Rindrianie's Blog

Day#7 Biru, Jatuh Hati

Cerita sebelumnya, day#6

***

“Ayah, ayo kita berenang.” sepuluh jemari mungil itu menarik kuat tanganku, membuatku tergelak dan segera beranjak mengikutinya. Jejak-jejak kaki mungil miliknya dengan segera tercetak di hamparan pasir di pantai Pangandaran ini. Sore se-ceria ini memang cocok untuk berenang.

“Jangan jauh-jauh dari Ayah, Nak.” Seruku khawatir. Tapi Genta malah tertawa setelah ombak kecil  yang menenggelamkannya berlalu.”Genta pasti bandel persis ayahnya dulu deh.”Lagi, ungkapan yang sering dikatakan Lara dulu bergema di kepalaku. Membuatku menyesal menjejakkan kaki di pantai ini lagi, biru lautnya pernah membuatku jatuh hati, tapi samudera juga telah merenggut cintaku tanpa sisa. Mungkin Poseidon menawan Lara-ku di dalam sana.

Aku mengawasi Genta bermain dalam diam. Membiarkannya tertawa-tawa senang berlari ke tepian saat ombak mengejarnya. Untuk kemudian menyaksikannya berenang penuh semangat saat ombak-ombak itu kembali ke lautan. Keberanian dan semangat bocah 6 tahun itu pastilah berasal dari ibunya. “Lihatlah Genta, Lara. 3 tahun ini pasti dia juga merindukanmu dengan saat,” Bisikku dalam hati.

Kerinduanku pada Lara terinterupsi saat Genta meminta minum.

“Ayah, ibu juga dulu senang berenang di sini ya, Yah?” tanyanya saat botol minumnya tandas.

“Iya Sayang. Ibu suka sekali berenang di sini.”

“Genta akan menemani Ibu berenang.” ujarnya lagi seraya kembali mengejar ombak. Membuatku tersenyum sambil menangis. Lantas mengikutinya mengejar ombak. Aku tahu aku harus kuat demi Genta. Dan saat itulah ingatanku melayang pada si gadis berkerudung merah, pada Bundo Rahmi yang datang padaku dalam mimpi, pada seorang wanita yang tiba-tiba saja memberiku sebuah potret. Memori itu seperti kaset yang berputar ulang di kepalaku.

“Bung Arfan?” seorang wanita mengembalikan diriku ke detik ini. Hei, si gadis berkerudung merah!

“Oh..eh…hai…” terkejut membuatku gagap. Gadis di depanku tergelak. Kali ini hanya celana pendeknya yang berwarna merah, dengan t-shirt putih bergambar doraemon yang dikenakannya, seketika aku sadar tak mungkin memimpikan gadis muda sepertinya menjadi ibu bagi Genta. Ah, bahkan kami baru 2 kali ini bertemu. Segera aku menepiskan khayalanku yang mustahil.

“Kok bisa ya kita bertemu lagi di sini?” tanyanya. Aku hanya mampu mengangkat bahuku seraya tersenyum.

“Sudah jodoh barangkali,” sahutku asal, yang membuat si gadis kembali tergelak. Tawanya membuatku teringat Lara.

“Ayah…” Genta sudah berdiri di sisiku.

“Kenalkan, ini anak saya, Dik.” aku minta Genta menyalami si gadis, “Genta, ini tante…”

“Lindu. Ini tante Lindu,” si gadis berjongkok dan menciumi Genta gemas, membuat Genta malu dan bersembunyi di balik kaki-kakiku. Lagi, si gadis tergelak. Dan Genta memilih kembali berenang.

“So? Kenapa masih mencari gadis berkerudung merah untuk dijadikan jodoh, bung?” Aku tahu pertanyaan ini akan segera datang.

“Ibu Genta meninggal, 3 tahun lalu. Pesawatnya jatuh di lautan, kami tak pernah memiliki jasadnya.” Si gadis terlihat shock mendengar kisahku.

“Maaf…aku…”

“Tidak perlu. Tidak mengapa, Dik.” Aku lihat Lara tersenyum di benakku. Apakah dia merestuiku?

“Maaf juga, aku menghilangkan potret Bundo Rahmi yang Bung berikan padaku.”

“Oh?”

“Tapi kemarin lusa aku bertemu dengan seorang pemuda Bukittinggi di Bandung, rupanya potret itu milik bule Jerman, dan Bundo Rahmi yang ada di potret adalah seorang dokter gigi di kotanya yang telah lama hilang.”

“Saya menerima potret itu dari seorang wanita yang beberapa saat sebelumnya makan tekwan di warung.”

“Dan aku bertemu dengan Bundo Rahmi, atau wanita yang ‘mirip’ sekali dengannya sesaat sebelum kita bertemu di Toba tempo hari.”

“Bundo Rahmi yang menyuruh saya datang ke Toba.”

“Wanita -yang mirip Bundo Rahmi- itu juga yang menyuruhku melupakan Rio.”

“Rio?”

“Tunanganku. Ralat, mantan tunanganku. Tugas luar kota ternyata hanyalah alasannya untuk menemui selingkuhan-selingkuhannya.” Ah, betapa meruginya si Rio itu, pikirku.

“Maaf…saya…”

“Bukan salah bung Arfan,” ujarnya lagi tersenyum. “Mungkin Bundo Rahmi -siapapun wanita itu- menginginkan saya menjadi Ibu bagi Genta.” Hah? Ucapannya membuatku malu. Dia tergelak, kemudian berlalu mengejar Genta yang sedang bermain ombak, meninggalkanku sendiri.

“Lara, apakah birunya Pangandaran membuatku jatuh hati lagi?” Tanyaku.

Note : 605 kata, bersambung ke day#8

14 Comments

  1. yustha tt

    Hebatnya sehari langsung nulis 2.

    Genta? Ah..namanya mengingatkanku pada Amelia.. ^_^
    ___
    maksa dot com Tt chan hohoho

    Reply
    1. rurimadani12

      iya kak setujuu, hebatnya bisa langsung ngepost 2 T.T
      ___
      bukannya hebat Dek, malah ga konsisten coz kmrn ga nulis 🙁

      Reply
  2. Liaaa

    aih 🙂
    ___
    aih jg he he he

    Reply
  3. LJ

    aih, Lindu.. betapa beruntungnya dirimu..

    #terkagum-kagum liat yang nulis FF lgsg dua.
    ___
    pasarannya Lindu lg tinggi Mak qiqiqiqi
    #orang ga konsisten kek gini jgn dikagumi Mak T_T”

    Reply
  4. Lidya

    jadian gak lindu sama genta?
    ___
    Wah…Genta mah blom boleh jadian Teh qiqiqi

    Reply
  5. mechtadeera

    ah…ketemuan lagi..kali ini tak hanya saling tahu nama namun juga cerita hidup ya… hm..lanjoot… *makin dan makin suka…*
    ___
    Kelanjutannya binun nih Auntie hohohoho

    Reply
  6. eo kids party

    hmmm, pertemuan itu memang mengandung banyak arti dalam kehidupan tidak banyak yang tau dari kebetulan akan menjadi apa nantinya. nice post 🙂
    ___
    terima kasih apreasiasi dan kunjungannya^^

    Reply
  7. nurlailazahra

    so cute 😀
    ___
    he he 😀

    Reply
  8. della

    Aaaaaaaaaaaaaaaaahhhh.. kereeeeeeeeeeeeeeeeeeeeennnn..
    Padahal begitu baca langsung yang #7 ini, tapi aku ngerti jalan ceritanya. Great story, Rin. Abis itu baru deh ke posting-posting sebelumnya dan makin ngerti.
    Yakin, you’re gonna be a great writer. Buruan atuh jadiin novel 😉
    ___
    Duh…duh… jadi teu pararuguh ginih Bubil *nervous mode : ON* hahahahaha
    Aamiin, semoga aja keberanianku terkumpul untuk bs bikin novel ya 😀

    Reply
  9. bintangtimur

    Saya juga punya saudara yang pesawatnya jatuh dalam penerbangan Padang – Jakarta berpuluh tahun lalu, kok bisa sama ya dengan plot cerita ini, Orin?

    Makin kaguuuuum dengan imajinasinya neng Orin ini…
    😀
    ___
    Owh? Orin terinspirasi dari tragedi Sukhoi Bu Ir, cuma krn settingnya pantai ya sudah jatuhnya ke laut 🙂

    Reply
  10. Diandra

    Genta….bagus banget namanya

    btw papahnya Genta sm tante Lindu jadian gak yaaa….?
    ___
    Baru 2x ketemu Teh, masa lgsg jadian #eeaa… hihihihi

    Reply
  11. vizon

    “Lindu, kamu yakin akan menikah dengan Arfan?”

    “Yakin.. memangnya kenapa, Bang Rantau?”

    “Aku bagaimana…?”

    Reply
  12. dani

    Nangis terharu. Bisa jadi klise cerita ini tapi berhasil di puntir sama Orin jadi keren, beneran deh Rin, nulis buku sendiri ya ya ya? Hehehehe

    Reply
  13. Pingback: CerBung – Cerita Bersambung | danikurniawan

Leave a Reply

%d bloggers like this: