Rindrianie's Blog

Day#11 Tentangmu yang Selalu Manis

“Ghe, tim di Mentawai masih kekurangan orang.”

“Tapi kau baru saja pulang dari Rinjani, Nu.”

“Aku tahu, tapi mereka perlu pertolongan Ghe.”

“Ya, tapi tidak harus kamu kan? Banyak anggota SAR yang lain kan?”

“Ghe…”

“Aku lelah selalu mengkhawatirkanmu Ranu!”

“Apakah itu artinya kau tak lagi ingin bersamaku Ghe?”

Episode itu berkelebat lagi di kepalaku, membuatku menangis tanpa air mata, memandang fotomu yang tersenyum padaku, hampa.

“Kau bisa ikutan mati di sana Nu.”

“Aku bisa mati kapan saja Ghe, di mana pun.”

“Tapi Nu…”

“Sudahlah Ghe, bukan sekali ini aku pergi. Aku akan kembali, semoga…”

Episode terakhir yang terrekam memoriku. Aku berhenti bertanya kau pergi ke mana, hal terpenting bagiku adalah kau pulang. Tapi ini adalah hari ke-368 sejak kau pergi, dan sekian hari pula aku merindumu, mengingat segala tentangmu yang selalu manis. Keteguhan hatimu, ke-keras kepala-anmu, kepedulianmu, cintamu yang terlalu besar untuk diberikan hanya buatku. Aku bangga padamu, tapi aku pun menginginkanmu di sini, memelukku mungkin?

Episode lain menghampiri imajiku.

“Kenapa kau ingin menjadi tim SAR, Nu?”

“Karena tidak banyak orang yang bersedia melakukannya Ghe.”

“Lantas?”

“Aku hanya ingin menjadikan diriku berguna.”

“Kau selalu bisa memilih cara lain.”

“Pilihanku menjadi tim SAR.”

“Ada yang bisa merubahnya?”

“Tak ada, seperti tak ada yang bisa merubah rasa cintaku padamu.”

Ah, semua tentangmu selalu manis Ranu. Mungkin itulah kenapa aku pun tak bisa berhenti mencintaimu. Tapi sekarang kau hilang, aku tak bisa mencarimu, kau pun tak pernah menghubungiku, apakah bumi telah menelanmu? Kembali aku menangis tanpa air mata mengingatmu.

“Non, ada tamu..” Bi Inah mengetuk pintu kamar pelan. Aku melihat diriku di cermin sebelum beranjak, tapi yang aku lihat adalah bayanganmu. Mungkinkah aku sudah gila?

“Ghea…” terpaku aku memandang siluetmu dalam senja yang jingga.

“Ranuuuuu…” pekikku bahagia. Ranu-ku pulang. Dan senja tak pernah seindah ini sebelumnya, karena ada kamu dalam pelukku.

***

*Note : 304 kata. Yeayyy….akhirnya bisa juga nulis yang happy ending!

0 Comments

  1. Lidya

    langsung pelukan ya 🙂 bukan cuma ghea deh yang khawatir kaya gitu, kita juga pasti khawatir kan rin

    Reply
  2. Ngai

    klo ranu gak pulang, bisa rinai bertahun tahun ya teu..? 😛

    selamat pagi Ateu sayang..

    Reply
  3. yustha tt

    Setahun itu lama yaa… #uhuk…menangis tanpa air mata

    Reply
  4. vizon

    Waduh… ini cerita bersambung ya? Ketinggalan jauh nih saya. Baiklah, mari baca dari awal, hehe..

    Btw, endingnya menyenangnkan dan saya selalu suka ending yang bahagia.. 😀

    Orin : Bukan cerita bersambung kok Uda, iseng2 aja ini mah hehehe

    Reply
  5. Dhenok Habibie

    sukaaa.. simple, pendek, indah, dan tuntas.. semenjak ikutan FF ini, mbak Yin jadi jago bikin cerita fiksi.. ajarin yaa kalo FF ini udah selsai 😀

    Reply
  6. warm

    ah ttg SAR , suka saya 😀

    Reply
  7. wahyu siswaningrum

    Ah, lebih dari setahun yah?

    Reply
  8. fanny

    keren.adegannya mirip 5 cm lho

    Reply
  9. Melissa

    Haduh udah nyaris lemes kirain sad ending.. eh ternyataa 😀 😀

    Reply
  10. kakaakin

    Huhu… ending yang mengharukan… 🙂

    Sementara diriku belum membuat FF ini… 😥

    Reply
  11. Sandy Prayoga

    suka nulis cerpen yah

    Reply
  12. Gaphe

    cieeeh ketemu lagii akhirnya.. uhuiiy.. so swit deeh ini mah.

    jadi pengen jadi ranu #loh?

    Reply
  13. Lyliana Thia

    finally… hihihi…
    jempol dulu ah buat Orin 😀

    Reply
  14. mylitleusagi

    akhirnya ending nya bahagia ya..
    salut sama teh orin…
    bisa ikut tantangan ini ..
    aku mah angkat tangan 😀

    Reply
  15. rizalean

    Kecele lagi diriku. Kupikir ghea menjadi gila, dan memeluk bayangan ranu :). To be honest, tak selalu happy ending itu membuat happy pembaca. It’s just to easy 🙂

    Reply
  16. opiphost

    setia berakhir bahagia yaa 🙂
    ___
    hehehe

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: