Rindrianie's Blog

Cinta Sesaat

Kevin

Hari ini dia memakai t’shirt berleher ‘V’ warna merah marun, jeans belel yang dipakainya juga kemarin, dan sepatu sandal yang sama.

“Nama kamu bagus yah, terdengar indah” Pujiku tulus.

“Ah, masa sih Pak? Kayaknya biasa aja deh, banyak kok yg namanya lebih indah.”

“Mungkin, tapi buat saya nama kamu indah. Dan saya belum pernah punya teman atau kenalan bernama seperti namamu.” Dia hanya tersenyum, menoleh padaku sekilas, dan kembali fokus pada latihannya.

“Makasih lho Pak. Pasti Ayah saya senang mendengarnya, karena kan beliau yang memberi nama” Jawabnya lagi, kini tanpa menghentikan aktifitasnya. Tapi senyum manis itu selalu ada diwajahnya yang lebih manis.

Jeda yang membingungkan, aku hanya mampu melihat jari-jari putih mungil itu menari lincah diatas keyboard. Tak mampu berkomentar lagi. Berada didekatnya telah menjadikanku bagai ABG yang baru bertemu wanita cantik. Auranya membuatku begitu damai, sekaligus mendetakkan jantungku lebih cepat dari biasanya. Rasanya aku bisa berdiam mematung disampingnya hanya untuk sekedar memandangnya.

“Pak, silahkan diperiksa. Sudah betul belum ya?” Pertanyaannya kembali menyadarkanku bahwa aku hanya guru les komputer baginya. Dia adalah muridku selama sekitar 3-4 bulan kedepan, tidak kurang tidak lebih. Kecewa? Rasanya aku tidak berhak untuk itu.

Seruni

“Bagaimana Pak? Banyak ya salah yah?” Tanyaku sedikit cemas. Dan berharap latihan soal kali ini bisa sempurna. Aku harus segera lulus kursus komputer ini, aku harus segera mencari pekerjaan, aku harus secepat mungkin membayar utang Ayah pada Om Wahyu, aku harus…

“Hmm… Tidak, cuma salah sedikit kok.” Jawabnya singkat. Tapi mampu membuyarkan lamunanku. Ups…dia menggeserkan kursinya mendekat ke arahku. Aku bisa mencium wangi parfumnya !

“Harusnya bagaimana Pak?” tanyaku tergagap, semoga dia tidak menyadarinya.

“Jadi, yang ini harusnya begini. Setelah klik kanan, kamu pilih yang… bla…bla…bla….” Penjelasannya masuk dan mengendap di otakku dengan baik, pun wangi parfumnya menempel sempurna dihatiku. Ehem… sepertinya aku sudah gila. Orang ini kan guru lesku, masih muda memang, tapi dia lebih pantas jadi kakakku. Lho? Aku tidak sedang menyukainya kan?? Wah, bahaya nih. Aku berharap pipiku tidak memerah karena malu dengan pikiranku sendiri. Okay, back to the earth.

“Oke Pak, nanti saya revisi.”

“Kalo sudah selesai tolong panggil saya diruang guru ya.” Dia tersenyum dan beranjak pergi. Bisa kurasakan desiran angin saat dia melangkah melewati punggungku. Hmm….tentu menyenangkan sekali ya, punya seseorang tempat bersandar, seseorang untuk berbagi senyuman dan air mata, seseorang yang selalu menyayangimu. Mungkinkah Pak Kevin? Ugh…rasanya AC ruangan rusak deh..

Kevin

“Oke Pak” serunya sambil mengisyaratkan tanda “OK” dengan jarinya.

Aku hanya tersenyum dan melangkah memasuki ruanganku. Didalam sini, aku masih bisa melihatnya. Satu sisi dinding ruangan yang menghadap kelas memang didesain memakai kaca sehingga semua murid bisa terawasi.

Aku harus menghindarinya sebisa mungkin, -setidaknya untuk saat ini-, saat jantungku berdebar tak karuan hanya karena mencium wangi tubuhnya yang tanpa sentuhan parfum. Wangi yang tak pernah aku kenali sebelumnya. Wangi yang seolah mampu membiusku, menghentikan beberapa detik paru-paruku beroperasi, bahkan mampu membekukan otakku untuk bekerja dalam sekejap.

Sambil meminum air putih yang tinggal sepertiganya, mataku tak bisa lepas menatapnya. Dari arah samping pun dia terlihat begitu sempurna. Hidungnya -yang terlihat paling jelas- memang tidak terlalu mancung, tapi pas dengan wajahnya yang bulat telur. Rambutnya pun terlihat lebih hitam, walaupun dia selalu mengikatnya asal, tapi tetap saja cantik, rambut indah alami tanpa sentuhan salon. Postur tubuhnya pun sedang-sedang saja, tidak tinggi langsing bak model, juga tidak pendek atau gendut, proporsional, pokonya pas banget. Sikap fokusnya terlihat lucu, mengerutkan kening, kadang bibirnya yang dimanyunkan, atau tangannya iseng memencet-mencet hidungnya yang tak berdosa.

Seorang gadis beranjak dewasa yang terlihat tegar. Entahlah…aku merasa bahwa sesungguhnya dia tak sekuat itu. Menurut Ibu Dewi -bagian Administrasi tempat kursus-, Seruni baru saja lulus SMU, dia ingin sekali melanjutkan kuliah, tapi dia tidak ingin membebani orang tua-nya lagi, sehingga dia memutuskan untuk kursus komputer sebagai bekalnya mencari pekerjaan.

Dan saat itulah ‘pengamatan’ku terhenti, karena ada telepon masuk ke handphone-ku, yang sungguh membuatku kaget, untunglah tak sampai terjatuh dari kursi.

“my lovely wife” itulah yang tertera di monitor Nokia 8310 jadulku.

Seruni

Rasanya aku ingin bumi menelanku bulat-bulat. Ah, kenapa aku harus mendengar percakapan itu ? Very loud and clear !

“Hallo Sayang…”

Jeda

“Iya, nanti Papa pulang seperti biasa kok”

Jeda (agak lama)

“Wah, makasih banyak ya Ma udah masak sambal goreng kentang kesukaan Papa, pasti maem banyak deh nanti malam”

Jeda

“Mama juga hati-hati di rumah yah. Daahh… Miss u”

Sunyi yang membuatku pening.

Euughh…. kenapa aku harus marah ? Wajar-wajar saja bukan ? seorang istri menelepon suaminya, walaupun untuk hal seremeh itu, sekedar mengabari menu hari ini. Dan ditutup dengan kata-kata mesra ataupun ciuman. Tidak ada yang salah kan ??

Hhhh…berhenti bermimpi Seruni ! Tidak ada waktu untuk bermain cinta saat ini. Hidupmu masih panjang, dan tugasmu sekarang adalah mencari pekerjaan untuk membantu Ayah. Seruku pada diriku sendiri.

Kevin

Aku merasa malu sekali, duh…kenapa aku bisa bersikap seperti itu ? Rasa kagumku, ketertarikanku atau apapun yang sempat aku miliki untuknya, adalah sesuatu yang salah. Pantaskah aku –seorang suami yang mencintai istrinya- menyukai gadis belia muridku sendiri seperti Seruni?

Muncul dibenakku senyum Mayang istriku saat menyambut kedatanganku pulang ke rumah. Senyum yang selalu sama walaupun gajiku terkadang belum mampu mencukupi kebutuhan rumah tangga kami. Senyum yang tak pernah meninggalkan bibirnya walaupun Alif –anak lelaki kami- membangunkannya tengah malam. Senyum yang selalu mampu membuatku tersenyum.

Aku sungguh berdosa, syukurlah istriku menelepon. Aku tak sanggup jika harus kehilangan senyum indahnya itu. Maafkan aku Adinda, belum bisa menjaga hati ini sepenuhnya.

Ketukan pelan di dinding kaca mengagetkanku. Seruni memberi tanda bahwa dia telah menyelesaikan tugas yang kuberikan tadi. Aku beranjak dari kursiku menemuinya. Maafkan aku Seruni, karena telah memiliki rasa yang tak layak untukmu…

*Photo Note :

Diambil oleh sahabat saya Rofiqoh Cahya Wulan dengan kamera canggih adiknya 😛 Bunga liar yang tetap terlihat indah, yang kami temui dalam akhir perjalanan 3 jam hiking Dago Pakar-Maribaya.

0 Comments

  1. Rony Syah Ahmad

    nakal deh,,,

    Reply
  2. fanny

    wah, cerpennya bagus sis…mestinya dikirim ke majalah nih.

    Orin : huwaaa….sang cerpenis mengomentari cerpenku *ngumpet*
    Sudah pernah diikutkan di lomba menulis cerpen femina itu mba, blm bagus menurut para juri hehehe

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: