Rindrianie's Blog

-1- (Bukan) Cinta Pertama

Senja. Pantai. Langit jingga. Matahari terbenam, Pasir putih. Ombak menawan. Bisikan Angin laut. Gemerisik daun kelapa. Romansa semesta.

Nyaris sempurna.

Tapi, seperti surga yang tak lengkap bagi Adam jika tanpa Hawa, maka aku tak pernah bisa menjadi diriku tanpa dirinya. Berlebihan memang, tapi…

“Indah ya…” Aku mengangguk tanpa menoleh, lamunanku seketika terhenti.  “Kenapa mas suka senja?” Suara itu kini terdengar lebih dekat, rupanya dia sudah duduk di dekatku. Harum parfumnya, yang entah bagaimana sering memabukkanku, menyapa cuping hidupku. Merusak aroma laut yang sedang aku nikmati. Tapi toh aku tidak keberatan, justru bersyukur atas geletar rasa yang datang saat tak sengaja lengannya menyentuh bahuku.

Yasmina Delia, begitu nama cantik wanita jelita di sisiku. Tapi dia bukan cinta pertamaku, bukan dia yang aku harapkan untuk menjadi ‘Hawa’ku di surga kelak, bukan dia yang ingin aku lihat setiap malam sebelum mataku terlelap, bukan dia yang…

“Kamu tidak suka senja, Del?” Aku memutus lamunanku sendiri dengan menjawab pertanyaan Delia dengan pertanyaan lain. Alasan utamaku menyukai senja sangatlah rumit, biarlah kusimpan sendiri.

“Suka kok.” Ujarnya cepat, ” Tapi aku lebih suka menatap mas Ghani menikmati senja seperti tadi.”

“Oh ya? Kenapa?”

“Karena… mmm… Aku tidak tahu,” ucap Delia pelan, seolah tak ingin aku mendengar suaranya. Aku menatapnya, mencoba menebak menduga apa yang dipikirkannya saat menatapku menikmati senja.

“Tidak tahu atau tidak ingin bilang?” Tanyaku lagi seraya mengedipkan mata. Delia tertawa. Lantas perlahan aku menggenggam tangannya. Dingin. Semoga aku bisa membuat tangan itu menghangat. Semoga tangan itu mampu membuat hatiku juga menghangat.

Tawa Delia selalu menghipnotisku. Membuatku terpaku pada pesona yang memancar dari dirinya. Berada di dekatnya selalu membuatku nyaman, untuk kemudian percaya bahwa -apapun yang terjadi- aku akan baik-baik saja. Tapi tetap saja, Delia bukanlah dia.

“Mas masih sering teringat dia, ya?”

“Hah?” percakapan yang mendadak berbelok tidak lebih mengejutkanku daripada pertanyaan Delia yang seolah bisa membaca pikiranku.

“Saat mas Ghani menikmati senja dalam kesendirian seperti tadi, aku pikir mas pasti teringat akan cinta pertama mas itu. Siapa namanya? Seruni ya?” Apa? bagaimana Delia tahu tentang Seruni? Apakah tanpa sengaja aku pernah bercerita padanya? Atau…

“A…aku…”

“Tentunya sulit sekali melupakan seseorang yang begitu dicintai sepenuh hati ya mas.” Lidahku membeku, kata-kata yang ingin aku ucapkan menguap entah kemana. “Aku bohong kalau aku bilang aku tahu bagaimana rasanya, karena nyatanya aku memang tidak tahu kan?” Delia menatapku, matanya yang bening seperti menelanjangiku yang terpana melihatnya menatapku.

“Maaf Del.. aku tidak bermaksud…”

“Iya, aku tahu mas. Aku juga tidak marah kok.” Dan justru itulah yang semakin membuatku merasa bersalah. Aku menggenggam tangan itu lebih erat. Delia mungkin tidak marah, tapi aku yakin dia pasti kecewa. Fakta ini membuat hatiku sakit.

“Apakah mas mencintaiku?”

“Tentu saja.” jawabku cepat.

Seandainya dia -Seruni maksudku- masih ada di sini, apakah aku bisa menjawab pertanyaan itu dengan cepat? Seandainya dia masih ada, apakah mungkin aku bisa mencintai seorang Delia?  Seandainya dia…

“”Aku tidak tahu apakah aku bisa lebih mencintai mas Ghani daripada Seruni mencintai mas,” Delia tersenyum menatapku, senyuman yang selalu berhasil membuat jantungku berdegup lebih kencang,  “Tapi yang jelas, aku ingin membuat mas Ghani bahagia.” Aku menatap Delia yang masih tersenyum menatapku, berpikir betapa bodohnya aku masih mengingat Seruni yang entah berada di pelukan pria mana saat ada Delia yang tetap setia mencintaiku.

“Terima kasih ya Del…” senja di hadapanku tetap indah, walaupun bukan cinta pertamaku yang sedang aku dekap.

Dan mungkin tidak perlu sempurna untuk bisa menikmati surga.

Bersambung…

Note : 567 kata


eeeaaa… kenapa tambah ancur gitu ya? mihihihihi. Tantangan khusus dari masmin @momo_DM untuk pasukan #15HariNgeblogFF yang jarang hapdet ngacung paling tinggi 😀

0 Comments

  1. Niar Ningrum

    Keren mbak orin, kalau niar jadi yasmine belum tentu bisa bilang gitu, kalau cowok napa kok rata2 masih menyimpan rasa cinta dan ndak bisa hilang cinta sama cewek dulu, padahal belum tentu yang cewek masih cinta ke cowok itu -,-‘

    Cerita ini berhasil mengombang ambing kan perasaan ku mbak, kerasa deh kalau gini tappi belum kayak si yasmine yang cantik 😀
    ___
    hahahaha… esmosi bgt nih keknya Niar hihihihi… Padahal Seruni-nya aku buat namanya ‘Ningrum’ aja ya tadi hihihihi
    Di kehidupan nyata aku pikir susah jg kek si tokoh di cerita ini Niar, jd gpp kalo ngga begitu *wink…wink…*

    Reply
    1. Niar Ningrum

      hahahha kalau niar mah belum tentu bisa kayak gitu, tapi ada ajah kok yang begitu, logis ajah 😀

      tapi yang bikin seru tuh gani buka mata ada cewek yang setia di sebelahnya knpa mikirin yang gag ada #begoo tu cowok :p
      ___
      hihihihi…mari timpukin Ghani rame2 Niar 😀

      Reply
  2. Batavusqu

    Salam Takzim
    terbelalak membacanya penuh kalimat sastra hingga harus bolak balik membacanya. kalau saja ini diikutkan dalam gaveway bertajuk cinta pasti akan menang, selamat sehat mbak orin
    Salam Takzim Batavusqu
    ___
    Hallo kang Isroooo…kangen deh sama salam takzimnya^^
    terima kasih apreasiasinya yaa…msh jauh deh dari kalimat sastra, msh belajar heuheuheu

    Reply
  3. ~Amela~

    bagus kok teh.. delia hebat banget bisa setulus itu mencintainya 😀
    ___
    Itu dia Mel makanya aku bilang ‘ancur’, coz ga logis heuheuheu

    Reply
  4. BunDit

    Kata-kata biasa selalu menjadi indah kalau dirangkai mbak Orin nih…. Bahasanya nyastra sekali hehehe
    ___
    nyastra?? duh…masa sih Bun? *bingung sendiri* hihihihi
    makasih ya mba Ririn apreasiasinya^^

    Reply
  5. Nchie Hanie

    Ahh Delia begitu tulus cintanya..
    Apakah lelki memang begitu ya, selalu menyimpan perasaan lebih pada mantannya?

    Oriin aku teerbawa dalm suasana cerita ini..
    Sanggupkah aku seperti delia..
    ___
    duh…duh…Teh Nchie senasib sm Niar nih ternyata ya hihihihi…

    Reply
  6. danirachmat

    Kasihan sama Delia. Si Masnya kok teganya-teganya-teganya *tolong hwntikan sayaahh*
    ___
    Oh? ternya si mas Ghani penyuka dangdut ya? #eh? hihihihi

    Reply
  7. LJ

    hadehh, mas ghani.. itu kan sudah surga di hadapanmu.. 😛

    #cerita ini logis kok Rin.. banyak orang yang begitu kan..? hehhe.. penuturannya lancar.. bagus!
    ___
    iya Mak, sepertinya banyak yg begitu ya, sedikit absurd kalo buatku Mak hihihihi

    Reply
  8. Ely Meyer

    kasihan sj sama Della
    ___
    Iya ya mba, kesian jg 😀

    Reply
  9. Arman

    aahhh kasian si delia…
    ___
    *pukpuk Delia* 😀

    Reply
  10. Lidya

    wah masih ada bayang-bayang seruni, kasihan delia atuh
    ___
    Karunya nya Teh 😀

    Reply
  11. hilsya

    oriiiin… damang? cipika..cipiki
    ketauan OOT yah/
    hihi.. biariiiin
    *langsung kabur*
    ___
    mmmhhh…anggeeeeer ci teteh eta mah:P

    Reply
  12. dea

    adelia .. 🙁

    Reply
  13. Yos Beda

    Tulisanya bagus dik, penuh dengan bahwa sastra, apakah ini diikutkan di usatu lomba? semoga bisa menang 🙂

    Reply
    1. Yos Beda

      lho kok tak panggil dik, saya kira ini tadi tulisanya dik niar, ternyata dik niar diatas malah cuma komntar, wkwkwkwkwkw,,, salah blog ternyata, ta kirain tadi blognya niar

      Reply
      1. Orin

        Wahhh…maaf ya mas, jadi nyasar ke sini 🙂

        Reply
  14. prih

    karya yang indah Orin, calon novel berikutnya menyusul yang telah diproses, selamat berkarya.
    ___
    novel? tidaaaakkkk…*lebay dot com* terima kasih dukungannya ya Buuu^^

    Reply
  15. rina

    iiih mba orin… so sweet kata2nya… romantis abiss…. meskipun rada pilu ya bacanya..
    ___
    Yg romantis2 biasanya memang berakhir pilu mba Rin hihihi

    Reply
  16. Ahmad Alkadri

    Ah, tulisannya bagus! Seriusan, udah lama nggak baca cerita pendek romansa yang cukup mengena seperti ini. Lanjutin mbak 😀
    ___
    Terima kasih apreasiasinya mas^^

    Reply
  17. achoey el haris

    Keren
    Ceritanya menyentuh
    Bisa jadi dibukukan nih 🙂
    ___
    Aamiin…mudah2an suatu saat bisa dibukukan kang he he

    Reply
  18. Pingback: Dari BERAT menjadi BERKAT | RyNaRi

  19. mechtadeera

    aah…jadi ini awalnya… siip deh..
    ___
    Tengkyu auntie^^

    Reply
  20. saidah

    Gk sanggup aku kalo jd delia teh…mending aku jd ghani nya ajah mwahahahahaa 😀
    ___
    bwhuahahaha…ternyata Idang berpotensi spt Ghani ya 😛

    Reply
  21. Mayya

    Oh Deliaaaa…
    Eh mbak Orin, gmn cara ikutan beginian yak? Mau coba belajar bikin fiksi ^^
    ___
    Aku bikin postingan khusus buat ngejawab pertanyaan ini May he he. Sok bikin ajaaah

    Reply
  22. yustha tt

    Perempuan seperti Delia ada kok di kehidupan nyata. Legawa menerima kekasihnya memikirkan perempuan lain. Bahkan ikhlas seandainya si pria akhirnya kembali ke perempuan yg benar2 dicintainya itu. 🙂
    ___
    Hoh? Serius T? coz rasanya aku mah ga bisa legawa seperti itu…

    Reply
  23. nurlailazahra

    aku selalu kagum dg gaya bahasa dan istilah2 baru yg teteh uraikan dalam sebuah cerita. seperti:

    “Tapi, seperti surga yang tak lengkap bagi Adam jika tanpa Hawa, maka aku tak pernah bisa menjadi diriku tanpa dirinya.”

    dan

    “Dan mungkin tidak perlu sempurna untuk bisa menikmati surga.”

    maka itu aku selalu ingin menikmati cerita2mu, Teh……..
    inspiring 😀
    ___
    Inspiring?? Aaaahhh… Saraaaaaah *speechless*

    Reply
  24. Pingback: -2- Secarik Kertas Buram | Rindrianie's Blog

  25. nanangrusmana

    #Senyum Senyum saya membacanya…entah kenapa kalau tentang cinta di mata pria selalu membuat saya Self Reminder… 🙂 …
    Saya sudah menghabiskan waktu setengah jam singgah di sini 🙂 #Hauuss nggak da minum # 🙂
    Asyik asyik cerpennya menghanyutkan semuanya dari mulai monolog sampai ke sini…sae pisan teh…Mangga ah..bade milarian cai herang heula haus teu disuguhan heee 🙂

    Reply
    1. Orin (Post author)

      wahhh hatur nuhun kang Nanang tos mampir, punteh yeuh cikopina nembe dikaluarkeun heuheu

      Reply
      1. nanangrusmana

        alhamdulillaah subuh subuh dapet kopi pagi…hangat…:)

        Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: