Rindrianie's Blog

Day#11 Sasirangan

Cerita sebelumnya, day#10

***

“Waduh!”

“Kenapa Nyai?” Kutatap wajah nenekku itu yang tiba-tiba terlihat pucat.

“Dompet Nyai ketinggalan di toko sasirangan tadi, Nak.”

“Wahhh… Kita harus ke sana lagi ya Nyai?”

“Tapi Genta tunggu di sini aja, biar Nyai bisa lebih cepat.” Aku mengangguk cepat, lagipula buatku sedikit membosankan melihat berwarna warni kain sasirangan di sana, pemandangan banyak jukung yang terapung-apung di depanku lebih mengasyikkan. Aku lihat Nyai terburu-buru berbicara pada seorang wanita, pasti ‘menitipkan’ aku, aku tersenyum seraya melambai ke arahnya yang cepat-cepat menjauh.

“Genta, mau ikut naik jukung tidak?” tante itu mengajakku seraya membuka tali ikatan jukungnya. Aku takut, tante itu adalah orang asing bagiku, kata ayah aku tidak boleh bicara dengan orang asing. “Ngga usah takut, Bundo udah bilang sama Nyai kok tadi.” tante itu tersenyum, membuatku nyaman. Akhirnya aku mengangguk.

“Mmm… tante mau belanja atau jualan?” tanyaku takut-takut. Aku lihat di jukung kami ada beberapa kain sasirangan yang masih terlipat berbungkus plastik, 2 buah melon, dan seikat bayam. Terlalu sedikit untuk dijual sepertinya.

“Bundo, panggil saja Bundo ya Nak.” tante itu, eh Bundo tersenyum lagi. “Kita jalan-jalan saja, biar kamu ngga bosan.”

“Bundo tinggal di sini?”

“Ngga.”

“Kok ada di sini?”

“Genta juga tidak tinggal di sini kan? Trus kenapa ada di sini, hayo?”

“Iya juga ya Bundo.” Aku dan Bundo tertawa-tawa, lucu sekali pertanyaanku tadi memang ya. “Bundo mau belanja apa?”

“Genta mau beli apa?” Aku diam, mengamati jukung-jukung yang kami lewati. Ada penjual ayam. Ada penjual sayur-sayuran (banyak yang aku tidak tahu namanya he he). Ada penjual kelapa-kelapa yang masih ada batoknya. Ada penjual buah-buahan (pisang, pepaya, dan jeruk). Ada juga jukung besar (kalau ngga salah Nyai bilang itu perahu klotok) seperti restoran dengan plang bertuliskan “tatamba lapar”. Sungai Barito ini sama tapi berbeda dengan Sungai Musi di kampungku. Jukung yang kunaiki juga sepertinya mirip dengan ketek. “Genta mau makan soto banjar?” Aku menggeleng cepat, tadi aku makan sop dengan ketupat bersama Nyai.

“Itu apa Bundo?” Aku menunjuk ke arah sebuah kue berbentuk bintang besar.

“Ooh..bingka. Terbuat dari kentang. Genta mau coba?” Aku mengangguk. Dan Bundo membelinya untukku. Kuenya enak!

“Bundo pulangnya ke mana?” Kami kembali ke dermaga, dari kejauhan aku bisa lihat Nyai melambai-lambaikan tangannya memanggil kami.

“Bundo bisa pulang ke mana saja, nak.”

“Bunda punya rumah banyak ya?” Bundo tertawa mendengar pertanyaanku, padahal menurutku pertanyaan itu tidak lucu. Aku pikir Bundo ini sedikit aneh deh.

“Rumah adalah tempat dimana hatimu merasa bahagia, Nak.” Aku menatap Bundo lama-lama. Maksudnya apa sih? Aku tidak mengerti.

Nyai membantuku keluar dari jukung. Bundo dan Nyai berbincang-bincang, aku menikmati kue bingkaku dalam diam. Bertanya-tanya dalam hati apakah Nyai tahu rumah Bundo di mana.

“Nah, ini untuk Genta.” Bundo memberiku sebuah ikat kepala kecil dari sasirangan berwarna merah. Bagus sekali.

“Terima kasih Bundo.” kataku senang. Bundo memelukku erat.

“Jadikan jagat raya ini sebagai rumahmu ya, Nak” bisiknya di telingaku. Aku menatap matanya lagi, dia tersenyum, hangat. Dan aku masih tidak mengerti.

“Sampa jumpa lagi Bundo Rahmi.” Nyai berpamitan dan menggenggam tanganku menjauhi pasar terapung.

Note : 491 kata, bersambung ke day#12


hedehhh…susah ternyata jadi anak kecil 😛

9 Comments

  1. nurlailazahra

    iya, aku bisa merasakan kesusahanmu itu Teh 😀
    ___
    begitulah sarah hehehe

    Reply
  2. Lidya

    ooh ini ceritanya jadi anak kecil ya 🙂
    ___
    Iya Teh, ceritanya Genta baru berusia 6 taon 😀

    Reply
  3. Diandra

    pasti akan lebih cantik dgn ikat kepalanya
    ___
    Teh Iyaaan, Genta mah cowok ih masa dbilang cantik wew 😛

    Reply
  4. irmarahadian

    kain sasirangan bagus y teh..
    ___
    Baguuuus, tapi aku jg blom punya mba 🙁

    Reply
  5. LJ

    eMak tadi sudah baca lewat hape, tapi gak bisa komen.

    Bundo itu serba bisa ya..
    naik motor dan mengendarai jukung juga
    ckckck.. 😛

    Orin cukup berhasil jadi anak kecil
    memang sulit.. lebih gampang jadi remaja kayak si Ngai.
    lanjutkan..!

    Reply
  6. bintangtimur

    Rumah adalah tempat dimana hatimu merasa bahagia…
    Setujuuuu pisan, Orin!
    😀

    Reply
  7. mechtadeera

    Yaah..yg dapat sasirangan cuma Genta ya Rin? padahal aku juga pengen lho..hehe…

    Reply
  8. dani

    Iya Rin, agak terlalu resmi si Gentanya. Hihihihih.

    Reply
  9. Pingback: CerBung – Cerita Bersambung | danikurniawan

Leave a Reply

%d bloggers like this: