Rindrianie's Blog

Day#13 Aku Tak Mengerti

Cerita sebelumnya, day#12

***

Hei, udah nyampe Makasar? Jangan lupa beliin aku kopi asli Toraja itu lho ya. Have fun di sana┬á­čśë

SMS dari Lindu itu aku baca berulang-ulang, dan berulang-ulang, entah sudah berapa kali. Belum lagi saat bibir ini menyunggingkan senyum yang tak kumengerti kenapa setiap membaca SMS itu kembali. Padahal, hingga detik ini pun, belum juga aku bisa membalas SMS manis itu dengan kata-kata indah yang -semoga- bisa juga membuatnya tersenyum. Kawan, apakah ini yang disebut jatuh cinta?

“Nah, sudah sampai kita.” Abang tukang becak berhenti di depan Museum kota Makassar, menghentikan lamunan sekaligus senyumanku akan seorang Lindu. Wanita yang kukenal di Bandung tanpa sengaja, Bundo Rahmi -walaupun saat itu hanya berupa lukisan pensil- yang mempertemukan kami.

Oh ya, aku sedang menjadi kurir seperti biasa, dan lagi-lagi, aku diantar ke gedung tua saat ingin berwisata di kota yang kudatangi. Aneh. “Selamat menikmati…” Si abang tersenyum saat aku memberinya uang. Mmm…apakah aku harus memanggilnya dengan sebutan ‘daeng’ ya?

“Makasih ya.” akhirnya aku memilih menyapa si abang tanpa embel-embel apapun, dan si abang segera berlalu dari depanku tanpa kata. Meninggalkanku di depan gedung tua 2 lantai bergaya eropa di abad ke-17, entah kenapa aku jadi membayangkan Lindu dengan pakaian mengembung dan berpayung seperti noni Belanda zaman baheula. Tanpa sebab yang jelas, aku tersenyum, lagi. “Bundo, pernahkah Bundo jatuh cinta sepertiku?” tanyaku dalam hati pada Bundo Rahmi yang entah ada di mana.

Iya, nanti dibeliin kopi Toraja. Aku lagi di Museum Kota Makassar nih, seandainya kamu juga di sini..

SMS itu akhirnya aku kirimkan juga, diiringi degup jantung yang melompat-lompat. Memberikan sensasi aneh yang tidak mampu aku namai apa. Beginikah rasanya mencinta, kawan?

Mauuuu… Ada apa aja di sana Tau? Ih pasti seru┬ádeh wisata museum kek gituh┬á*ngiri*

SMSku langsung dibalas! Ini┬ámembuatku terperanjat, apakah Lindu begitu menantikan SMS dariku? Hatiku menghangat, pipiku memerah. “Heh anak Bukik, belum tentu dia merasakan hal yang sama padamu.” Aku mengingatkan diriku sendiri. Ya tentu saja, seorang kurir sepertiku, manalah pantas bersanding dengan wanita pekerja kantoran sepertinya. Tapi, bukankah cinta tak pernah salah?

Mungkin sebaiknya aku tidak membalas SMS Lindu, setidaknya tidak sekarang. Aku ingin menikmati sang museum yang berdiri gagah di depanku ini dulu.

Meriam kecoklatan menyambutku di halaman depan. Langkah berikutnya aku seperti kembali ke masa Belanda, maksudku, aku merasa berada di zaman itu karena bangunan khas kolonial ini, dengan dinding tebal dan jendela-jendela besar yang menjulang. Selanjutnya ada koleksi batu-batu yang ditemukan di Benteng Somba Opu. Kemudian berbagai keramik Cina dan Jepang yang dibawa para pelaut Makassar. Lantas kepingan-kepingan uang bergambar Ratu Wilhelmina. Juga perjanjian Bungaya antara VOC dan Sultan Hasanuddin. Tapi detik berikutnya pikiranku kembali pada Lindu. Aku mulai mengerti kenapa cinta bisa membuat seseorang gila.

Lindu, aku rindu padamu..

SMS terkirim, dan aku tak berani menduga apa balasnya.

Note : 455 kata, bersambung ke day#14


Maafkan temans, saya sedang jatuh cinta (lagi) mihihihihi

9 Comments

  1. ~Amela~

    waah.. lindu kayaknya jadi primadona yaa.. semua tokoh prianya dibikin kesengsem sama lindu ­čśÇ

    Reply
  2. Idah Ceris

    Teh Orin. . Aku rindu padamu. . . ­čść

    Reply
  3. Ngai

    Ateu nanya apakah bundo rahmi pernah jatuh cinta..

    ini setau Ngai sih ya.. #ini antara kita ajah.
    kayaknya siyh pernah sekitar 299 kali.
    itu yg ketauan aja, belum lagi yang tidak tercatat. ­čśŤ

    tapi ateu.. sungguh..
    debar-debar cinta Bukik sungguh terasa
    sampe ke bukik sini..!

    Reply
  4. mechtadeera

    untung dia gak balas dulu sms Lindu, klo tau Lindu sedang ketemu si Mister..ah..bakalan suram terlihat museum itu di matanya..hehe..

    Reply
  5. prih

    Punten Teh Orin, aku tak mengerti …… sesaat tertinggal di Surabaya, hingga mengejar Lindu ke Banjar, Besakih dan Makasar secara maraton 3 episode. Melaju dalam karya Teh

    Reply
  6. bintangtimur

    Wah, ceritanya di museum di kota Makassar, Orin…cerita cinta pula, ah, ah…kenapa saya kok jadi ikutan berdebar..?

    Reply
  7. nurlailazahra

    hmm…..SMS nya patut dicontoh nih, hihihihi

    Reply
  8. dani

    Tuuh kan Oriiiin, bikin ceritanya mitu loh tajem bangetttt

    Reply
  9. Pingback: CerBung – Cerita Bersambung | danikurniawan

Leave a Reply

%d bloggers like this: