Rindrianie's Blog

#Cerfet : Pelangi Rindu (3)

Cerita bagian pertama

Cerita bagian kedua

***

“Mana Ibu?” tanyaku cepat. Lupa kalau aku sedang bahagia bisa bertemu denganmu, sekali lagi.

Kau hanya menjawab tanya itu dengan senyuman, senyum yang selalu aku rindukan, rindu karena akhir-akhir ini pelangi seperti enggan menyapa bumi, membuatku rindu padamu sepenuh hati. Tapi kini kau kembali, kau ada di sana, berdiri di depanku, tersenyum padaku tanpa ragu.

Tapi, aku tak melihat Ibu.

“Pertanyaanku tadi belum dijawab lho,” ujarmu. Membuatku mengingat apa pertanyaanmu untukku sebelum pertanyaanku tentang ibu padamu?

Ah, aku ingat, kau bertanya tentang bagaimana kabarku.

“Aku baik, cuma rindu setengah mati padamu,” kataku, sedikit menggombal. Dan tawa renyah itu kembali menyapa semesta. Duh, aku selalu lupa menyiapkan recorder, suatu saat aku harus berhasil mengabadikan tawa itu, tawa yang selalu berhasil membuat ujung-ujung hatiku menghangat.

Tapi aku masih belum melihat Ibu. Maka aku menatap sekeliling ruang tengah yang tak seberapa besar ini sekali lagi. Tak biasanya Ibu tidak menyambutku pulang. Apakah Ibu ada di dalam kamar?

Oh iya, kenapa kau datang? Bukankah tak ada pelangi sehabis hujan tadi? Kini aku lupa tentang ketiadaan Ibu karena rasa ingin tahuku tentang kedatanganmu yang tanpa pelangi.

“Kamu?”

“Iya.”

Jeda beberapa saat. Detik berlarian selagi aku dan kau hanya terdiam.

Detik berikutnya, lagi-lagi, kau hanya tersenyum. Dan aku hanya mampu menatapmu beberapa detik tanpa berkedip.

Iya. Begitu katamu.

Iya?

Maksudnya apa? Aku menatapmu, bertanya. Kau, sekali lagi, hanya tersenyum. Tapi kali ini aku melihat matamu sedikit kelabu.

Gegas, aku masuk ke kamar Ibu. Untuk menemukannya yang tertidur di ranjang, bibirnya tersenyum, seperti biasanya. Tapi kenapa wajahnya pucat?

Kau masih berdiri di sana, di depan kamar Ibu yang kini pintunya telah terbuka seluruhnya. Berdiri diam menatapku dan Ibu yang sedang berbaring tertidur. Tatapan matamu tak biasa, dan aku tak bisa baca maknanya apa.

Kembali, aku menatap Ibu yang sedang tertidur dengan tersenyum.

“Bu?” panggilku, “Ibu sakit?” Ibu bergeming, tetap diam dalam wajahnya yang tersenyum dan mata yang terpejam. Selelap apapun Ibu, akan sigap terbangun saat mendengar suaraku. Tak biasanya Ibu begitu pulas seperti demikian.

Tapi aku menikmati detik-detik saat aku menatap Ibu yang terlelap seperti ini. Aku berani bertaruh, saat aku kecil dulu, Ibu sering menatapku yang tertidur seperti ini juga. Rasanya aku tidak akan bosan tetap menatap Ibu satu atau dua jam ke depan.

Perempuan yang melahirkanku itu begitu indah.

Bulu mata Ibu lentik, hidungnya yang tinggi kecil mencuat anggun, indah dalam bingkai wajahnya yang oval. Bibirnya yang tetap tersenyum dalam tidur terlihat merah muda tanpa pemulas bibir, begitu sempurna dengan dagu lancipnya. Beberapa helai rambut peraknya berjatuhan di dahi, melukis kening keriputnya yang masih langsat dengan unik.

Ah, betapa beruntungnya Ayah memiliki istri sepertinya. Betapa beruntungnya aku memiliiki ibu yang seperti Ibu. Bahkan dalam tidurnya, Ibuku cantik, nyaris sempurna.

Nyaris seperti kau. Aku melirik pada sosokmu yang masih berdiri di depan kamar. Kau tersenyum, secemerlang pelangi, seperti seharusnya.

Kembali pada Ibu yang tak juga bangun, aku menggenggam tangannya yang sedikit terkulai. Dingin.

Dingin?!

Ya Tuhan, tangan Ibu dingin!

Aku panik. Cepat aku memandang ke arahmu berdiri. Tapi kau tak lagi ada di sana.

Di mana kamu, Kalya?

Ke mana, kamu?

Kalya?

***

“Ah, sudah bangun, nak? Syukurlah.” Sepasang mata kristal milik Ibu menyapa saat mataku mengerjap.

Ibu!

“Ibu.” pekikku bungah, menatapnya tak percaya, melihat lagi senyumnya yang meneduhkan jiwa.

Detik berikutnya aku menangis seperti anak kecil, untuk alasan yang tidak bisa aku jelaskan dengan kata-kata pada perempuan agung yang kini tengah menatapku bertanya-tanya.

“Kenapa, Nak?”

Aku diam, menjawab tanya itu dengan beranjak memeluknya, menghadiahinya dekapan seerat yang aku bisa. I love you, Mom bisikku, hanya dalam hati.

Samar, di luar jendela, kulihat kau terpaku menatapku dan ibu. Kebahagiaanku nyaris sempurna, seperti ibu dan kau.

Lantas hujan tiba-tiba datang, derasnya membuat siluetmu terhalang, untuk kemudian menghilang dari pandangan. Bukankah pelangi belum datang?

Pergi ke mana kamu, Kalya?

Lihatlah, ternyata Ibu baik-baik saja. Kemarilah, peluklah tubuh hangatnya, seperti yang sedang aku lakukan sekarang.

Aku bertanya sendiri, masih mendekap Ibu dalam pelukku.

Apakah nanti, saat pelangi menyapa setelah hujan pergi, kau akan datang padaku lagi?

Kalya?

“Tidurlah lagi, Nak.” suara Ibu yang tersenyum membuatku melepas dekapan. Berikutnya, kuciumi pipi keriputnya penuh cinta, berkali-kali. Hingga Ibu sedikit terbahak karena geli.

Tak apa kau tak di sini, Kalya, karena ada Ibu yang menemaniku. Lirihku pada hujan yang masih mendaras rinai.

***

Seandainya di depanku ada sebingkai cermin, aku ingin menatap pantulan diriku di dirinya. Bertanya sendiri apakah aku baru saja bermimpi? Tapi bagaimana mungkin sebuah mimpi bisa begitu sempurna?

Tapi faktanya adalah, yang terkubur di dalam sana adalah Ibu, perempuan agung yang membiarkan aku hidup sekian lama dalam dirinya, mengizinkan dirinya tersakiti hingga nyaris mati untuk mengantarku pada semesta. Dan kini, saat tak ada detak dalam jantungnya, lantas tubuhnya sebentar lagi menjadi makanan cacing tanah, aku tidak melakukan apapun selain memandang makamnya dalam diam?

Anak macam apa aku?

Langit menangis, gerimis menyentuhku, menyirami makam Ibu yang memang masih basah. Aku ikut menangis, sedikit gembira karena rinai hujan akan menemani air mataku turun ke bumi, menyerap ke dalam tanah, yang kini adalah rumah bagi Ibu.

Dulu, aku memuja hujan untuk alasan berbeda. Karena selalu ada kau yang menyapa datang saat hujan berhenti dan matahari berbaik hati menghiasi semesta dengan segaris pelangi.

Tapi kini, aku mengutuk hujan juga dengan alasan yang berbeda dengan sebelumnya. Karenamu atau bukan, Ibu pergi saat kau datang.

Apakah hidup selalu melulu tentang pertukaran?

“Maaf, aku…”

“Pergilah,” tukasku cepat, aku bisa tahu kau berdiri di belakangku sejak tadi. Entah kau baru datang atau hendak segera pulang. Aku tak lagi peduli. “Maafmu tidak bisa membuat Ibu kembali,” kataku lagi.

Mungkin, aku telah menyakiti hatimu, karena detik berikutnya aku tahu kau telah benar-benar pergi. Seiring rinai yang perlahan menghilang, walaupun matahari masih disandera awan, dan tak ada pelangi untuk aku kagumi.

Ibu.

Kalya.

I.B.U.

K.A.L.Y.A

I    B    U

K    A    L    Y    A

Sepertinya aku sudah mulai gila.

***

Note : 955

Teruntuk Makpuh Indah Juli dan Mbakyu Carra, maafkan jika ceritanya jadi geje begini ya, terima kasih sudah diberi tantangan melanjutkan cerfet ini *sungkem*.

Kepada mbak Bee, pemilik http://rinibee.wordpress.com/ silakan menulis kelanjutan cerita di atas ya, deadline-nya hari Rabu, tanggal 18 September 2013, pukul 17.00 Oke kan ya? *kedipkedip* hihihihihi

Stop Press :

Karena satu dan lain hal, ternyata Mbak Bee belum bisa melaksanakan tugas negara melanjutkan cerfet.  Jadi tongkat estafet beralih kepadaa….. Mbak Irma Irawati di blog http://iirawati.blogspot.jp/ *tepuk tangan meriah*. Selamat berjuaaaaaang^^

0 Comments

  1. RedCarra

    ARRRGGGHHHH!!!

    Aku makin merinding baca ini >__< Ga sabar buat baca punya Mbak Bee…

    ~ ~ ( ‾o‾)/
    ___
    eh? nanti somehow balik lagi ke kita ya? berarti nanti aku urutan ke-9? gituh? huwaaaahhh…beneran bisa jd novel dunk ya *takjub*

    Reply
  2. mama hilsya

    bagus kok.. yg ini eike baca beneran lho, Neng… kkkk
    ___
    hoh? serius? pdhl panjang gini qiqiqiqi. tengkyu teh 😉

    Reply
  3. indahjuli

    Merinding bacanya.
    Senang, senang nggak sangka ceritanya jadi makin seru gini.
    Nggak terbayang dalam pikiranku saat nulis pertama kali, si ibu akan pergi 🙂
    Oh iya, geje atau tidak, nggak usah dipikirin, yang penting kita kelarin dulu 😀
    Nggak sabar ingin baca kelanjutannya oleh Bee.
    ___
    Aku jg senaaaang bgt Makpuh, senang udh berhasil meneruskan cerfet ini 😀

    Reply
  4. nisamama

    huaaa… makin penasaran si kalya ini siapa atau apa? tuing… tuing… ga sabar nunggu lanjutannya. 😀
    ___
    aku jg penasaran lho mbak hihihi

    Reply
  5. irma irawati

    hihi… saya ngikik di pojokan sama Kalya, berharap derai tawa saya direkam pake rocorder oleh Mak Carra

    Reply
  6. @brus

    Kalya … Ibu …KALYA … IBU … 😛

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: