Semacam Rekomendasi Buku

Hai haaaaai, saya datang lagiiiii, dan langsung ikutan giveaway! hahahahaha. Yaabis gimana atuh ya, Giveaway for Booklovers gitu judulnya, jadi sebagai booklover garis keras, saya merasa terpanggil untuk ikut ambil bagian dalam perhelatan ini *tsaaah*.

Eniwey, seperti dalam postingan Kenapa Suka Membaca, tidak perlu saya jelaskan ulang lah ya alasan saya jadi booklover, yang jelas, buat saya membaca (buku) merupakan satu dari sekian banyak hal yang bisa membuat saya bahagia. Lebay yah? Iya emang hihihihihi.

Sedikit bercerita selama dua minggu di kantor baru, saya memilih menggunakan sisa jam istirahat (setelah makan dan sholat) dengan membaca buku. Padahal, hampir semua teman-teman saya menggunakannya dengan bobo siang di mushola, di loker, atau di meja masing-masing. Maka saat seorang teman menemukan saya malah asyik baca buku di jam istirahat, tertakjub-takjublah dia.

Continue reading

Reading Challenge : The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared

Iya, temans, judul novelnya memang sepanjang itu! Kalau dibahasa-Indonesiakan akan lebih panjang: Lelaki berusia 100 tahun yang memanjat keluar jendela dan menghilang. Eh, sebelas dua belaslah ya panjangnya hihihi *abaikan*.

Tapi justru karena itulah -menurut saya- novel ini sangat menarik. Saking menariknya, saya merasa harus ‘mengabadikan’ kesan saya terhadap Allan Emmanuel Karlsson dalam novel kolaborasi saya Yesterday in Bandung itu. Nah, jadi ketahuan deh ya saya menulis tokoh siapa di sana hihihihi.

DSC_0012

Baiklah, karena ini reading challenge (yang pertama yang saya ikuti di MFF hihihihi *peace*), mari langsung saja kita jawab pertanyaan dari Jeng Vanda berikut:

Continue reading

Citra Rashmi

Postingan ini bukanlah review, hanya sekadar kesan saya setelah membaca novel Tasaro GK berjudul Citra Rashmi.

Saya lupa tepatnya kapan, saya menyukai karya Tasaro. Kalau tidak salah sih saya membaca cerpennya entah di mana. Lantas mulai mencari tulisannya yang lain, karena saya menyukai gaya bahasanya yang sederhana tapi seperti puisi *nah, bijimane tuh? hihihihi*.

Maka saya pun membaca Muhammad – Lelaki Penggenggam Hujan, buku pertama dari novel biografi Nabi Muhammad SAW yang konon katanya akan terdiri dari 4 buku (sekarang baru terbit 3 buku). Novel Muhammad – Lelaki Penggenggam Hujan belum sempat saya selesaikan, keburu rusak akibat banjir hiks. Sepertinya nanti saya beli setelah lengkap sajalah ya empat buku😀.

Continue reading

Still Alice

Rupanya September adalah bulan Alzheimer sedunia ya, temans, saya baru tahu nih. Sejak menonton Grey’s Anatomy saya memang lumayan tertarik dengan Alzheimer ini, ditambah kisah cinta yang manis dari film The Notebook, apalagi waktu itu cerpen saya sempat jadi juara harapan gitu kan ya di lomba menulis bertema Alzheimer *tsaah*.

Maka saat beberapa hari yang lalu ada launching novel Still Alice yang bercerita tentang penderita Alzheimer, saya pun menyengajakan diri hadir. Bertempat di Gramedia Matraman, peluncuran buku ini dilengkapi juga oleh talkshow bersama DY. Suharya (direktur Eksekutif Alzheimer Indonesia), dan dr. Yuda Turana Kepala Pustikes Unika Atma Jaya). Dan saya pun banyak belajar.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Mbak DY merupakan caregiver bagi Ibunya yang menderita Alzheimer selama kurang lebih 20 tahun ini. Tapi baru beberapa tahun belakang saja, mbak DY dan keluarga tahu kalau ‘penyakit’ yang diderita Ibu adalah Alzheimer, sehingga dengan pemahaman yang cukup, bisa melakukan perawatan-perawatan yang memang diperlukan bagi penderita Alzheimer.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Saya juga sempat bertanya pada Pak dokter Yuda, kenapa risiko perempuan lebih tinggi untuk terkena demensia Alzheimer dibandingkan lelaki. Penjelasan beliau adalah karena saat mencapai usia menopause, hormon estrogen pada perempuan secara drastis tidak lagi diproduksi, hal ini yang menjadi pemicu Alzheimer terjadi, terlebih pada mereka yang memang memiliki gen Alzheimer.

Bagi teman-teman yang ingin lebih tahu tentang Alzheimer, sila kunjungi http://www.alzheimerindonesia.org/ yaa. Banyak informasi tentang Alzheimer di sana. Misalnya saja (yang menjawab rasa penasaran saya selama ini) Alzheimer ini pertama kali dijelaskan oleh seorang ahli saraf Jerman Alois Alzheimer.

Balik lagi ke novel Still Alice, bagi saya novel ini merupakan sarana belajar yang asyik untuk berkenalan lebih jauh dengan Alzheimer. Novel yang ditulis Lisa Genova ini sudah difilmkan, dibintangi Julianne Moore yang meraih Academy Award for Best Actress. Karena saya belum nonton filmnya, mari saya ceritakan sedikit tentang novelnya.

Alice Howland adalah seorang profesor piskologi di Harvard yang merupakan ahli linguistik yang mumpuni. ‘Keanehan’ dalam hidup Alice berawal sejak September 2003, saat Alice mengunjungi putri bungsunya Lydia di Los Angeles dan menginformasikan jadwal penerbangan yang salah.

Alice juga memiliki rasa cemburu dan emosi yang tidak terkendali terhadap suaminya, John, sesuatu yang belum pernah dialami Alice. Tapi Alice menganggap gejala-gejala itu mengacu pada menopause karena usianya yang 50 tahun, maka dia tidak bisa percaya begitu saja saat dokter syaraf memvonisnya terkena serangan dini Alzheimer.

Tapi setelah serangkaian tes neuropsikologi, MRI, bahkan sumsum tulang belakang, seluruh hasilnya membuat dr. Davis yakin, bahwa yang sedang dialami Alice bukan sekadar gejala menopause atau depresi karena pekerjaan, melainkan serangan dini Alzheimer yang progressif. Berita buruk itu diterima Alice pada Januari 2004 (halaman 68-90). 

Penyakit itu betul-betul mengerikan. Alice tersesat di rumahnya sendiri hingga kencing di celana karena tak dapat menemukan di mana toilet. Dia tak bisa lagi mengajar di kelas padahal dia sudah menjadi dosen selama 25 tahun untuk mata kuliah tersebut. Alice juga lupa resep puding yang sudah dibuatnya sejak kecil. Meletakkan novel yang sedang dibacanya ke dalam microwave. Bahkan saat menonton pertunjukan drama, Alice tidak tahu bahwa Catherine di dalam cerita adalah Lydia anaknya (halaman 175-176).

Alice Howland ingin melakukan sesuatu. Dia membuat kelompok dukungan untuk orang-orang yang mengidap Alzheimer seperti dirinya, orang-orang yang akan mengerti dengan baik bagaimana rasanya hidup di dunia asing yang tak lagi dikenali, tapi masih memeliki energi dan fisik yang cukup bugar karena mereka memang belum terlalu tua. Hal ini membuat Alice, pada Maret 2005, berbicara di depan hadirin Konferensi Peduli Demensia.

Dan salah satu bagian dari pidatonya itu berhasil membuat saya mewek dan menghabiskan banyak sekali tisu *halah*.

“Hari-hari kemarin saya sudah menghilang dan hari-hari esok saya tidak pasti, jadi untuk apa saya hidup? Saya hidup untuk setiap harinya. Saya menikmati setiap waktu yang berlalu. Tak lama lagi di masa depan, saya akan lupa bahwa saya berdiri di hadapan Anda dan menyampaikan pidato ini. Tapi, hanya karena saya akan melupakannya kelak, tidak berarti bahwa saya tidak menikmati setiap detiknya hari ini. Saya akan melupakan hari ini, tapi tidak berarti bahwa hari ini tidak berarti.” (halaman 259)

Endingnya? Baca sendiri aja atuhlah ya hihihihi. Saya ingin sekali menonton filmnya, sudah terbayang itu gimana Julianne Moore a.k.a Alice Howland berkisah. Semoga filmnya segera muncul di Fox Premium atau HBO *berdoa khusyuk*😀.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Ada kah yang sudah baca (atau nonton) Still Alice?

Autobiografi Parenting

Jakbook-Edufair

Kemarin saya datang ke Jak Book & Edu Fair lho, bukaaaan, bukan ingin tahu kenapa Pak Gubernur marah-marah, tapi memenuhi undangan untuk menyaksikan talkshow singkat terkait buku autobiografi parenting yang ditulis Astrie Ivo.

Nggak tahu Astrie Ivo? Duh, kemana ajaaaa. Kalau Inneke Koesherawati tahu? Pokoknya mah mbak-mbak berdua itu makhluk jelita yang membuat saya merasa seperti itik buruk rupa #eeaaa, penasaran sih, sepertinya hukum gravitasi kok nggak berlaku ya di mereka? Mbak Aci itu usianya sudah lima puluh tahun lebih lho! *takjub*.

Talkshow-nya sendiri merupakan sharing kedua narsum dalam mendidik buah hati mereka. Mbak Astrie memiliki 3 anak lelaki, yang bungsu sudah usia SMU. Mbak Inneke memiliki sepasang anak-anak yang masih terbilang kecil. Sehingga dari keduanya para hadirin bisa menerima ilmu yang sedikit berbeda dalam parenting karena zamannya yang sedikit berbeda.

Mbak Inneke misalnya, melarang anak-anaknya untuk menonton sinetron yang tayang di banyak stasiun TV, sama sekali tidak boleh, karena khawatir memberikan pengaruh buruk. Sementara Mbak Astrie bercerita sejak anak-anaknya kecil di keluarga mereka diwajibkan setidaknya untuk sholat maghrib-Isya-Shubuh berjamaah di rumah. Kebiasaan ini harapannya adalah agar ketiga anaknya selalu ingat akan Alloh SWT dalam seluruh aspek kehidupannya.

Talkshow ini memang dimaksudkan juga untuk launching buku ‘Sepasang Sayap Menuju Surga’ yang ditulis oleh Yugha Erlangga dan Astrie Ivo, diterbitkan oleh Emir, imprint dari Penerbit Erlangga yang khusus menaungi buku-buku Islami. Buku ini bercerita tentang bagaimana seorang Astrie memulai rumah tangga dan mendidik ketiga putranya. Frasa sepasang sayap ini dimaksudkan adalah sinergi dari kedua orang tua dalam mendidik anak-anak, bahwa peran ini bukan menjadi tugas seorang Ibu semata, tapi juga Ayah.

Saya belum selesai sih baca bukunya, nanti Insyaalloh saya tuliskan reviewnya kalau sudah selesai semua ya. Tapi membaca buku ini, memang seperti mendengarkan mbak Astrie bercerita tentang hidupnya. Bagaimana dia ber-first sight love dengan suaminya, bagaimana dia ingin menyerah waktu keduanya kuliah di Jerman dan merasa sangat sulit menjadi seorang istri. Baru sampai bab itu sih, jadi belum bisa bercerita banyak saya hehehe.

Yang paling saya ingat dari acara kemarin ini adalah nasihat dari Ivo Nilakresna, ibunda dari Astrie Ivo, saat mbak Astrie tengah bertengkar hebat dengan suaminya, Ibu Ivo berkata (kurang lebih) “Telan saja, yang pahit-pahit itu akan membuatmu lebih kuat. Terima kekurangan suamimu karena kamu juga tidak sempurna.” Makjleb ya Ceuuu heuheu.

Ya sudah sebegitu dulu saja ya, barangkali mampir ke toko buku, ini nih penampakan bukunya.

Sepasang Sayap Menuju Surga

Sepasang Sayap Menuju Surga

Tentang Akun Goodreads

Join Goodreads ternyata sudah sejak Januari 2013, lumayan sudah lama ya bok hihihi. Tapiiiii, saya belum mudeng ‘aturan main’nya bagaimana. Jadi ya nggak pernah ditengokin, nggak pernah diisi, nggak pernah diapa-apain pokoknya mah.

Padahal, saya juga sering membaca ulasan buku di Goodreads (terutama untuk buku luar atau terjemahan) sebelum akhirnya beli atau baca. Meskipun lumayan sering saya merasa tidak setuju dengan ulasan-ulasannya, buku bagus kok rate-nya kecil, giliran buku ‘aneh bin ajaib’ malah bintangnya banyak. Padahal itu kan wajar ya, nama pun buku, yang adalah masalah selera, yang tentu saja sangat individual. Tapi yaa saya mah gitu orangnya, suka dibikin ribet sendiri *nyengir*.

Waktu buku kumcer saya baru publish Februari tahun lalu, saya lebih sering lagi buka Goodreads, tujuan utamanya tentu saja membaca review-review Little Stories, yang bisa membuat saya senyam senyum sendiri saat membacanya, atau pun jadi ngedown depresi berat dan nggak mau nulis fiksi lagi *lebay* bhuahahaha.

Tapi ya tetap saja, akun saya seperti rumah kosong tanpa isi. Di akun saya itu tidak ada keterangan saya sedang membaca buku ini itu, tidak ada buku tertentu yang ingin saya baca, tidak ada review atau pun rating yang saya tulis dan pilih. Hingga lomba menulis review di GR itu datang *tsaaaah*.

Teman-teman sudah baca review kumcer Tentang Kita tempo hari? Sebetulnya saya sudah tahu informasinya bahwa Stiletto -penerbitnya- sedang mengadakan lomba review buku tersebut, tapi salah satu syaratnya review harus ditulis di Goodreads. Jadi yaa saya mundur teratur sajalah ya, memang sudah berniat nulis review buku itu juga sebelum lomba diumumkan, jadi saya tulis di blog seperti biasa.

Masalahnya, ada seorang mbakyu yang adalah teman baik saya yang kebetulan bekerja di penerbit itu, mencolek saya di twitter kenapa saya nggak ikutan lombanya, toh reviewnya memang sudah ada, tinggal disalin ulang saja ke Goodreads dan beri rating. Meskipun malu-maluin, saya bilang ke blio, kalau akun GR saya kosong melompong, kudet pun cara mainnya gimana. Terlalu jujur semacam itu berhasil membuat saya jadi bahan bully-an deh seharian itu hahaha. Tapi klimaksnya adalah kalimat “cemana penulis ga mainan GR?”, jleb banget sih mbakyu?!😛

Meskipun saya penulis abal-abal ya, tetep weh sakit hati dibilang gitu *orangnya gampang sakit hati :P* hihihihi. Demi menjawab ‘tantangan’ mbakyu yang di Yogya sana, saya pun menulis ulang si review buku di Goodreads, mendaftarkannya ikut lomba, dan ternyata … menang! bhuahahaha. Review saya di-like sama mbak Reda-nya langsung lho, ah senangnyaaa. Jangan dipikir karena saya punya teman di sana jadi menang lho ya, karena yang menilai kan bukan teman saya itu, jadi pasti fair penilaiannya.

Intinya sih, meskipun sampai saat ini si akun Goodreads itu masih berisi review Tentang Kita itu semata wayang, saya jadi mulai berpikir mengoptimalisasikan *cieh bahasa guweh :P* si akun itu ke depannya. Siapa tahu ada yang terbantu setelah baca review yang saya tulis kan ya, atau seperti kemarin ini, menang lomba review jadi bakalan dapet buku baru deh hohohoho.

Temans ada yang punya akun GR kah? Temenan yuk🙂

***

PS : Akun GR saya sama kok, namanya Rinrin Indrianie he he😀