Rindrianie's Blog

Episode Bosan

“Aku bosan.”

“Bosan?”

“Iya, B.O.S.A.N. Masa kau tidak mengerti definisi bosan sih  Italic?”

“Emh…kan ga perlu sewot begitu. Aku hanya mengkonfirmasi ulang tadi.”

Bold dan Italic sama-sama terdiam, sesaat. Bold kesal, Italic tersinggung.

“So, bosan kenapa?”

“Entahlah…”

“Bosan terhadap apa?”

“Entahlah…”

“Ah.. kau aneh Bold.”

“Mungkin…”

“Hmm…”

Kembali mereka berdua terdiam, beberapa saat. Bold bingung, Italic lebih bingung lagi.

“Chating aja, ngerumpi sama siapaaa gituh.”

“Males ah.”

“Fesbukan deh, cari temen-temen zaman baheula.”

“Udah basiii… ogah.”

“Yawda twitteran gih, follow celeb, atau tokoh politik, atau sastrawan. Ikuti keseharian mereka, update kehidupan mereka.”

“Nope, Gariiiiing…”

“Ngeblog ! You do love writing, don’t you?”

“I have a zero idea, skip dulu deh.”

“Beuuuhh….”

“….”

Italic kesal, Bold cemberut.

“So..?!?”

“What?”

“Aku bosaaaaaaannnn!!!”

“Segitunya deh. Au ah..”

“Ayolah, bantu aku. Aku bosan dengan kebosananku.”

Italic terbahak, Bold merengut.

“Maaf deh, aku sudah menertawakan kebosananmu.”

Bold masih terdiam.

“Mungkin karena kau sudah hidup seperti robot.”

“Maksudmu?”

“Ya begitu, seperti robot yang sudah terprogram. Keseharianmu hanya berupa rutinitas yang cenderung sama.”

“Hmm….”

“Sudah waktunya kita me-refresh aktifitas kita Bold.”

“Ah…teori…”

“Ah…kamu yang terlalu apriori.”

“Begitu ya?

“Teorinya begitu. Aplikasinya juga harusnya begitu.”

“Jadi aku bosan karena rutinitasku, begitu?”

“He-eh.”

“Contoh konkritnya aja deh.”

“Kenapa sih malas berpikir?”

“Ah, bilang saja kamu tidak tahu contoh konkritnya apa.”

“Bener kan ngga mau berpikir?”

Bold merah padam, Italic menggeram diam.

“Sudahlah. Aku bosan bertengkar.”

“Ya sudah.”

“So?”

“Apa?”

“Kesimpulannya bagaimana?”

“Kesimpulannya tidak ada kesimpulan !”

Italic melenggang pergi, Bold terpana bosan.

** Photo note : another narcistic pic @ tahura.


Leave a Reply

%d bloggers like this: