Rindrianie's Blog

Day#10 Aku Kembali

Cerita sebelumnya, day#9

***

Ternyata Surabaya adalah kota yang sangat panas. Dan di tempat inilah aku akan kembali melakukan hal yang gila.

Bukan, kali ini bukan mimpi ibu yang membawaku ke sini. Aku sendiri tidak yakin apakah benar perempuan yang membonceng Jingga -si gadis yang ingin melompat dari jembatan Ampera tempo hari- itu Bundo Rahmi atau bukan. Potret itu pun sudah aku berikan pada si abang tempat aku makan tekwan di dekat mesjid agung. Kemudian ibu tidak lagi bermimpi tentang Bundo Rahmi, syukurlah. Episode kegilaan Bundo Rahmi aku anggap selesai.

Hingga sebuah perintah bos untuk mengikuti seminar di Surabaya datang menghampiri. Dan rupanya episode gila masih berlanjut. Kembali aku mencari, kali ini untuk sekeping memori yang pernah menyakiti hati.

Jancuk!” umpatan seorang lelaki membuyarkan lamunanku, entah apa yang terjadi padanya barusan, tapi dia -dan sepedanya- tergeletak di jalanan aspal beberapa meter di depanku. Beberapa pesepeda yang melintas berhenti dan membantunya berdiri, berbasa basi entah apa, dan si lelaki yang baru saja terjatuh kembali mengayuh sepedanya menjauh.

Dan aku bisa melanjutkan lamunanku yang terputus. Aku ingin mencarinya. Mencari dia, lelaki yang pernah aku cinta. Mungkin untuk memuaskan rasa ingin tahuku, kenapa dia sampai tak datang di hari pernikahan kami 10 tahun lalu, lantas menghilang seolah mengasap. Walaupun rasanya jawaban apapun tidak bisa mengobati luka yang terlanjur ada.

Seingatku, lelaki itu pernah berkata, rumah orang tuanya tidak seberapa jauh dari area Kota Tua ini. Maka pencarianku mungkin tidak terlalu gila. Tapi itu bisa menunggu.

Aku ingin menikmati bangunan-bangunan tua di sekelilingku. Hanya sepeda yang berlalu lalang di jalanan ini, sepertinya setiap minggu pagi seperti iniarea ini khusus digunakan bagi para pesepeda. Entahlah, tapi ini menyenangkan, karena membuatku seolah betul-betul kembali ke zaman dulu, periode di mana sepeda adalah transportasi yang paling banyak dipakai, tidak perlu bensin, tidak perlu polusi, tidak perlu kebisingan.

“Boleh ikut duduk di sini ya mba?” seorang wanita menyapa, menggeletakkan sepedanya begitu saja dan minum seolah tak pernah melihat air selama seminggu.

“Surabaya panas ya.” ucapku padanya. Dia mengangguk cepat.

“Saya tinggal di Bandung, berkali-kali ke Surabaya tetap ga nahan sama panasnya. hedehhh..” dia mengipasi badannya dengan handuk merah yang sebelumnya tergantung di leher. “Mau keliling naik sepeda mba?” dia menawarkan sepedanya, yang aku tolak dengan cepat, aku tidak perlu tambahan keringat.

“Mba tahu Jalan Jagalan?” Tanyaku tiba-tiba. Dia mengernyitkan kening, seperti mengingat-ingat. Aku menyesal telah bertanya.

“Saya pernah makan Bakso jagalan yang terkenal itu, tapi sebelah mana ya, malam-malam waktu ke situ, diantar pula, lupa deh jalan ke sana gimana,” dia tergelak, menulariku untuk juga ikut terbahak. Ada-ada saja.

“Memangnya mau apa ke sana mba?” Aku terdiam mendengar pertanyaannya, “Barangkali saya bisa bantu.” sambungnya lagi, “Om saya orang Surabaya, biar diantar sama dia nanti.” Aku ragu. Bukan ragu pada si wanita yang telah berbaik hati padaku ini, tapi ragu akan pencarian gilaku.

“Ngga usah, makasih.” kataku sungkan. “Bukan apa-apa kok.”

“Kalau apa-apa juga ngga apa-apa lho mba,” ujarnya lagi dengan mimik yang lucu, dan detik berikutnya kami kembali tergelak kompak. Menyenangkan sekali bertemu dengannya.

“Aku Sarah,” kataku mengulurkan tangan, berinisiatif berkenalan.

“Aku Lindu,” jawabnya ramah seraya menjabat tanganku erat. “We are officially friend, now.” ujarnya lagi. Tawanya yang renyah membuatku lupa akan pencarian gilaku. “Jadi gimana?”

“Apanya?”

“Itu… Jagalan.”

“Hmm…”

“He-eh, jadi mau ke sana?”

“Ngga ah, yang berlalu biarin aja deh jadi masa lalu.”

“Cieee…gayaaaa” ejeknya lucu, seolah tahu apa yang ingin aku cari di sana. Lagi-lagi kami tergelak. Aku kembali bisa tertawa selepas ini bersamanya. Aku merasa Lindu adalah sahabat lama yang kutemukan kembali. Hei, apakah mungkin kami memang bersahabat baik di kehidupan sebelumnya? Aku tambah yakin tak ada ‘kebetulan’ di dunia ini. Pertemuanku dengan Lindu telah diatur semesta. Aku tersenyum bahagia, luka itu akan tetap ada, tapi aku memilih melupakannya saja.

Lindu menepuk bahuku pelan, “Sarah, tahu Bundo Rahmi ngga?” Hah??

Note : 620 kata, bersambung ke day#11

20 Comments

  1. nurlailazahra

    Kutunggu Bundo Rahmi di manapun beradaaaaaaaaa 😀
    ___
    Tengkyu ya Saraaaah 😉

    Reply
  2. bintangtimur

    Hah?
    Cerita tentang Surabaya yang panas?
    Duh, Oriiiiin…seandainya saja saya bisa nganterin Orin eh, Lindu ke jagalan…
    😀

    Sssst, umpatan khas Surabaya itu memang hanya orang Surabaya yang bisa melontarkannya dengan enak…hehe
    ___
    bu ir, temen kantorku ada yg orang Bojonegoro, dan sering bgt pake umpatan itu untuk segala sesuatu hihihihih

    Reply
  3. catatan kecilku

    ampunnn itu umpatan “khas” arek Suroboyo kok nongol disini ya..? hehehe
    ini cerita sambungan dari sebelumnya? maaf… soalnya udah lama gak BW dan gak blogging, jadi ketinggalan banyak.

    Oya, makasih banyak sudah nyempetin mampir ke blogku meskipun aku sempat vakum 2 bulan mbak… I really appreciate it. 🙂
    ___
    umpatan itu emang suroboyo bgt ya mba Ren hehehe.
    Welcome back mba, salam buat Shasa ya^^

    Reply
  4. LJ

    ckckck.. jangkrik..!!! 😛

    cara pengucapan ‘hedeehh..’ itu kayaknya familiar deh.
    ah, entahlah..

    semakin keren, Orin..!
    ___
    hedeeeh eMak, tadinya aku mau pake ‘jangkrik’, tapi keknya ‘jancuk’ lebih surabaya *halah* hihihihi

    Reply
  5. kempor

    surabaya emang panas banget.
    aq staun disini aja nggak nahan sama panasnya.
    blum kebisasa.

    ini serita karangan bukan sih?
    ___
    Ini cerita fiksi 🙂 Terima kasih sudah mampir yaa..

    Reply
  6. rurimadani12

    kakak orang surabay kah ? kok tahu umpatan macam itu.. :mrgreen:
    ___
    Bukan dek, malah blom pernah ke surabaya, tapi bnyak temen2 orang sana 🙂

    Reply
  7. vizon

    “Bundo Rahmi yang mana?”

    “Yang orang Bukittinggi, dan dokter gigi”

    “Oh, kalau yang itu saya tidak kenal, tapi kalau Bundo Rahmi yang emaknya Ngai, saya kenal..”

    Reply
  8. prih

    Stamina kuat dan stock kreativitas luar biasa yang bisa mengimbangi tantangan FF ini. Salut dan terus berkarya Teh Orin

    Reply
  9. mechtadeera

    setelah absen muncul di grojogan sewu dan surabaya ini, akankah bundo rahmi muncul ditempat lain? *menanti sepenuh hati *

    Reply
  10. giewahyudi

    Iya, bahasa kasar ini mungkin sudah terbiasa diucapkan di jawa timuran, jadi tidak terlalu kasar bagi yang biasa mendengarkannya..

    Reply
  11. Diandra

    huuuaaa……
    kembali lg endingnya ada bundo rahmi
    hihihi…..

    Reply
  12. ocekojiro

    Wah,,, cerita dan gaya bahasanya kereen,,, salam kenal ya.

    Reply
  13. obat sakit asma

    surabaya panas,,,,tasik kota kecil yang tadinya rimbun juga panas nih,,,

    Reply
  14. Myra Anastasia

    walopun tinggal di Bekasi yg panas, tp kalo ke Surabaya sy kok selalu merasa Surabaya selalu lebih panas ya udaranya.. Heheh…

    Teteeeuuuppp Bundo Rahmi bikin penasaran ajaaaa… 😀

    Reply
  15. Lidya

    mending di majalengka ya rin hehehe, eh siapa tua bundo rahmi lagi dimajalengka tuh 🙂

    Reply
  16. Uz 1453

    walah… umpatannya ngga kena sensor yah.. hehe

    Reply
  17. Kepedulian dan Harapan TKI

    cerita menarik ttg surabaya.
    lam kenal ijin untuk menyimak ya Gan, thanks

    Reply
  18. yuniarinukti

    Sepanas-panasnya Surabaya gak bikin kulit gelap lho Mbak, saya aja seminggu di Jakarta kulitku gosong 😛

    Reply
  19. dani

    Dan nambah satu tempat lagi. Btw Rin, berasa kayak masuk dunia supernovanya Dee Lestari ato ke dunia sophie deh.

    Reply
  20. Pingback: CerBung – Cerita Bersambung | danikurniawan

Leave a Reply

%d bloggers like this: