Rindrianie's Blog

Day#14 Langit Pun Tersenyum

Cerita sebelumnya, day#13

***

Wakatobi memang surga bawah laut yang mempesona. Tak menyesal aku hampir menghabiskan tabunganku untuk pergi ke sini. Pulau Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko yang menawan ini sudah membuat hatiku tertawan. Walaupun, tetap saja tak sempurna karena tak ada Genta yang sudah aku rindukan bahkan sejak aku meninggalkannya bersama Ibu di bandara. Apakah anak itu menikmati perjalanannya ke Barito?

Aku lanjutkan snorkelingku dengan semua cerita di kepalaku, yang akan aku kisahkan pada Genta nanti. Tentang terumbu karang indah di kepulauan eksotis ini, dengan semua nama-nama latinnya yang terdengar merdu. Acropora formosa, A hyacinthus, Psammocora profundasafla, Pavona cactus dan entah apa lagi. Juga tentang berbagai ikan hias warna warni yang menari-nari merayakan kehidupan. Cephalopholus argus, naso unicornis, Balistoides viridae-scen, Cheilinus undulatus dan teman-temannya. Tak ada ikan gabus yang bisa aku racik menjadi adonan pempek. Haha, seketika aku merindukan kampung halamanku.

Pantai, laut, dan semua derivasinya selalu mengingatkanku akan Lara, wanita terindah yang menghadiahkan seorang Genta untukku. Wanita yang aku kenal di pantai Pangandaran bertahun lalu, untuk kemudian hilang entah di lautan mana. Bercengkerama dengan samudera selalu membuatku merasa dekat dengannya, berbincang dan bercanda, mendekapnya mesra. Tapi rupanya manusia -khususnya aku- tidak didesain untuk bisa hidup hanya dengan kenangan. Kecewa dengan pikiranku sendiri, aku menyudahi snorkelingku setelah satu jam berlalu.

Aku melangkah menuju hotelku setelah mengembalikan peralatan snorkeling. Wakatobi cukup ramai di bulan Juni, konon karena bulan depan ombak setinggi gunung sudah mulai datang hingga sekitar September nanti. Harus aku beri tahu Genta -kalau dia sudah besar nanti- untuk memperhatikan hal-hal semacam ini saat ingin berwisata.

Masih banyak waktu sebelum aku kembali pulang ke Palembang. Aku ingin menikmati Wakatobi sebentar lagi. Menikmati airnya yang biru kehijauan, menikmati deburan ombaknya yang mendayu, menikmati semilir angin laut yang menyapaku ramah. Dulu, di pantai yang lain, aku pernah menikmati ini semua dengan Lara.

Di kejauhan, kulihat seorang perempuan yang tak biasa. Di antara paradiver dan wisatawan berbusana pantai, rok panjangnya melambai dimainkan angin, dan rambutnya tertutup sebentuk kain berwarna…merah. Saat itu juga muncul kepingan-kepingan adegan di kepalaku. Seorang wanita yang memesan semangkuk tekwan. Secarik potret yang tiba-tiba saja diberikan wanita itu padaku. Bundo Rahmi -si wanita yang “ada di dalam potret- yang mendatangiku dalam mimpi. Gadis berkerudung merah yang kutemui di danau Toba. Pertemuan berikutnya dengan Lindu -nama gadis itu- di pantai Pangandaran. Khayalanku tentang Lindu yang akan Genta panggil ‘ibu’ setelah Lara. Semua puzzle itu masih berserakan di otakku.

“Hai…” wanita berkerudung merah itu kini ada di depanku. “Sepertinya saya pernah melihat anda.” Aku masih bergeming menatapnya. Ya, aku pun seperti mengenal wanita itu, entah di mana.

“Anda pernah pergi ke Seberang Ilir? Sungai Musi, Jembatan Ampera?” aku mulai menduga-duga.

“Ah ya, anda adalah si abang tekwan yang ramah melayani saya!”

“Dan anda adalah wanita yang memberi saya sehelai potret bergambar Bundo Rahmi!” seruku takjub, “Tapi saat itu anda belum berhijab seperti ini…” lanjutku. Dia tersenyum, jilbab merahnya terlihat kontras dengan pipi berwarna gading miliknya. Cantik.

“Ya, saya berubah, semoga menjadi lebih baik,” ujarnya seraya memperbaiki jilbabnya yang baik-baik saja. “Tidak bisa dipercaya ya, kita dipertemukan kembali di sini.” Aku mengangguk mengiyakan. “Saya Sarah” sambungnya lagi.

“Saya Arfan,” jawabku singkat, tak ada tangan yang menjulur untuk aku jabat. Kami hanya saling bertukar senyum. “Dik Sarah sendirian saja ke sini?” Hati kecilku berharap dia memang datang sendiri.

“Tidak, bertiga dengan teman kantor, kami sedang ada pekerjaan di Buton.”

“Ooh…”

“Bang Arfan sendiri saja?”

“Iya.” perbincangan ini canggung buatku. Sarah bukan Lindu, dan keduanya tidak sama dengan Lara. Tapi aku merasakan debar yang sama. “Hei Genta, tolonglah Ayah” rutukku dalam hati.

“Bang Arfan, anda terlihat…bingung.” aku tertawa, terus tertawa karena tebakannya begitu benar. Beberapa detik berikutnya dia pun ikut tertawa, menertawakanku yang sedang tertawa.

“Sarah, apakah kau percaya akan cinta?” Tanyaku setelah tawa kami mereda.

“Kau sedang jatuh cinta bang Arfan?”

“Mungkin.” Aku sungguh-sungguh tidak tahu, “Entahlah.”

“Saya pernah mencintai seorang pria yang mempermalukan saya bang, dia tidak datang di hari pernikahan kami,” hatiku perih mendengarnya, “tapi saya masih percaya akan cinta.” Sarah menatap mataku sekian detik, dan kemudian tersenyum. Menulariku untuk juga ikut tersenyum. Entah kenapa aku merasa yang dimaksudkan Bundo Rahmi dalam mimpiku adalah Sarah.

“Saya pun masih percaya akan cinta, Sarah.” Ucapku perlahan, dan langit pun seolah tersenyum.

Note : 695 kata, bersambung ke day#15


#eeaaa… jadi cinta-cintaan ginih sih? qiqiqiqi

17 Comments

  1. ~Amela~

    ooo.. ternyata bukan lindu, tapi sarah..
    wakatobi.. hahhaha.. aku udah deket begini sama surga bawah laut itu tapi belum sempat ke sana,, belum ada waktu maupun surat tugas ke sana.. hehehe (ngarepnya gratisan)
    kalau main ke wakatobi mampir ke baubau ya teh 😀
    ___
    eyampun Mel, cepetan dikunjungi mumpung masih disana..

    Reply
  2. jaka

    Salam Kenal Ya Untuk Semuanya..

    Reply
  3. Bibi Titi Teliti

    Lhooooo????
    terus? Terus??
    nge gantung gini euy 🙂

    Setelah berapa episode lagi nih Rin si Sarah dan Bang Arfan menikah dan kemudian punya 2 anak?

    *okay, hentikan nonton sinetron sekarang juga!*…hihihi…

    Reply
  4. nadiaananda

    Weleh weleh.. Begini ya.. Ketika Orang Berilmu memberikan Ilmunya hanya ada 1 Kalimat “Semoga ilmu itu Berguna Untuk Orang Lain”.. 🙂

    Reply
  5. Bibi Titi Teliti

    Riiiiiin…
    aku pindah blog dulu buat sementara yaaaah….

    Reply
  6. LJ

    whuihh sudah sampai wakatobi aja nih Rin..

    # padahal cobain aja loh.. Cephalopholus argus atau naso unicornis dibkin mpek-mpek.. kayaknya enak juga. 😛

    Reply
  7. bintangtimur

    Riiin, sekarang di Wakatobi?
    Ah, ah..puzzle-puzzle itu rupanya belum terkumpul juga 😉

    *sumpah, hese komen, Rin…hihihi*

    Reply
  8. mechtadeera

    uhuy..makin bersegi-segi nih…. 🙂
    Eh..tapi kan udah 14 ya… jadi tinggal 1 lagi dong? ah…
    ___
    segi banyak Auntie hihihihi…

    Reply
  9. Evi

    Bang Arfan feminim sekali ya Teh. kata2nya romantis. eh tahu2 ngomongin cinta. untug sarah tak meliuk hatinya 🙂

    Reply
  10. Yunda Hamasah

    Abang tekwan di Palembang emang ramah-ramah ya Rin, hehee…

    *lanjutkan!!!

    Reply
  11. kontraktor bangunan

    salam kenal slalu yaa…:)

    Reply
  12. yuniarinukti

    Mbak Orin pernah ke Wakatobi? klo belum saya acungi jempol deh karena tulisannya seolah-olah pembaca berada disana..
    ___
    Belom pernah mba Yun. Biasaaa…hasil tanya mbah gugel hehehehe. tengkyu ya 😉

    Reply
  13. nurlailazahra

    hihihiihihi, jadi geli sendiri deh mbacanya 😀

    Reply
  14. melly

    Udah ke 14 aja ini mba ff-nya.
    aku baca yg lain dulu yah.. 🙂

    Reply
  15. Baby Dija

    jadi lapeeeeeeeeerrrr…..

    Reply
  16. dani

    Puyeng gw Rin. Bikin penasaran banget siiikkk

    Reply
  17. Pingback: CerBung – Cerita Bersambung | danikurniawan

Leave a Reply

%d bloggers like this: