Rindrianie's Blog

Day#15a Sah!

Berdebar aku menatap bayanganku sendiri di cermin. Sesosok wanita yang terpantul di sana begitu memukau, begitu bersinar, begitu bahagia, benarkah itu aku? Tak berapa lama lagi aku akan sah menjadi Nyonya Adrian! Aku tersenyum pada bayanganku sendiri, tersipu.

“Siap-siap ya Neng. Akadnya jam 11 kan? Harusnya 15 menit lagi rombongan pengantin pria datang.” Bu Ratih –periasku- datang tergesa, mengecek riasan wajahku yang rasanya sudah sempurna. Aku hanya mengangguk.

“Neng keluar setelah ijab kabul, saat itu Neng sudah sah menjadi istri.” Ucapnya lagi menggodaku, seraya membetulkan rangkaian melati yang menghias rambutku. Lagi, aku hanya mengangguk, kali ini dengan tersenyum gugup.

“Nanti Ibu panggil ya.” Katanya lagi sebelum beranjak, kudengar kesibukan di luar kamarku saat bu Ratih membuka pintu sekejap, dan kemudian kembali sunyi.

Kamarku kini begitu indah, penuh aneka bunga berwarna putih tertata, seprai cantik yang juga berwarna putih, semuanya serba putih, tak berlebihan rasanya aku berangan sedang berada di surga, dan aku adalah bidadari satu-satunya di sana. Ah, selalu seperti ini kah perasaan si pengantin?

15 menit ini seperti selamanya. Tapi 15 menit seharusnya tidaklah selama ini. Kenapa Ibu Ratih tak juga memanggilku? Jam berapa sebetulnya sekarang?

Aku tak bisa melihat ke halaman depan dari jendela kamarku ini, aku pun tak punya keberanian untuk membuka pintu itu dan bertanya kenapa keriuhan tadi pagi kini terdengar ramai dengan aura yang berbeda? Maka aku hanya terpaku menatap sebentuk kolam dengan ikan-ikan kecil berenang-renang ke sana ke mari di luar jendela. Kau pasti datang ‘kan Adrian? Tanyaku pedih.

Adzhan Ashar sayup terdengar. Aku masih mematung menatap ikan warna warni yang seolah tak bisa diam di kolam itu. Aku tahu Bunda berdiri sunyi di belakangku dalam isaknya yang tertahan.

“Ra… Yang kuat ya Sayang?” perlahan Bunda mengambil satu per satu melati di rambutku.

“Apa salah Rara, Bunda?” tanyaku akhirnya. Dan kemudian Bunda hanya memelukku erat dalam tangisnya yang kini menderas. Sementara aku hancur mendebu.

“Sah!” kata itu hanya menggema berdengung dalam imajiku. Selalu ada di sana tanpa pernah bisa melenyap. Aku mengerti, satu-satunya kesalahanku adalah pernah mempercayai lelaki brengsek sepertimu, Adrian.

***

*Note : 337 kata

Rupanya karena ini hari terakhir, kami ditantang untuk membuat 2 judul FF sekaligus! pengsan. Saya coba buat sekuel saja untuk cerita berikutnya, karena berimajinasi dan menuliskannya saat menikmati kram perut ternyata tidak mudah hehehe…

0 Comments

  1. rina s esaputra

    duh jadi turut bersedih..

    Reply
  2. yustha tt

    adrian gk dtg to? ealah…

    Reply
  3. Sarah

    kenapa harus berujung sedih ya? 😀

    Reply
  4. phuucil

    ini ada apa ini ada apa? *celingukan nyari adrian*

    Reply
  5. Iqoh

    muantabbbbb…..

    Reply
  6. nique

    ulah pingsan atuh ….
    klo pingsan ntar siapa yang njamu tamu yg datang kemari hehehe

    Adrian ada di mana sekarang? Biar tak bantu nimpukin hehehe

    Orin : Adrian kelelep di Senggigi Kak huahahaha

    Reply
  7. kettyhusnia

    lho?? sedang sakit tho mbak?? kram??

    Reply
  8. RuriOnline

    kenapa ngga gaet orang lain aja untuk jadi mempelai pria? hehehe

    Reply
  9. Pingback: Day#15b Menikahlah Denganku « Rindrianie's Blog

  10. Tebak ini siapa!

    Eh jadi nggak dateng gitu manten prianya? Sedih 🙁

    Reply
  11. rizalean

    Adrian di tangkep polisi. Kasus bobol BNI kan, tapi bentar jg keluar penjara kok dgn puluhan miliar di rekening. Sabar menanti aja:)

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: