Rindrianie's Blog

Day#9 Genggaman Tangan

Cerita sebelumnya, day#8

***

Untuk Rantau,

Apa kabar, Da? Masih setia pada jam gadang yang selalu berdentang setiap jam? Atau sudah berkeliling ke surga-surga berbeda yang ingin kau singgahi? Rasanya aku bisa menebak kau memilih opsi yang ke-dua 🙂

Semoga kau masih mengingatku kawan, karena -entah kenapa- aku merindukanmu, itulah kenapa aku memaksa diriku menuliskan kata demi kata di surat ini untukmu. Tolong jangan disalahartikan dulu arti ‘rindu’ yang aku maksud, aku lelaki sejati yang masih suka mahluk indah bernama perempuan. Tapi kau seperti sahabat lama yang tiba-tiba menghilang dan baru kutemukan kembali. Apakah kau mengerti maksudku?

Tentu kau bertanya kenapa surat ini aku tulis untukmu. Ketahuilah kawan, aku pun tidak tahu. kemarin aku seperti melihat Bundo Rahmi memasuki stasiun Tugu, tapi -seperti biasa- dia menghilang tanpa bisa aku temukan. Mungkin dia yang membuatku ingat padamu, karena dia-lah yang dulu ‘memperkenalkan’ kita berdua, bukan? Kau masih menyimpan potret yang kuberikan padamu dulu, Da?

Aku mencintai negerimu yang elok ini, Da. Kota kelahiranku di Frakfurt sana tidak lagi menarik hatiku. Aku berhenti menjadi wartawan olahraga, sekarang aku ‘hanya’ menjadi kontributor lepas untuk berbagai majalah di negaraku. Aku belajar bahasa Indonesia dengan tekun, dan berharap semoga suatu saat nanti aku bisa menjadi WNI. Gila? Ah, hidup cuma sekali Da, dan aku ingin segila mungkin menikmatinya, di sini.

Oh ya, aku sedang di Tawangmangu saat ini. Menikmati Grojogan Sewu, air terjun setinggi 81 meter yang patuh pada hukum gravitasi itu jatuh dengan kesempurnaan yang indah di depanku. Wangi khas sate kelinci (aku masih belum bisa mencicipinya), teriakan-teriakan kera di hutan, juga manusia-manusia yang rela menuruni sekian ratus anak tangga (katanya ada 250, aku tidak menghitungnya) datang dengan wajah yang sumringah, hanya untuk kemudian mendaki anak tangga yang sama dengan terengah-engah.

Kau tahu, Da? Di depanku sepasang kekasih (atau suami istri? aku tidak bisa menebaknya) terduduk diam di atas sebuah batu besar dengan saling bergenggaman tangan. Dialog sunyi mereka sepertinya lebih dari cukup untuk memberitahu satu sama lain seluruh ungkapan cinta yang tak bisa tersampaikan oleh kata. Indah ya.

Tidak, aku tidak akan menceritakan padamu kisah cintaku. Lagipula, aku tidak punya sebuah kisah semacam itu untuk diceritakan. Apakah kau punya sebuah kisah yang bisa kau ceritakan padaku? Sudahlah, lupakan saja kisah cinta.

Mmm…mari kita sudahi saja surat tidak berujung pangkal ini, Da. Semoga semesta sudi mempertemukan kita kembali. Entah kapan atau di mana. Kau tidak akan melupakan seorang bule yang sulit tersenyum seperti aku kan? 🙂

-JM-

Kulipat surat itu hati-hati. Menuliskannya dengan hanya beralas tas kamera dan tampias air terjun yang terbawa angin sangatlah sulit. Dan aku baru tersadar aku tidak tahu alamat rumah si anak Bukik, atau nomor handphone-nya, atau alamat emailnya, atau akun facebook dan twitternya! Aku terbahak, membuat sepasang kekasih (atau suami istri?) di depanku menoleh, menatap aneh ke arahku.

“”Maaf…” ucapku pada mereka -yang masih saling bergenggaman tangan- dan cepat berlalu dengan tawa tertahan.

Note : 470 kata, bersambung ke day#10


Duh, telat lagi, lagi-lagi telat, en maksa banget deh ah >_<

12 Comments

  1. nurlailazahra

    hmm…..masih tetap bagus gaya bahasanya, tp entah mengapa aku kurang menemukan ‘feel’ itu di sini Teh 😀
    ___
    Maafkan ya Sarah, buatku sendiri ini sangat tidak memuaskan hihihihi.
    Terima kasih banyak lho ngikutin terus *terharu*

    Reply
  2. Diandra

    makanya ketawanya jgn lebar2….
    hihihi….

    gak tau apa2 tentang dia
    tapi namanya tau kaaan…?
    ___
    Iya Teh, harus di-mute ketawanya hahahaha

    Reply
  3. bintangtimur

    Suratnya indah, Orin…dan saya belum pernah ke Grojogan Sewu itu…
    😉
    ___
    makasih Ibu, Orin jg blom pernah sana 🙁

    Reply
  4. LJ

    gak, ini gak maksa..
    ini baguuus banget Orin.

    titip salam wat Mr. Mueller.
    grojogan sewu itu memang penuh kenangan..^^
    ___
    Aaah, eMak suka gitu deh 😛
    penuh kenang untuk Barra dan Kinar ya Mak #eh? qiqiqi

    Reply
  5. yustha tt

    Mr. JM, apakah yg kau lihat sedang menggenggam tangan itu bernama Kinar & Barra? Coba kautanya namanya… Hihi…
    ___
    “Tak mungkin aku bertanya Tt chan, tawaku sudah mengganggu dialog sunyi mereka berdua :(” -JM-

    Reply
    1. LJ

      eyampuunn #pegang dahi mbak tanti. 😛

      Reply
  6. vizon

    “Mister, sepertinya anda sedang kebingungan”, sapa seorang gadis berkerudung putih.

    “Kok anda tahu?”

    “Terlihat dari raut wajah anda”

    “Iya, saya bingung mau mengirim surat ini ke mana, karena saya lupa alamat sahabat saya tersebut”

    “Ah.. tak usahlah bingung, Mister… Nanti saya jadikan postingan di blog saya, siapa tahu sahabat Mister itu membacanya..”

    Reply
  7. mechtadeera

    larungkan saja di grojogan sewu, mister…siapa tahu esensi pesannya akan sampai pada teman yg kau rindu..*halah, yg ini komen maksa..hehe..*

    Reply
  8. kontraktor bangunan

    salam kenal slalu ya

    Reply
  9. Lidya

    aku telat bacanya euy, naha gak ada bundo?

    Reply
  10. dani

    Penokohannya kuat banget Rin,

    Reply
  11. Pingback: CerBung – Cerita Bersambung | danikurniawan

Leave a Reply

%d bloggers like this: