu dalam mimpi nanti malam. Sore ini aku hanya akan menggenggam tangannya, membiarkannya menggelayuti lenganku manja, kemudian mendengarkan cerita-ceritanya, lantas mengelus rambut lembutnya. Seraya berharap gadis kecil di depanku ini bisa benar-benar jadi kekasihku.

Ah, sepertinya Pras memang benar. Aku sudah terlampau gila.

***

Note : 383 kata, untuk Monday Flash Fiction Prompt #68: Judul Lagu

Dikembangkan dari Fiksi mini Na Fatwaningrum : BUKAN CINTA BIASA. Hari ini, dia terlihat sangat cantik dengan baju bunga-bunga dan senyum di wajahnya. Hatiku berdesir hebat. “Kek, mau coklat dong,” katanya sambil menggelayut manja.

0 Comments

  1. Herien Kriestia

    kereenn mba orin ceritanya.. bener2 bukan cinta biasa #geleng2kepala hehe

    Reply
  2. dani

    Keren Rin. Gw jadi keinget buku Lolita. Huehehehe..

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Lolita? belom baca gw Dan, siapa yg nulis? kalo yg Ayu Utami itu Lalita, bukan?

      Reply
      1. sulunglahitani

        Lolita itu novel terkenal Mbak Orin. Novel luar. E tapi aku geli sendiri waktu si kakek membayangkan mau cium bibir cucunya. Bahaha…

        Reply
        1. Orin (Post author)

          Owh, novel luar ya Lung? aku kuper nih hihihihi

          Reply
  3. jampang

    mantap….!!!!

    Reply
  4. bukanbocahbiasa

    Oalaaaaahhh maaakk….hihih

    Reply
  5. Arman

    hiiiyyy serem…

    Reply
  6. dianryan

    ya ampun teh Orin, mantep banget deh, aku dari awal penasaran bukan cinta biasa apa sih ternyata oh ternyata…:D

    Reply
  7. sarah

    perempuan kecil itu siapanya si Kakek, Teh? cucu asli or hanya anak kecil yg dianggapnya cucu? ih meni geli pisan Teh, tapi mantap 😀

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Bebaaas, terserah Sarah aja pengennya gimana hehehehe

      Reply
  8. desweet26

    bener2 cerita yang ga biasa deh mak…
    kereen.. ;)))

    Reply
  9. Ryan

    memang bukan cinta biasa ya mba.

    Reply
  10. dey

    hihihi, Orinnnn …

    Reply
  11. Lidya

    ya ampuuuuuun orin 🙂

    Reply
  12. Akhmad Muhaimin Azzet

    membaca cerita yang dituliskan Mbak Orin, duh… terasa nyata sekali….
    Prass…

    Reply
  13. katacamar

    😀

    Reply
  14. GloryGrant

    aaa, keren banget mbak. kira-kira si kakek dan si cucu selisihnya berapa tahun ya? hehehe

    Reply
  15. prih

    Khas Orin tak terduga…kembara Orin tak kenal batas biasa.
    SEmakin kagum…..

    Reply
  16. chocoVanilla

    Aduuuhh…. celemmm…

    Reply
  17. Helda

    Mangap *lupa mingkem deh aku jadinya…

    Reply
  18. fatwaningrum

    Kalo dipikir2 lagi emang serem ya? *usep2 perut* *eh 😀

    Reply
  19. ajenangelinaa

    pedofilll.. dasar kakek gila :v

    bagus Mbak 🙂

    Reply
  20. Dila Miftah

    Huaah.. ngeri bener tuh si kakek. 😮

    Reply
  21. eksak

    Ini panti jompo apa panti jiwa, sih? Bhahaha

    Reply
  22. Attar Arya

    kakek….oooh kakek…

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: