Rindrianie's Blog

[Cerpen] Déjà vu

11665539_10207153232371371_510606361384095649_n

Dimuat di tabloid Cempaka (Jawa Tengah), 11-17 Juli 2015

***

Imajiku tiba-tiba saja mundur ke sekian tahun lalu, saat Ibu seolah tahu malaikat maut segera menjemput. Ibu menatap kami lembut. Bagiku dan kedua kakak perempuanku,  saat  itu tatapan Ibu seperti sebuah tatapan perpisahan yang memabukkan. Banyak petuah yang dipesankannya pada kedua mbak-ku, tentang semua hal tentang segala macam, yang dibalas dengan anggukan tanpa kata oleh keduanya diselingi isakan tertahan.

Tapi padaku, Ibu hanya menyisakan sebaris kalimat.

“Randu, maafkan ayahmu, Nak!” Kalimat itu seperti mengandung penjelasan berikutnya, pasti masih ada kalimat berikutnya, membuatku menunggu apa yang akan Ibu katakan selanjutnya. Tapi tak ada lagi yang terucap darinya. Hanya satu kalimat sederhana itu, kalimat yang saat itu –bahkan hingga detik ini- tidak bisa aku maknai dengan sempurna.

“Maafkan Randu, Bu,” desisku lirih entah pada siapa. Aku punya alasan tersendiri kenapa aku belum bisa, dan mungkin tidak akan pernah bisa, memaafkan sesosok lelaki yang masih harus aku panggil dengan sebutan ‘Ayah’ itu.

Aku tahu, sebagai seorang anak, aku tak boleh bersikap demikian pada lelaki yang telah memungkinkan aku menyapa semesta. Tapi aku manusia biasa yang memang penuh dengan dosa, maka biarkan aku memendam rasa itu beberapa saat lagi.

***

Kalau saja aku boleh memilih, aku ingin terlahir di keluarga lain. Ralat, lebih tepatnya, aku berharap aku bukanlah seorang putra dari Raden Damar Widjaya yang terhormat itu. Rasanya akan lebih mudah bagiku, jika ayahku adalah pria biasa-biasa saja, berprofesi sebagai guru SD, atau petani, bahkan tukang sayur mungkin? Yang penting bukan dia. Seharusnya bukan dia manusia yang aku hormati setelah perempuan yang melahirkanku.

Aku seperti memiliki kewajiban untuk membenci lelaki itu. Mungkin lebih tepatnya, aku membenci sikapnya pada Ibu, pada kami. Tapi yang lebih membuatku semakin membenci lelaki itu adalah karena, ibuku –Wulaningtyas- wanita terhebat dalam hidupku, entah kenapa selalu memuja mencinta lelaki itu sepenuh jiwa. Walaupun apapun, tak terbantahkan. Tak pernah berkurang sedikit pun.

“Bu, teman Mayang bilang lihat Ayah makan di restoran bersama seorang wanita.” Pernah kudengar mbak Mayang bercerita dengan hati-hati di suatu senja yang muram. Kala itu aku masih SMP, masih anak kemarin sore, tapi aku tahu ada yang salah, ada yang sedang terjadi dalam keluarga kami.

Ibu hanya terdiam sesaat, dan kemudian tersenyum.

“Temanmu mesti salah lihat, May.”

Ndak, Bu, Irna ‘kan tahu Ayah. Irna bilang mereka mesra sekali lho, Bu.”

“Sudah kamu mandi dulu sana.” Dan percakapan itu berhenti hingga di sana, tak pernah berkelanjutan. Walaupun mbak Laras di kemudian hari juga mengatakan hal yang kurang lebih sama. Walaupun semua orang di sekeliling kami juga mengatakan hal serupa. Ibu tetap bergeming tak percaya. Perselingkuhan Ayah dengan wanita itu sangat nyata sekaligus tak pernah ada baginya. Berbulan-bulan. Bertahun-tahun. Seperti selamanya.

Hingga kemudian aku merasa telah cukup dewasa untuk memilih sikapku sendiri. Di malam itu, saat kami makan malam bersama bagai sebuah keluarga yang harmonis, Ayah meresmikan dirinya sendiri untuk kami –aku tepatnya- benci selamanya.

“Ibu, Mayang, Laras, Randu, dengarkan Ayah baik-baik ya.” Hening. Aktifitas makan semua orang di meja kayu cantik itu terhenti.

“Ayah menikahi Rossa minggu lalu.” Sunyi. Nama wanita itu terucap dari mulut ayahku sendiri, bukan dari si anu atau dari si itu, tanpa malu Ayah menyebut nama perempuan sundal itu. Sekilas aku lirik Ibu yang tetap tenang duduk di sisi Ayah, bahkan sekilas kulihat Ibu seperti tersenyum, walaupun aku berharap itu hanyalah halusinasiku belaka. Apakah Ibu telah tahu informasi ini sebelumnya?

“Jadi, Ayah mohon kalian sekarang paham kenapa Ayah tidak setiap hari pulang ke rumah ini.” Aku tidak tahan lagi. Segera beranjak dari sana dengan sengaja menyeret kursiku keras.

“Randu, duduk! Ayah belum selesai bicara.” Gelegar suara Ayah kala itu tidak menciutkan nyaliku. Persetan dengan semua tatakrama keraton dan semacamnya itu. Aku sudah muak. “Randuuuu…” Aku pun tidak memedulikan teriakan Ayah yang murka. Aku hanya merana melihat Ibu terisak dalam diam karena kepergianku. Tapi aku tak mungkin mundur dan berbalik seperti lelaki pengecut.

Dan itu adalah terakhir kalinya aku melihat Ayah.

***

Kamar luas ini senyap, sengaja aku membiarkannya gelap. Termenung memandang bulan di ketinggian lantai 26 ternyata mampu mengantarkanku memutar kembali kilasan masa lalu.

Aku tahu, aku tidak bisa menyalahkan ayahku, ibuku, kedua mbak-ku, atau siapapun dalam kehidupanku, untuk kesalahan yang sedang aku perbuat ini. Tapi aku juga tidak tahu, atas alasan apa aku melakukannya? Kenapa aku bisa melakukannya? Karma kah?

“Mas…” sebuah suara surga mengembalikanku pada detik ini. “Udah hampir tengah malam, nggak jadi pulang? Nanti dicariin istrinya lho.” Suara itu seperti menggodaku. Membuatku mencoba melukiskan Sandra –seorang perempuan yang adalah istriku- di rumah. Sedang apa dia? Mungkinkah dia tetap memuja mencintaku, seperti Ibu pada Ayah dulu?

Aku tidak tahu, tapi yang aku mengerti adalah, déjà vu ini harus diakhiri, secepatnya, sekarang kalau perlu. Aku sungguh tak ingin anak lelakiku membenciku kelak.

Dan mungkin itu pula berarti, aku harus mulai mengikhlaskan diri memaafkan Ayah.

***

PS : Mbak La, terima kasih fotonya ya *ketjup*

0 Comments

  1. dani

    Cerita yang kuat as olweis. Love it Rin! 🙂
    Selamat ya! 🙂

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Thanks, Dan! 🙂

      Reply
  2. darsonogentawangi

    Plok plok plok……..

    Jadi inget alamrhum ayahku 🙁

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Oh? Maaf ya..

      Reply
      1. darsonogentawangi

        ndak apa2 mbak… BTW, postingannya sungguh keren…
        🙂

        Reply
  3. @brus

    Kenangan utk sosok seorang ayah … selalu ada plus minusnya … beda sama ibu tak ada cacatnya ,,, mungkin karena itu Hadist Rasul SAW :”Syorga terletak dibawah telapak kaki ibumu … 🙂

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Hmm…baca komentar om @brus jadi kepengen bikin cerita anak yg membenci ibunya 😀

      Reply
  4. isti thoriqi

    Keren ceritanya!!!! Jadi pengen baca cerpen2 Mak Orin yang lain niy 😉

    Reply
    1. Orin (Post author)

      makasih mak Istiiii, silakan lho dibaca2 yg lain, di kategori fiction itu banyaaaak hahahaha *malah promosi*

      Reply
  5. Desi

    maaakkkk…keren bangettttt ceritanya..ihh dua jempol deh buat mak Orin ;))

    selamat yaa cerpennya juga masuk surat kabar .. 🙂

    Reply
    1. Orin (Post author)

      heuheu…makasih lho Mak *tersapu malu* 😀 😀

      Reply
  6. alrisblog

    Kejadian berulang yang menimpa diri sendiri kadang menyadarkan ya. Keren.

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Terima kasih mas 🙂

      Reply
  7. -n-

    Bwagus bgt

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Makasih Mem 🙂

      Reply
  8. dianryan

    Mantep teh Orin

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Tengkyu Dian 🙂

      Reply
  9. jun

    bikin cerita begini tapi versi saudara yg membenci saudaranya karena hal semacam ini teh #eh

    kereen.

    Reply
    1. Orin (Post author)

      wahhh bisa bisaaaa, ayo Jun bikin! hihihihi

      Reply
  10. wylvera

    Keren ceritanya, Mak Orin. Suka …. 😉

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Duh, apalah ini kalo dibandingkan fiksinya mbak Wik *ngumpet*
      Terima kasih ya mbak 🙂

      Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: