Rindrianie's Blog

Day#3 Jingga di Ujung Senja

Cerita sebelumnya, day#2

***

“Percayalah pada Ibu, Sarah.”

“Tapi itu tidak mungkin, Ibu. Bagaimana mungkin Sarah bisa menemukan…”

“Lakukan demi Ibu, Nak. Setelah ini tidak ada apapun yang akan Ibu minta darimu.”

“Itu hanya mimpi Ibu, tidak bermakna apapun.” Ibu terdiam, memberiku tatapan yang tidak bisa aku namai. “Baiklah,” Aku menyerah,  “tapi maaf jika Sarah tidak berhasil melakukannya.” Detik berikutnya Ibu memelukku, erat.

Kepingan dialog itu menemuiku tepat saat suapan terakhir tekwan masuk ke perutku. Kalau boleh, aku ingin sekali menyebut ibuku sudah mulai gila. Tapi tentu saja aku yang lebih gila karena sudah menuruti keinginan gilanya untuk melakukan sesuatu yang gila. Bah, gila kuadrat!

Mokaseh.” ucap si abang tekwan saat aku berlalu dari warungnya. Aku mulai terbiasa dengan semua aktifitas di Seberang Ilir ini. Mesjid agung yang megah, air mancur yang menawan, dan jembatan ampera yang -buatku- terlihat sedikit angkuh di kejauhan.

Sudah 2 hari aku di kota ini, dengan berbekal selembar potret menanyai setiap orang di sini saat petang menjelang, mengamati dengan cemas setiap wanita yang kulihat, upaya yang sia-sia belaka. Semuanya hanya demi mimpi Ibu yang -maaf, sekali lagi harus katakan- gila.

Mimpi yang bercerita wanita dalam potret melambaikan tangannya dari atas sebuah ketek yang melintasi Musi di ujung senja. Tak ada lagi ketek yang menyeberangkan manusia belakangan ini. Apa mungkin Bundo Rahmi melakukan operasi transgender lantas beralih profesi menjadi tukang ketek menyeberangkan karung-karung seperti Bapak tua di tengah sungai itu?

Aku keluarkan sekali lagi potret yang diberikan Ibu padaku. “Potret ini tiba-tiba saja tergeletak di halaman rumah kita, Nak.” begitu Ibu berkisah sebelum menceritakan mimpinya. Potret itu mungkin diterbangkan angin dari dalam tas si anak muda Minang yang Ibu temui hari itu. Yeah, aku tahu itu memang terdengar gila.

Aku akan pulang ke Belitong besok pagi walaupun tanpa hasil. Setidaknya sudah kutunaikan pinta Ibu padaku. Maka senja ini aku ingin menikmati keindahan Sungai Musi, tanpa berupaya mencari seorang wanita yang belum pernah aku temui. Dari tempatku duduk, aku bisa melihat langit senja yang beranjak menjingga dengan latar jembatan ampera sepanjang 1.177 meter itu dengan leluasa. Cantik.

“Indah yaYuk.” Tiba-tiba saja seorang gadis duduk di sebelahku. Gadis ini jauh dari sosok Bundo Rahmi dalam potret yang kini tersimpan aman dalam tasku. “Bagaimana menurut Ayukjika aku meloncat dari atas jembatan ke perut sungai Musi yang terlihat tenang itu?” Hah? Banyak sekali orang gila di dunia ini ternyata. “Aku bisa mati dengan cepat ‘kan?”

“Tidak perlu lah meloncat dari atas sana untuk mati, Dek.”

Ayuk tahu cara lain yang lebih oke?” Mata bulatnya menatapku penuh harap. Ya ampun, kenapa gadis ini ingin mati segala sih?

“Kamu akan mati kalau sudah waktunya mati.” jawabanku tentu saja mengecewakannya. Dia mendengus sebal, menyandarkan punggungnya dan melipat kedua tangan di depan dada. Ngambek.

“Tapi hidupku menyebalkan, Yuk.  Aku mau mati saja.”

“Kenapa?”

“Ayahku kawin lagi, Yuk. Pacarku juga selingkuh.” Aku membekap mulutku sendiri dengan tangan untuk menahan tawa. “Aku malah tidak lulus UAN kemarin. Pokoknya aku kepingin mati saja lah Yuk. Malu rasanya.” Aku terdiam, perasaan malu itu bisa kumengerti. Si gadis belum gila, dia hanya sedang bersedih dan kecewa, itu saja.

“Tegarlah, Dek. Itu ujian buatmu.”

“Aku ngga kuat,Yuk.

“Yang menentukan kuat atau tidak bukan kamu, tapi Tuhan.”

“Kali ini Tuhan salah, buktinya aku ngga kuat.” Hhhh….kenapa gadis muda selalu keras kepala?

“Tuhan ga sembarangan pilih orang buat dikasih ujian Dek. Ujian kecil buat orang kecil, ujian yang susah-susah khusus buat orang spesial. Kayak kamu.” Si gadis tercengang. Menatapku tak berkedip, membuatku jengah setengah mati. Tapi tak sampai membuatku ingin loncat dari jembatan Ampera tentu saja.

“Jadi… jadi… aku istimewa ya, Yuk?” Aku menggangguk mantap. Dan tiba-tiba saja dia memelukku, membuatku tak punya pilihan lain selain balas memeluknya. Senang rasanya gadis ini kembali ceria.

“Jinggaaaa…. ayo pulang.” Si gadis melepas pelukannya, senyum masih terlukis di wajah cantiknya. Teriakan itu rupanya untuknya. Jadi namanya Jingga? Jadi maksud mimpi Ibu itu…

“Terimo kaseh ya, Yuk.” ujarnya cepat, dan berlari ke arah suara yang memanggilnya, seorang wanita yang sudah siap di atas motor, langsung berlalu begitu si gadis naik. Mereka berdua melambaikan tangan ke arahku, yang kubalas dengan melambaikan tanganku lebih semangat.

Tunggu dulu! Kenapa wanita yang membonceng Jingga itu mirip sekali dengan Bundo Rahmi?

Note : 685, bersambung ke day#4

30 Comments

  1. melly

    Ahhh… siapa bundo rahmi?
    siapaaa? 😀

    keren bgt teh
    ___
    Aku jg blom pernah ketemu sm dia Mel hihihihi

    Reply
  2. deanmu

    ini sekuel ff yang kemarin ya mbak??? Weh keren nih cerpennya. Napa ga nulis di http://cerpenmu.com aja biar bisa go nasional hehe
    ___
    Waduh, masih belajar Deanmu, blom pede hehehe

    Reply
  3. BUNDO RAHMI

    Jingga tak ingat pesan Bundo, jangan bicara dengan orang asing..
    ___
    hihihi…dimaklumi ya Bundo, Jingga msh ababil *halah*

    Reply
  4. nurlailazahra

    Judulnya mantab!!!!! makin seru sajo nih 😀
    ___
    Kalo judul memang sudah ditentukan Sarah 🙂 Oh iya, kupinjam namamu ya hehehe

    Reply
  5. ~Amela~

    jadinya bersambung ya teh.. bisa jadi novel nih nanti teh 😀
    ___
    he-eh, planningnya gitu Mel *ngayal dot com* he he he

    Reply
  6. fanny

    wah makin misterius nih.
    ___
    (sok) misterius mba Fan heuheuheu…

    Reply
  7. si belo

    jangan2 ibu Rahmi kembar.. #ehh..

    Untung aje ada Ayuk, jd niat jingga buat bunuh diri kagak terjadi..:)
    ___
    Bisa jadi Nay, hihihihihi

    Reply
  8. Teguh Puja

    Masih menunggu sampai akhir. 🙂
    ___
    Duh, makasih lho Teguh^^

    Reply
  9. damalyk

    wah, sepertinya harus dibaca dari Day#1 neh..

    salam kenal dulu deh 🙂
    ___
    Terima kasih sudah berkenan mampir 🙂

    Reply
  10. mechtadeera

    ah, ternyata yg kebagian jalan2 kali ini anak si ibu penjual itu ya…
    makin seru nih… *dan untungnya masih lama sebelum day#15, hehe…*
    ___
    Iya Auntie, entahlah besok siapa lg yg berpetualang ke mana hihihihi

    Reply
  11. 'Ne

    Teh Orin emang oye deh 😀
    kaya kosakata dan ide juga hehe..
    jadi mau disambung ya Teh? bolehlah ditunggu yaa 😉
    ___
    iya Ne’, pengen nyobain bikin cerita bersambung he he he

    Reply
  12. mechtadeera

    Riin…kaya’nya kapan2 mesti ada di Dieng deh, Bundo Rahminya..hehe… *nungguin Orin merefleksikan keindahan telaga di sana dengan kata2 indahnya..*
    ___
    Settingnya bukan Orin yg nentuin Auntie, mudah2an aj Dieng jd pilihan mimin berikutnya hihihihi

    Reply
  13. rurimadani12

    nyambung ya kak sama yang kemarin ? :O
    aku tunggu lanjutannyaa 😀
    ___
    Orin : Iya Dek, disambung2in he he

    Reply
  14. LJ

    mastiin Jingga udah pulang.. senja sudah lewat
    Jingga bakal muncul lg fajar besok.pagi

    #itu sih Jinganya jingga, mak..! 😛
    ___
    Jingga sih udh pulang Mak, cuma ini udah siang belom ada satupun yang dateng, hiks 🙁

    Reply
  15. Pendar Bintang

    Bundo Rahmi??
    Jadi maksudnya ini Hani harus baca mundur biar tau asal muasal ceritanya ya…

    Ha ha ha….

    Miss you tooo, Mbak…. *pelukkkk
    ___
    hehehehe…gpp kok Hani sayang ga usah baca mundur, udah ditengokin aja seneng aku *halah* hiihihihi

    Reply
  16. yustha tt

    Teh Orin, barusan Bundo Rahmi menemui Rani di Pulau Lengkuas. Dia masih di pulau Lengkuas Teh.. Percayalah….

    #mengacau
    ___
    hohoho… Semoga Rani segera siuman setelah Bundo Rahmi datang ya T *ikutan mengacau* 😀

    Reply
  17. Lidya

    bikin penasaran aja nih si bundorahmi, jadi tenar dia ya 🙂
    ___
    Udah tenar dari dulu Teh, cuma belom diexpose *halah* hihihihi

    Reply
  18. Myra Anastasia

    bisa2 sy kebawa mimpi nih gara penasaran sm bundo rahmi… 😀
    ___
    nanti aku bilang Bunda Rahmi biar dateng ke mimpi mba Chi ya *ups* hihihihi

    Reply
  19. Arman

    it’s meant to be ya… 😀
    ___
    Begitulah mas hehehehe 😀

    Reply
  20. Evi

    Haha..Si aku sudah mulai terobesesi dengan Bundo Rahmi..Bentar lagi tukang dayung perahu akan terlihat mirip juga dengan si Bundo..Mungkin dia melakukan operasi trans gender, mungkin juga itu adik lelaki si bundo yg dikasih orang sejak kecil..Eh tunggu dulu, saat bercerminpun aku terlihat mirip seperti si Bundo..Jangan2 aku ini anak angkat dari ibuku yang sekarang..
    Hahaha..ceritanya seru Teh..
    ___
    Wahhh….bisa dijadikan cerita jg nih Uni hihihihi…

    Reply
  21. prih

    Neng Orin dan bundo Rahmi sibuk melanglang buana nih, ngikutin jejaknya asiik, Selamat terus berkarya Orin
    ___
    terima kasih dukungannya ya Ibuuuu^^

    Reply
  22. tunsa

    hayooo… itu bundo rahmi apa teh orin? 😆 hihi
    ___
    eh? bukannya Ari? hihihihihi

    Reply
    1. Abi Sabila

      sst………….di dunia ff siapapun bebas menjadi siapa, termasuk menjadi seluruh tokohnya, Mas. hehehe…
      Soal ff, makin tak tersaingin nih Teh Orin.
      ___
      hihihi… jadi GR nih Bi *halah*

      Reply
  23. Alaika Abdullah

    menarik banget ceritanya nih mba… ditunggu lanjutannya ya…
    ___
    terima kasih Kak^^

    Reply
  24. Yunda Hamasah

    Oriiiiiiiiiiiiiiinnnnnnn, seprtinya dikau pernah ke Palembang ya 🙂

    Melukiskan Musi dan sekitar dengan penuh eloknya, serasa sungguhan ada di kotaku 🙂

    Bundo Rahmi mirip siapakah, siapa tahu aku bertemu dengannya nanti, coba disertakan fotonya, heheee…
    ___
    hihihi….mudah2an suatu saat Orin bisa ke kotanya Ummi ya 😉

    Reply
  25. ~Amela~

    setelah baca ulang, baru ngeh kalau sarah ini anaknya ibu2 di pulau lengkuas kemarin ya teh?
    ___
    Yep, tepat sekali Mel^^

    Reply
  26. vizon

    “Jingga, ngapo kau ngomong kek orang asing tu?”

    “Ngapo, Mak? Idak boleh?”

    “Boleh sajo… tapi kek orang tu, idak boleh”

    “Ngapo orang tu Mak?”

    “Idak… Mak idak galak kau tu terkenal, nanti Mak jadi terlupakan, pamor Mak jadi ilang…!!”

    Reply
  27. dani

    Gw belom pernah komen kan? Berarti belom baca inih. Seruuu

    Reply
  28. Pingback: CerBung – Cerita Bersambung | danikurniawan

  29. puteriamirillis

    pu ngikutin hihihi…

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: