Rindrianie's Blog

Cermin

Mencoba melanjutkan cerita berdasarkan deskripsi diri dari postingan berjudul Cermin.

***

Cermin besar di depanku sudah tidak bisa diselamatkan, hanya bingkai kayu berukirnya yang tersisa, seluruh kacanya berkeping, hancur menjelma serpihan-serpihan. Mirip hatiku, yang terpelanting jatuh dan lebur dengan sempurna, mustahil diperbaiki.

“Kamu kenapa, Lara? Kamu baik-baik saja, ‘kan?” suara itu tiba-tiba menyapa, terdengar begitu khawatir, sekaligus begitu menggangguku di saat yang sama. Aku pikir studio tari sudah tak berpenghuni, atau lelaki ini memang sengaja menungguku di luar?

“Pergilah,” kataku cepat. Tetapi usiranku tidak membuat lelaki itu beranjak, malah semakin mendekat. Apakah seorang lelaki memang tidak didesain untuk bisa menyimak? Mereka seperti hanya mampu mendengar, tak pernah bisa untuk menyimak.

“Aku di sini, Lara. Aku akan selalu ada di sisimu, untukmu. Lupakan saja dia, aku mencintaimu.” Cih! Mual aku mendengarnya. Detik berikutnya aku menatap pantulan buruk rupaku di sebuah pecahan kaca, lelaki itu pasti sudah buta, aku tidak bisa percaya dia mencintai seseorang sepertiku.

“Kamu memang tidak secantik atau semuda sinden itu, Lara, tapi pernahkah ada yang mengatakan padamu kamu adalah wanita berparas eksotis? Dan hatimu sungguh-sungguh cantik, Lara.” Blah, perutku semakin mual. Aku sungguh tidak ingin bercakap-cakap dengan lelaki ini, atau dengan siapapun, aku hanya ingin sendiri, meratapi lelaki anjing yang pergi dariku demi seorang sinden muda berubuh sintal dengan paras cantik. Seorang wanita yang yang tidak sepertiku.

“Berhentilah meratapi hidupmu, Lara. Kamu pun berhak bahagia, dan aku bersedia menemanimu menemukan kebahagiaan itu jika kamu mengizinkan.” Aneh, kali ini perutku tidak merasa mual mendengar ocehannya. Apakah mungkin seseorang sepertiku bisa bahagia? Tapi aku menolak percaya, aku tidak mau jatuh hati lagi, hanya untuk kemudian terluka lagi.

“Lihatlah dirimu, Lara.” Lelaki itu duduk di depanku, dengan sebuah cermin oval kecil bertangkai di tangannya, memaksaku menatap pantulan diriku, sekali lagi. Rambut mencuat ke segala arah jarang tersentuh sisir, bola mata yang hampir hitam bukan coklat, bibir tebal yang terlihat merengut, hidung yang… Ya Tuhan, aku tak sanggup lagi, aku beranjak cepat meninggalkan lelaki itu dan cermin di tangannya.

“Lara…” lelaki itu berseru. Tapi aku terus berlari menjauhi studio tari yang tadinya begitu aku cintai. Tapi aku terus berlari tanpa peduli teriakan lelaki yang berkali-kali menyuruhku berhenti. Tapi aku terus berlari tanpa pernah menengok ke arah lelaki itu lagi. Tapi aku terus berlari tanpa mengerti kemana kakiku menuju. Tapi aku terus berlari hingga sebuah decitan terdengar nyaring, diikuti dentuman keras kemudian tubuhku melayang, lantas semuanya gelap.

***

*Ditulis untuk #tantangannulis @JiaEffendi

**Aseli susah ya melanjutkan tulisan orang lain ituh *lap keringet* qiqiqiqi

0 Comments

  1. Mechta

    Hm… maaf…kali ini aku belum nemuin feelnya, Rin… Oya, di paragraf ke-5 itu yg pas ‘hatiku’ atau ‘hatimu’ ya?

    Reply
  2. Ni Made Sri Andani

    wah.. cerita estafet ya Mba? he he.. creative banget..

    Reply
  3. Lidya

    kalau lari lihat2 biar gak ketabrak 🙂

    Reply
  4. Eki Akhwan

    Cukup engaging …. 🙂

    Reply
  5. myra anastasia

    kyknya hatimu, ya, Rin?

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: