Rindrianie's Blog

Cita-cita Mul

Tinah menatap Mul yang dengan cekatan menyusun mangkuk-mangkuk berisi bakso-mie-tahu, tinggal memberinya kuah kaldu begitu pembeli datang nanti. Tinah pun sigap mengelap ulang meja calon pelanggan, menata botol kecap-saus-sambal dan tissue dengan hati-hati. Warung bakso suaminya selalu penuh pada jam-jam istirahat, tidak hanya enak, bakso buatan Mul bersih dan murah.

Tapi setelah pembicaraan mereka semalam, kesibukan di warung bakso siang ini sedikit berbeda, setidaknya demikian yang Tinah rasakan. Gamang, tidak yakin, cemas, galau, semacam itulah.

“Pelanggan kita banyak, Nah.” Begitu Mul berceloteh. Tinah setuju, meski ada warung nasi padang, pecel lele, soto Madura, dan yang lainnya di sepanjang jalan ini, hanya warung bakso mereka yang selalu nyaris penuh.

“Mereka pelanggan setia, loyal sama kita.” Lagi-lagi Tinah mengangguk sepakat. Sempat, saat Tinah dan suaminya pulang kampung, banyak pelanggan tetapnya puasa ngebakso.

“Karena itulah, Nah, mereka pasti akan mendukung cita-cita saya untuk nyaleg.” Tinah bergeming mendengarnya. Tak tahu harus berpendapat apa atas cita-cita suaminya yang ajaib itu.

“Tuh, tukang ojek dan penambal ban saja berani nyaleg, Nah. Kita juga pasti bisa.” Ucapan berapi-api Mul masih tergambar jelas di benak Tinah.

Seraya tersenyum hambar pada calon pembeli yang baru datang, Tinah mencoba mencari jawaban kegelisahannya. Apa yang harus dilakukannya sebagai istri seorang anggota dewan?

***

Note : 200 kata, ditulis khusus untuk Monday Flash Fiction Prompt #39: Bowls of Balls

0 Comments

  1. jampang

    hebat yah…. bisa nyaleg 😀

    di mata najwa kemaren… tukang sablon juga nyaleg

    Reply
  2. rahmattrans

    Wah… fenomena masuk akal ini dengan isu yang lagi hot.

    By the way, mie baksonya enak kayaknya, mbak.. hehe

    Reply
  3. danirachmat

    Sukaaaaaaaaaak. Ish fokusnya beda bener sama beberapa yang gw baca. Kebayang itu Tinah bagaimana..

    Reply
  4. Iksa

    Semoga ada banyak hal lain dibenaknya

    Reply
  5. Ryan

    Tukang bakso naik dewan. Eh bener gak yak.

    Beda dari yang lain. Hahahaha. Bukan yang bikin eneg makan bakso.

    Reply
  6. puteriamirillis

    Beneran ada ya rin yg macem gini, nyata.

    Reply
  7. kakaakin

    Hehe.. semua kalangan pada rame2 nyaleg 😀

    Reply
  8. Arman

    lagi ngetrend pada jadi caleg ya…:P

    Reply
  9. mandor

    caleg, haruskah ada persyaratan tertentu? Naah ini yang harus diselesaikan dulu
    Kalau tukang bakso, tukang tambal ban dan tukang yang lain ikut nyaleg kemudian berani bersuara lantang di dewan ya monggo saja. Tapi menurut pengalaman ya begitu-begitu saja, kalangan manapun yang jadi dewan malah mungsret lagi vocalnya

    Reply
  10. Ni Made Sri Andani

    ha ha ha.. jadi galau ya….

    Reply
  11. missrochma

    weh, memang sekarang nyaleg itu segampang balikkan tangan, ya, mbak 🙂

    Reply
  12. Baginda Ratu

    Aduh, Mul. Sudahlah, jd tukang bakso saja, nggak takut apa, kalo jd anggota dewan suatu saat nanti dipanggil kpk…? Hihihi..

    Reply
  13. prih

    Kereen Orin melihat dan menuangkan bulatan dan belitan pikiran dari semangkuk mie bakso.
    Salam

    Reply
  14. anindita hendra

    Ide ceritanya keren. Mengangkat isu yang lagi ‘panas’. Sepanas semangkuk bakso #halah

    Reply
  15. Lidya

    vote for Mul 🙂

    Reply
  16. Tituk

    kayanya ditulis abis nonton mata najwa yg edisi caleg itu ya? ada tukang ojek dan tukang tambal ban 😀 gak masalah apa pun profesinya, yg penting capable dan amanah saat mjd wakil rakyat.
    kayanya nanti mas mul kampanye sambil bagi2 bakso… hihi…

    Reply
  17. Lyliana Thia

    ada aja idenya Riiin… hehe….
    aku juga sama deh sama yg di atas.. vote for Mul.. hehehe

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: