Rindrianie's Blog

Di Sebuah Halte

Halte itu tidak sesenyap biasanya, ada seorang perempuan dengan blue jeans berblouse putih di sana, juga seorang lelaki dengan busana formal pegawai kantoran di samping si perempuan. Dari sikap tubuh mereka yang kaku, aku bisa paham keduanya tidak sedang bermesraan. Lebih tepatnya lagi, mereka pasti sedang bertengkar.

Aku tidak suka ritual menunggu bus setiap soreku ini terkontaminasi oleh kehadiran sepasang kekasih seperti mereka, tapi halte ini bukan milikku tentu saja. Maka kupasang earphone, kusiapkan sebuah novel yang selalu ada di tasku, dan bergerak mendekati mereka untuk kemudian duduk sejauh mungkin dari keduanya. Semoga aku bisa mengabaikan mereka berdua dan menikmati ‘me time’ku yang tak seberapa lama ini dengan tenang, tanpa harus ketinggalan bus.

“Ru, jadi selama ini lo anggap gue apa? Kapan lo nganggep gue sebagai pacar lo?” si perempuan bertanya, nyaris berteriak, mengalahkan suara Chris Martin yang sedang melantunkan Paradise di telingaku.  Suaranya seketika mengingatkanku akan Ibu, yang tak pernah memerlukan pengeras suara merapalkan makian untuk Bapak.

Plak. Tanpa menoleh aku tahu si lelaki dengan busana formal pegawai kantoran baru saja menampar pipi si perempuan, bunyi telapak tangan beradu kulit pipi itu sudah sangat kuhapal, semudah menghapal manis untuk gula atau asin untuk garam. Lelaki itu persis seperti Bapakku! Membalas perkataan ibu dengan sesuatu yang lebih pedas, tanpa kata-kata, tapi seringkali mematikan.

“Gue cinta sama lo, Ru…” di antara isakan tangis yang tertahan, si perempuan berucap perlahan, aku yakin sebelah tangannya kini menutupi sang pipi yang memerah dalam sekejap. Mendengar kalimatnya tadi membuatku mual. Cinta? Cinta seperti apa yang menyakiti seperti itu? Tidak ada lagikah lelaki lain yang sanggup mecintai dirinya tanpa cinta absurd si lelaki padanya? Cih!

“Ru… Daruuu…” si perempuan berteriak, lantas beranjak mengejar si lelaki yang -sekali lagi tanpa kata apapun- rupanya telah pergi meninggalkan arena. Refleks kepalaku menoleh, menatap drama di kejauhan antara si perempuan yang berusaha mengejar kekasihnya, dan si lelaki yang berupaya menjauhkan diri dari pasangannya. Entah siapa yang salah, entah yang mana di antara mereka berdua yang lebih bodoh, tapi aku kasihan pada keduanya.

Kelak, jika mereka menikah, suatu hari si perempuan akan terkulai mati di tangan si lelaki yang tak bisa lagi mengendalikan diri. Lantas beberapa waktu kemudian, si lelaki itu akan terbunuh anak lelakinya yang menyaksikan dirinya telah merenggut kehidupan dari wanita yang menjadi ibunya.

Busku datang. Aku menyimpan novel yang tak sempat aku baca, merapikan tasku, dan sekali lagi menatap bangku kosong yang beberapa saat sebelumnya diduduki si lelaki dan si perempuan yang kini entah berada di mana. Semoga saja anak lelaki mereka kelak, jika mereka menikah nanti, tidak perlu menjadi sepertiku.

***

Note : 423 kata, ditulis untuk “Tantangan Menulis #Nguping” @JiaEffendi

0 Comments

  1. junioranger

    jadi aku si anak lelaki itu. *maaf nak! kamu harus kami tangkap!*
    ___
    dia udah gede skrg Jun hihihihi

    Reply
  2. Mechta

    hm… nguping yang menguak kenangan ya… 🙂

    Reply
  3. mamayara

    5 kali membaca kalimat terakhir…. baru ngerti…
    Hhhaahhh… semoga tidak…

    Reply
  4. Miss Rochma

    jago ini mbak orin sayang nulisnya..!!! tapi tetep deh, me timenya jadi keganggu 🙂

    Reply
  5. ~Amela~

    Aah. Walau endingx sderhana tapi unpredictable teh.

    Reply
  6. kakaakin

    Ini.. pasti banyak ide deh kalo soal nguping mah… 😀

    Reply
  7. nyonyasepatu

    Keren cerita ngupingnya

    Reply
  8. yadibaroos

    nguping yang memancing emosi juga ya mbak

    Reply
  9. Arman

    tragis bener kalo emang endingnya gitu. hehe.

    Reply
  10. fatwaningrum

    kerren! 🙂

    Reply
  11. Lyliana Thia

    KDRT tidak selalu fisik, batin juga..
    Mudah2an sebelum nikah bisa “melihat” dgn objektif, tapi seringnya ndak mampu, karena cinta itu buta.. Hehehe…

    Reply
  12. Lidya

    dibutakan karena cinta ya, belum nikah aja sudah menenrima kekerasan apalagi nanti. oops mudah2an ini cuma ada di cerita ya

    Reply
  13. Pingback: orang-orang yang menguping | Jia Effendie

  14. dey

    ceritanya Orin itu, selalu aja ada kejutan di akhir 🙂
    Geura bikin kumpulan cerpen ..

    Reply
  15. Imelda

    mantap dan amin! Semoga!

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: