Rindrianie's Blog

Cita-Cita Ning

“Siapa yang ingin jadi dokteeeer?”

Seorang perempuan yang selayaknya disebut ‘ibu guru’ berseru di depan sekumpulan bocah. Beberapa tangan mungil segera terangkat tinggi, diiringi teriakan ‘sayaaaa’ yang memekakkan telinga. Begitu pun saat ibu guru bertanya siapa yang ingin menjadi pilot, presiden, penyanyi, dan sebagainya dan seterusnya.

Tapi tak sekali pun, Ning mengangkat tangannya. Tak ada satu pun yang menarik perhatiannya, profesi-profesi yang disebutkan perempuan yang selayaknya dia panggil sebagai ibu guru itu terlampau biasa, tak ada yang istimewa.

Maka Ning akhirnya mengangkat tangan, ingin bertanya, kenapa satu cita-cita yang selalu tersimpan dengan baik di benak Ning, belum juga disebutkan olehnya. Tapi perempuan itu lebih dulu menanyainya.

“Ya, Ning? Kamu juga ingin menjadi Astronot?” Ning menggeleng cepat, dia tidak ingin mengapung di ruang hampa udara dan tak bisa menjejakkan kaki di atas tanah yang pernah menjadi tempatnya berlari.

“Mau jadi wartawan?” Sekali lagi Ning menggelengkan kepala. Dia tidak ingin mengejar-ngejar orang yang tidak ingin menjawab pertanyaan yang diajukan seperti yang sering dilihatnya di televisi.

“Atau mau jadi perawat?” Ning menggelengkan kepala pelan, kali ini sambil tersenyum. Menjadi perempuan berpakaian serba putih sepertinya menyenangkan juga, tapi bukan itu yang Ning inginkan.

“Jadi? Apa cita-citamu, Ning?

Ning geming. Menatap perempuan dewasa yang beberapa hari ini telah menjadi ibu guru bagi mereka di sini.

“Beritahu Ibu apa cita-citamu, Ning!”

“Mmm ….”

“Semua orang boleh punya cita-cita, Ning, setiap anak-anak seperti kalian harus memiliki mimpi,” ujar perempuan itu ceria. Meskipun Ning, dan semua anak-anak di sana tahu betul, perempuan itu hanya ingin menghibur mereka.

Tapi itu juga yang membuat Ning akhirnya berani bicara. “Saya … saya mau jadi balerina, Bu.”

Hening.

Perempuan dewasa yang selayaknya disebut ibu guru itu tersenyum, miris. Menatap kaki Ning yang berakhir di lutut dan masih berbalut perban setelah amputasi terkena meriam. Menatap mata bening seluruh bocah yang tengah menatapnya di tenda pengungsian.

***

300 kata. Ditulis untuk Prompt #101 – Sang Balerina

12 Comments

  1. bemzkyyeye

    Mewekkkk ?????

    Reply
  2. Narji

    Ya Allaah… :'(

    #sedihbgt

    Reply
  3. jampang

    hiks

    Reply
  4. jampang

    hiks….

    Reply
  5. Narji

    Sediihh :'(

    Reply
  6. junioranger

    Cerita yang inspiratif teh. Tapi menurutku kurang clue dikit di awal kalau mereka sedang di barak pengusian- Area konflik- gitu. Maaf teh. Itu saja. *dijitak

    Reply
  7. Indah

    Tidak menebar clue di sepanjang cerita, jadi agak sedikit bingung pas tiba-tiba ada kalimat “… amputasi setelah terkena meriam.”
    Meriam? Loh, ini di sekolah atau bukan? Baca lagi ke atas, gak ada clue. Baca paling akhir baru ketauan, oh, barak pengungsian. Mungkin sengaja ya supaya kerasa banget endingnya yang memang mengejutkan. Iya, suka endingnya.

    Reply
  8. damarojat

    oh sedihnya.

    saya kira di rumah singgah atau sekolah jalanan di bawah jembatan gitu mbak.

    Reply
  9. Arman

    pasti bisa ning! anything is possible 🙂

    Reply
  10. aulia

    Wah, yang begini yang sering menginspirasi para penemu kaki palsu/prostetik bekerja lebih keras lagi. ^^

    Reply
  11. eksak

    pupus …

    Reply
  12. adelinatampubolon

    Kamu pasti bisa Ning. Semangat yach nak.

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: