Rindrianie's Blog

Day#6 Sehangat Serabi Solo

Cerita sebelumnya, day#5

***

Terkadang hidup memang lucu ya, setidaknya begitu bagiku. Beberapa waktu yang lalu, aku ingin sekali meloncat dari jembatan Ampera untuk bertemu dengan Antu Banyu di alam baka. Tapi lihatlah sekarang, aku begitu bahagia di tengah hiruk pikuk pasar Klewer yang begitu hidup ini. Dan aku mulai percaya, aku adalah manusia istimewa, persis seperti yang dikatakan ayuk cantik yang kutemui di depan air mancur tempo hari itu.

Menerima beasiswa di sebuah universitas di Yogya tak pernah berani aku mimpikan, bahkan UAN pun aku tidak lulus. Tapi tidak mungkin beasiswa itu jatuh padaku kalau aku tidak pantas menerimanya atau cukup pintar, bukan? Entahlah, mungin aku cuma beruntung, tapiΒ  aku akan menikmatinya saja. Aku siap menjalani episode baru dalam hidupku, seperti aku juga siap mencicipi hidangan asing yang baru saja datang ini.

“Monggo, mbak.” aku tersenyum melihat penampakan semangkuk tengkleng di depanku, menduga-duga apakah gerangan yang membuat tengkleng di gerbang pasar Klewer ini begitu terkenal? Seiring dengan petualangan yang baru saja dimulai, seketika pula rasa rindu akan rumahku di Palembang menyeruak, rasa yang tak pernah aku miliki sebelumnya. Senang karena masa lalu yang tidak aku suka akan melenyap, sekaligus khawatir oleh masa depan yang belum aku tahu bagaimana di depan sana.

Dan semangkuk tengkleng ini ternyata sanggup membuatku rindu akan semangkuk tekwan. Aih, belum apa-apa aku sudah kangen rumah.

“Bukan orang sini yah?” tiba-tiba saja seorang bule membuyarkan lamunan melow-ku. Bahasa Indonesianya menakjubkan, mengagetkanku.

“Kok tahu, mister?” Aku balik bertanya, dan membuat si mister menertawakanku.

“Habiskan tengklengmu, nanti saya traktir serabi sebagai dessert.” Hah? Perasaanku tidak enak, jangan-jangan si mister ini adalah anggota sindikat yang mencari perempuan-perempuan muda di tanah air untuk diperjualbelikan di luar negeri.”Saya bukan orang jahat,” lagi-lagi aku terkejut, bahkan si mister bisa membaca pikiranku! “saya hanya merasa kamu perlu teman.” Benarkah aku perlu teman? Mungkin memang benar begitu.

“Mister mau ngeborong batik yah di sini?” tanyaku basa basi. Sudah kuputuskan si mister ini orang baik-baik, mungkin dia ditugaskan untuk menjadi guide-ku di Solo ini. haha, pemikiranku ini lucu juga,Β guide-ku orang bule.

“Tidak, saya sedang hunting foto. Dan pasar Klewer selalu menarik untuk dijadikan obyek.” Aku mengangguk-angguk, pura-pura mengerti. Melirik tas kameranya yang terlihat sangat berat. “Kenapa pergi sendirian di tempat asing?” pertanyaannya sekali lagi membuatku merenung. Kenapa ya?Aku sendiri tidak tahu. Aku hanya sedang berjalan-jalan setelah membereskan kostanku dekat kampus. Kemudian aku sampai di stasiun, membeli tiket ke Solo, dan disinilah aku sekarang.

“Mister, tengkleng saya sudah habis.” Aku tidak menjawab pertanyaannya, membayar tengkleng yang sudah berhasil aku habiskan, dan beranjak keluar dari warung. Kami berjalan masuk pasar Klewer yang sibuk. Batik, batik, dan batik. Kanan kiriku dipenuhi batik. Saat aku mengamati setiap corak batik yang teramat sangat beragam itu, si mister sibuk menjeprat-jepretkan kameranya. Hingga kami berhenti di depan penjual serabi solo. Kue asing berikutnya yang akan aku cicipi.

“Terima kasih ya mister, sudah menemani saya keliling pasar Klewer.” ucapku tulus. Dia menatapku, seolah banyak kalimat yang ingin dia sampaikan padaku, tapi tak sepatah pun yang terucapkan bibirnya. Membuatku bingung. Kami terdiam dalam keramaian pasar yang hangat.

“Aku berhutang ucapan terima kasih pada banyak orang,” si mister akhirnya bicara, “pada Bundo Rahmi, pada Rantau, ” Bundo Rahmi? Rantau? Siapa mereka? Dia mengambil serabi ke sekian untuk dimasukkan ke dalam mulutnya. “Mereka sudah menolongku.”

Aku tidak mengerti apa yang sudah mereka lakukan pada si mister, “dan kemudian mister menolongku,” ujarku kemudian, mencoba menghiburnya. Dia tersenyum.

“Dan kau akan menolong seseorang yang lain lagi nanti.” katanya lagi. Aku tersenyum.

Serabi solo yang hangat ini menghangatkan hatiku, dan aku tahu hati si mister pun menghangat.

Note : 590 kata, bersambung ke day#7


hedeeehhh…udah mah telat, semakin geje pula >_<

12 Comments

  1. Idah Ceris

    idah bingung mau komen apa? wkwkwkwkwk
    ___
    Kalo serabi mau ga Idah? hihihi

    Reply
    1. Idah Ceris

      ndi serabinya? πŸ˜›

      Reply
  2. LJ

    #eMak pingin diguide-in bule juga.. πŸ˜›

    nuansa solonya dapet banget Rin..
    dari FF 1-7, orin harus memasukkan suasana yg pas utk masing2 setingan tempat..

    Orin berhasil..!
    ___
    Pas nulis jd kepingin pergi ke Solo Mak mihihihi

    Reply
  3. mechtadeera

    ah..konsepnya bahwa hidup saling menolong ya Rin.. dan..mau juga dong, srabi solonya.. πŸ™‚
    ___
    Aku blom pernah nyicip srabi solo Auntieeeeee (apalagi tengkleng) huhuhuhu

    Reply
  4. nurlailazahra

    masih nyimak terus nih jalan ceritanya……..
    ___
    Makasih ya Sarah^^

    Reply
    1. nurlailazahra

      Teteh, aku mau tanya, si gadis ini namanya Jingga kan??? Trus wanita yg dilihat oleh Sarah saat Jingga membonceng motor itu Bundo Rahmi kan? Aku bingung kok Jingga gak ngenalin nama Bundo Rahmi ya? Sekaligus menebak, jangan2 Jingga dan Bundo Rahmi punya hubungan nih, hihihi
      ___
      Yg dilihat Sarah belum tentu Bundo Rahmi lho Sarah *haiyah, ada 2 Sarah* hihihihi
      Tapi aku jg msh belom tau kok si Bundo Rahmi ini sebetulnya siapa atw gimana πŸ˜€

      Reply
  5. bintangtimur

    Selalu penasaran dengan rasa tengklen karena belum pernah nyobain…ehm, kalo tekwan sih udah sering Rin, dan rasanya memang bener-bener enak πŸ˜‰

    Oriiiin, gimana caranya nulis kayak gini tiap hari teh?
    Nggak pusing mikirin alur dan rangkaian kalimatnya?
    Hebaaaat…
    ___
    Bu Iiiir, aku jg suka bgt tekwan πŸ˜‰
    Alhamdulillah pusing bgt Bu, kadang2 smp ga bs makan saking kepikiran hahahaha

    Reply
  6. vizon

    “Mister, serabi Solo ini kalau di kampungnya bundo rahmi namanya pinukuik..”

    “Dari mana kamu tahu?”

    “Dari Uda Vizon….”

    Reply
  7. dani

    Ya ampun Riiiin, kalo diikutin dari awal ternyata sungguh terlalu keren ceritanya..

    Reply
  8. Pingback: CerBung – Cerita Bersambung | danikurniawan

  9. puteriamirillis

    aku akhirnya mengikuti sejauh ini.

    Reply
  10. ameliatanti

    As always…
    your story tells me something….

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: