Rindrianie's Blog

Canna Indica

Gerimis masih turun satu-satu. Kabut belum sepenuhnya menghilang. Dan senja menyapa perlahan.

“Tidak bisakah dipikirkan lagi, Dik?” Si pemuda bertanya, seperti gelisah, juga putus asa. Dia menatap gadis di depannya penuh harap.

“Sudahlah, Kak. Terima saja, kita tak bisa bersama,” jawab si gadis setelah keduanya terdiam beberapa saat. Diambilnya Jepun Cenana yang terselip di telinga kirinya, lantas memutar-mutar si kamboja kuning itu dengan jemari lentiknya, resah.

Ah, mungkinkah mereka adalah sepasang kekasih yang akan segera terpisahkan? Seketika aku merasa sedih, siang yang beranjak sore ini menjadi semakin muram karena kasih tak sampai dari keduanya. Aku tidak akan tahu kisah lengkapnya, tapi, kenapa sesuatu yang indah seperti cinta seringkali hanya sementara?

“Tapi, Dik, bukankah Tuhan tetap satu?”

“Iya, Kak, tapi kita menyebutnya dengan nama yang berbeda,” tukas si gadis cepat. “Sudahlah, kelak Kakak pasti menemukan perempuan yang bisa menjadi makmum terbaik,” ucap si gadis lagi, kini lebih lembut. Ada getar dalam suaranya, mungkin sebetulnya dia pun tak rela.

“Baiklah, Dik. Semoga kelak kau pun menemukan lelaki terbaik yang akan bersembahyang bersamamu di pura Ulundanu itu,” jawab si pemuda kemudian, pasrah.

Lantas keduanya bungkam. Berdialog dengan jiwanya sendiri-sendiri. Saling menatap beberapa saat, untuk kemudian sama-sama beranjak menjauhiku yang masih terpaku.

Sepeninggal mereka, aku semakin diam, semakin muram. Menatap Pura Ulundanu yang berdiri anggun di tengah Tasik Beratan, dan adzan Ashar yang mengalun pelan diantarkan angin. Aku tidak tahu, Tuhannya siapa yang mengantar kesenduan ini. Mungkin aku tak akan pernah bisa mengerti, karena aku hanyalah sekuntum bunga tasbih yang singgah sebentar di sini dan akan segera mati menemui Tuhanku.

@Bedugul, Bali

Note : 256 kata, FF sedikit absurd ini saya tulis untuk Monday Flash Fiction #36: The Spectacular Bali 🙂

0 Comments

  1. danirachmat

    Syahdu dan terkesan sedih Rin si Bunga. Baguuuus..
    ___
    bunganya emang bagus, Dan #eh? hihihih

    Reply
  2. Agung Rangga

    Wah, masih menulis flash fiction teh? 😀

    Btw, halo teh orin, masih ingatkah dengan saya? XD
    Apa kabar teh?
    ___
    Hai Guuung, kemana aja?

    Reply
  3. sharmishtha basu

    beautiful
    ___
    Thank you 🙂

    Reply
  4. istiadzah

    “Lantas keduanya bungkam. Berdialog dengan jiwanya sendiri-sendiri. Saling menatap beberapa saat, untuk kemudian sama-sama beranjak menjauhiku yang masih terpaku.”
    Si aku ini kenapa bs tahu kalau mereka sdg berdialog dgn jiwanya sendiri2? Sementara di paragraf sebelumnya dia baru tahu bahwa mereka ini sepasang kekasih yg akan berpisah. :)))
    ___
    mungkin krn ngeliat pada diem sendiri2 smbl mikir gitu deh, mpok, namapun asumsi ya *haiyah* hahaha. Tengkyu untuk masukannya, ta’ coba edit ah 😉

    Reply
  5. Iksa

    Wah … nggak pergi makan atau apa gitu … duren dekat sana kan enak-enak .. jadi ada sambungan
    ___
    Kyknya pada ga suka duren Om *halah* hihihihi

    Reply
  6. linda

    mbak dialognya kayak familiar ya hehe

    kalo beda ujung ujungnya ya gitu, miris 🙁

    Reply
  7. fatwaningrum

    Seediiih :'(, jadi inget lagu si marcell
    Tuhan memang satu kita yang tak samaaaa *emaapsayajadinyanyik :’). Beneran agak mrebes sayanyah mbak oriin, apalagi di paragraf terakhir itu :’)

    Reply
  8. Nathalia DP

    “Aku tidak tahu, Tuhannya siapa yang mengantar kesenduan ini.”
    Huaaa 🙁

    Reply
  9. jampang

    belum ada ide nulis fiksi buat tantangan di BC maupun MFF

    Tuhan cuma satu, manusianya aja yang nggak mau nerima ketika Tuhan memperkenalkan diri 😀

    Reply
  10. Evi

    Cantiknya bunga tasbih dalam mengungkap sendu 🙂

    Reply
  11. abi_gilang

    Syahdu terbawa suasana hujan pagi ini 🙂

    Reply
  12. Lidya

    hmmm jadi jalan masing2 aja ,nanti bakal menemukan pasangan masing2 juga 🙂
    ___
    hehehe..iya Teh

    Reply
  13. kakaakin

    Entah di mana mereka bertemu kelak…
    ___
    mungkin ga saling bertemu lg malah Ka..

    Reply
  14. Tri Widy Astuti

    bener-bener ikutan galau setelah baca
    ___
    Lho? heheheh

    Reply
  15. Lianny Hendrawati

    Kali ini ceritanya sendu.
    Semoga mereka berdua menemukan kebahagiaannya masing2 ..
    ___
    Tengkyu mbak

    Reply
  16. uwien

    kisah cinta beda keyakinan. Serumit itukah?
    ___
    hehehe…makasih udah mampir Bun

    Reply
  17. Ryan

    sudah dua yang saya baca tentang keyakinan dan cinta di MFF ini. Seperti itukah yang terjadi di Bali itu.
    ___
    hihihi…aku kepikirannya itu mas, lg fakir ide 😀

    Reply
  18. puteriamirillis

    bunga tasbihnya cantik, secantik gerimis dan percakapan di atas 🙂

    Reply
  19. rhey

    kereeen, bisa bikin Flash fiction gitu. kalau saya mah suka mati ide kalau bikin ff xixixixi

    Reply
  20. bundadontworry

    kalau fiksi gini , pastilah Orin jagonya
    ( segala jenis fiksi, bisa disuguhkan disini ) 🙂

    mantaff………

    salam

    Reply
  21. De

    sebagai anak yang dibesarkan dari orangtua berbeda agama … this story really touch me.

    potonya juga cakeb!

    Reply
  22. Latree

    aku agak kurang nyaman dengan pengambilan bunga tasbih sebagai pencerita. itu seperti kata isti, jadi muncul grenjelan 😀

    Reply
  23. mechtadeera

    siip… aku justru suka dengan sudut pandang si bunga ini… netral gitu.. *halaah..soktaugw..wkwkwk…

    Reply
  24. Helda Fera Puspita

    Baca ini pas ujan gerimis :(( iya sih kalo dilihat dari sudut pandang si bunga, lebih netral 🙂

    Reply
  25. arahard90

    Flash fictionnya keren mba! saya yaki gk sedikit masyarakat indonesia yang menjalani kisah cinta seperti ini.

    andai dia menenukan lelaki terbaik dan (lagi) berbeda keyakinan, apakah endingnya sama seperti ini lagi?

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: