Rindrianie's Blog

Episode empat belas : Harapan

Rindang

Sekali lagi aku menikmati parasnya yang menawan. Aku tahu, tidak seharusnya aku begitu, tapi… Ah, sudahlah, hidup memang tak selalu berjalan seperti yang aku inginkan, bukan?

“Kak, ini undangan untuk Kak Den. Aku nikah minggu depan dengan Faridh..” Ucapku perlahan, bergetar tangan ini menyerahkan undangan berwarna emas itu. Semoga Kak Den tak melihat kegugupanku.

“Oh? Selamat ya Ndang!!” Pekiknya gembira, dan spontan memelukku. Duh, seandainya saja aku bisa merasakan pelukan kak Den yang seperti ini selamanya. Aku segera melepaskan diri dari pelukannya, dengan berat hati. Kesal hatiku membayangkan gadis jenius itu yang akan selalu Kak Den peluk.

“Kakak bisa datang kan?” Tanyaku penuh harap, walaupun aku tidak tahu kuatkah hatiku kelak melihatnya di hari pernikahanku. Dan dengan segera aku menyesali pertanyaanku itu saat dia mengangguk mantap dengan senyum yang pernah membuatku merindunya sepenuh jiwa. Sedetik yang lalu aku sungguh berharap dia tidak akan datang, ada acara atau apa lah.

“Faridh pria yang baik untukmu Ndang, aku yakin dia bisa membuatmu bahagia selalu.” Ujarnya tulus, “Berbahagialah dengannya Ndang..” ucapnya sekali lagi.

Ya, seharusnya aku bahagia, aku tahu Faridh memang lelaki yang baik untukku. Bukan dia, bukan Kak Den. Aku tersenyum, kini lebih tulus. Ya, aku akan berbahagia dengan Faridh. Seperti juga Kak Den akan bahagia bersama Dimi. Lagipula, bukankah aku sendiri yang harus memutuskan apakah aku bahagia atau tidak? Dengan atau tanpa Kak Den. Aku harus bahagia.

Semoga…

Bagas

Terlihat jelas di kepalaku kenangan itu. Dimi kecil yang berlari-lari mengejar layanganku yang terlepas. Berteriak-teriak kegirangan “Mas Bagaaaas, aku dapet niiih layangannya. Horreeee…” sorakan bahagia itu masih menggema di telingaku. Ah…gadis kecilku. Seandainya aku bisa segera tahu kau pun berharap akan cintaku waktu itu, mungkin dulu kita sempat..

“Pak Lik mengerti Gas, dan tidak perlu merasa bersalah seperti itu,” Tangan Ayah-nya Dimi menepuk pundakku perlahan, menghentikanku bernostalgia tentang Dimi. Mengembalikan diriku ke detik ini, saat dimana aku harus memilih.

“Saya mencintai Dimi Pak Lik, sungguh..” Lelaki setengah baya itu tersenyum, getir. “Tapi…” Aku tak kuasa mengucapkan kalimat itu hingga titik. Bisa aku dengar tarikan nafas berat lelaki separuh baya di sebelahku.

“Tak usah kau teruskan Gas. Jika Pak Lik ada di posisimu, mungkin Pak Lik juga akan melakukan hal yang sama,” ucapnya pelan. Aku terdiam tak setuju, tapi juga tetap tak bisa menyangkal. Aku mencintai Dimi, tapi sepertinya cintaku tidak sebesar aku mencintai diriku sendiri. Egois kah aku? Mungkin memang begitu. Entahlah..

“Maafkan Bagas Pak Lik…” akhirnya aku bisa mengucapkan kalimat itu. “Seandainya saja….” aku tetap tak sanggup menyelesaikan kalimatku, mengutuki diriku sendiri yang pengecut.

“Pergilah, Gas… Dimi akan mengerti,” Lelaki separuh baya itu tersenyum, seolah ingin menguatkanku. Dan aku merasa menjadi seorang pecundang sejati. Meninggalkan gadis yang kucintai seperti itu, hanya karena dia… “Terima kasih sudah pernah mencintai Dimi, Gas..” pikiranku kembali terhenti mendengar suara itu. Dan aku semakin merasa sangat bersalah.

“Baiklah Pak Lik, saya pergi..” Akhirnya aku mengalah pada egoku, meninggalkan Dimi -gadis kecil yang sejak lama aku cintai- saat seharusnya aku berada di sisinya, menguatkannya, mendoakannya. Karena aku memilih mengejar mimpiku sendiri, dan Dimi tak bisa menemaniku dengan keadaannya sekarang. Semoga, Dimi tidak mengingatku sebagai seorang yang kejam seperti ini.

Aku meninggalkan rumah sederhana itu dalam rasa yang entah.

Denova

Mami, bang Damian, kak Diana, bahkan ayahnya Dimi menganggapku gila. Tapi katanya, kalau tidak gila maka itu bukan cinta, iya kan? Dan aku mencintai Dimi. Titik.

Aku tahu mas Bagas menyerah. Aku tidak menyalahkan dia, aku hanya tahu bahwa cintanya pada Dimi tak sebesar cintaku. Entah aku harus merasa senang atau kecewa akan kenyataan itu. Dimi melukis burung cenderawasih yang indah itu untuknya, mencintainya dalam diam sekian lama, dan kemudian balasan dia untuk Dimi adalah meninggalkannya begitu saja? Tapi setidaknya sekarang Dimi milikku sendiri.

“Den, mau Abang jemput jam berapa nanti?” Bang Damian mencolek bahuku, lalu tersenyum jahil melihatku melamun. Aku tahu, walaupun dia menganggap keputusanku gila, dia akan tetap mendukungku, apalagi Dimi adalah mantan bosnya dulu. Bahkan sekarang dia yang melanjutkan penelitian-penelitian penting itu. Bang Dam berambisi menyelesaikan penelitian itu sebaik-baiknya. Demi Dimi, begitu katanya.

“Ga usah Bang, nanti Den naik metromini aja,” jawabku, “atau naik taksi” ralatku cepat, sebelum bang Dam meledekku lagi. Masa iya sih penulis novel best seller masih naik metromini? Begitu ejeknya tempo hari. Bang Dam tidak tahu, justru naik metromini membuatku memiliki banyak ide untuk aku tuliskan menjadi novel.

“Salam untuk Dimi ya Den,” Ujar bang Dam akhirnya, sesaat setelah menurunkan aku di halte, lantas melambaikan tangan memacu mobilnya menjauh. Aku hanya mengangguk diam, berpikir mungkin kah salam itu aku sampaikan pada Dimi?

Ah, halte kenangan ini. Memoriku kembali ke tahun-tahun yang indah itu, saat aku berjumpa Dimi pertama kali, momen kebersamaan kami yang singkat tapi berkesan, dan membuatku jatuh cinta padanya tanpa aku sadari. Aku harus mengajak Dimi ke sini besok-besok. Kenangan seindah itu pasti akan terpatri juga di ingatannya, kan?

Rumah itu sepi, seperti biasanya. Aku bisa keluar masuk sesuka hatiku di rumah ini sejak Dimi pulang. Ayahnya Dimi memberiku semua kunci, bahkan menyiapkan sebuah kamar di atas untukku jika aku ingin menginap. Aku bisa mendengar Dimi dan Bi Asih sedang bercengkrama di taman belakang saat kupandangi lagi deretan piala dan plakat di ruang tamu itu. Dimitri Evarelia, gadis jenius yang memikat hatiku.

Aku memandang Bi Asih dan Dimi dari kejauhan, tepatnya mematung bersandar di pintu belakang yang menuju ke taman kecil nan asri itu. Masih seperti dulu, Dimi suka sekali memain-mainkan ujung rambut ikalnya, menatap satu per satu foto yang bertebaran di pangkuannya, dan serius berpikir. Tersenyum aku melihatnya.

Tahun-tahun berlalu, dan aku merasa tetap kagum padanya. Gadis jenius yang misterius itu telah mematahkan logikaku. Aku akan mencintainya, selalu, selamanya.

Semoga Dimi pun merasakan cinta yang sama, walaupun kini dia telah jauh berbeda. Tapi bagiku, dialah bidadari yang akan kupilih menemaniku di surga kelak.

Dimitri

“Bi, ini siapa?” Tanyaku pada Bi Asih yang membawakanku secangkir susu coklat.

“Itu mas Bagas neng, dulu neng Dimi sering main layangan sama dia,” kulihat Bi Asih menyusut ujung matanya dengan serbet yang tersampir di pundaknya, “waktu kecil dulu. Neng ga ingat ya?” Aku menggeleng lemah. Menatap foto seorang anak lelaki tinggi dengan anak perempuan kecil berambut ikal yang membawa sebuah layangan. Kata Bi Asih anak perempuan kecil itu aku.

“Kalo ini siapa Bi?” Tanyaku lagi menunjukkan sebuah foto wanita cantik bermata indah. Dan lagi-lagi kulihat Bi Asih menggigit bibirnya menahan tangis.

“Itu Ibunya neng Dimi…” kali ini Bi Asih memijat-mijat bahuku lembut, aku tahu dia hanya bersembunyi dariku, tak ingin aku tahu dia sebetulnya menangis.

“Ibu?” Tanyaku kosong.

“Bibi juga tidak tahu, ibunya neng Dini meninggal, waktu melahirkan neng Dimi dulu…” Jelas Bi Asih tanpa kuminta. Aku mencerna informasi itu dalam diam.

“Hai Dim, sudah diminum obatnya?” Sapa lelaki tampan itu dan kemudian mencium keningku lembut. Denova. Tak ada satu lembar pun fotonya di pangkuanku. Tapi lelaki itu yang selalu menemaniku. Dari pagi hingga siang, atau dari siang menuju senja, atau dari sore hingga malam menjemput, atau sehari semalam penuh. Dan tetap saja, aku tidak tahu siapa dia sebenarnya. Yang aku tahu, aku merasa bahagia saat dia ada.

“Sudah mas, tadi Bibi sudah minta neng Dimi minum obat,” Bi Asih yang menjawab, “Permisi mas, neng Dimi, Bibi ke dalam dulu, mau cuci baju” pamit Bi Asih, dan cepat berlalu tanpa menunggu aku atau lelaki itu menjawabnya.

“Den, siapa kamu?” Tanyaku ragu setelah jeda yang sunyi. Aku tahu lelaki itu bernama Denova. Aku tahu dia adik bang Damian, yang katanya dulu pernah menjadi asistenku. Aku tahu Den mencintaiku, begitu yang Bi Asih bilang padaku. Tapi, ‘siapa’ dia sesungguhnya?

Lelaki itu tersenyum, senyum yang entah kenapa menenangkanku. Mungkin seharusnya aku tak perlu bertanya. Dia pasti seseorang di masa laluku, seperti Ayah, seperti Bi Asih, seperti mas Bagas, seperti semua orang yang ada di foto itu, dan tetap aku tak bisa mengenalinya, aku tidak mengingat secuil informasi pun dari mereka. Argh, kenapa aku tidak langsung mati saja di kecelakaan sialan itu? Bukankah itu lebih baik daripada hidup tanpa kaki kanan yang tak berfungsi, dan ingatan yang menghilang seperti ini???

“Dim, jangan berhenti berharap,” lelaki itu kini memelukku hangat, membelai kepalaku lembut, membuatku menangis entah karena apa. “Suatu hari nanti kaki itu akan kembali bisa berlari mengejar layang-layang, suatu hari nanti kau akan mengingat semua hal yang pernah kau ingat”. Aku merasa damai di pelukannya, tangannya sibuk menghapus air mataku.

“Tapi Den…” pelukan lelaki itu semakin erat. Aku tidak tahu apakah dulu aku mencintai lelaki ini atau tidak, tapi aku tidak keberatan mencintainya mulai detik ini, hingga selamanya mungkin? Tiba-tiba saja aku merasa begitu hidup. Mungkin tak apa-apa aku hidup di atas kursi roda selamanya, mungkin tak apa-apa juga aku tak bisa mengingat satu pun memori di otakku, asalkan ada dia, Den, lelaki yang -sepertinya- aku cintai. Hei, apakah ini berarti dulu pun aku mencintainya?

“Kita nikmati saja senja yang syahdu ini ya Dim,” bisiknya di telingaku sendu. Aku menjawabnya dengan menyandarkan kepalaku di dadanya. Berharap senja tak segera hilang ditelan malam, menikmati setiap detikku dengan Den, lelaki yang sepertinya telah mengisi semua memori otakku.

***

β€œCerita ini diikutkan Giveaway Suka-suka Dunia Pagi-nya Amela :)”

0 Comments

  1. Mas Jier

    Wah Ending cerita dari teh orin dibuat per person ya.
    Unik dan keren teh. Endingnya menyedihkan sekali, ternyata Dimi kecelakaan, menjadi lumpuh dan kehilangan ingatannya. Hikz Hikz terharu sekali.

    Orin : hihihi…begitulaaaaah mas..semoga tetap msh bisa dinikmati ya, dan penulis aslinya ga marah hehe

    Reply
  2. fanny

    kereeen…pasti menang nih, rin

    Orin : Aamiin…semoga ya mba hihihi

    Reply
  3. Puteriamirillis

    ini kecelakaan emang cm di teteh yaaa…wih..dirimu emang pemfiksi jenis..*apa ya mikir2,,,pokokny yg berhub dg suara hati gitu deh, baca lelaki dlm cermin, terus baca ending first love versimu, semuanya begitu. “psiko” novelis. haha…kok namanya jadi begituh, yah pokoknya itulah,,,,qiqiqi…moga2 cepet sembuh ya teh…^^

    Orin : hahahaha…ada ternyata ya istilah psiko novelis πŸ˜› tengkyu eniwey ya Jeng hehe
    He-eh, dirimu jg jaga kesehatan yaa..

    Reply
    1. ~Amela~

      iya, teh orin sering bikin cerita yang sad ending..
      tapi keren kok teh,, gaya bertutur teteh emang juara

      Orin : Karena hidup tak selalu indah Mel *tsaaaah* hehehe

      Reply
  4. bintangtimur

    Nggak nyangka bakal baca cerita fiksi yang kalimatnya mengalir gini di blog Orin, sumpah deh…bagus banget!
    πŸ˜€

    Orin : Duh…terbang deh Orin Bu hihihi…Terima kasiiiih^^

    Reply
  5. bintangtimur

    Oriiiiin, satu lagi bakat terselubung yang baru saya tau.
    Selamat ikutan lomba ya, sukses!
    πŸ˜‰

    Reply
  6. bundadontworry

    Oriiiin…cepetan bikin buku kumpulan cerpen….
    pasti sukses ses ses deh….yakin …. πŸ™‚
    salam

    Orin : Aamiin ya robbal’alamiin. Terima kasih doanya Bundaaa *peluuuk*

    Reply
  7. Adi Nugroho

    huahhh mbak saingan berat nih. Hihihi

    Orin : Ga lah Di, ceritamu lebih keren πŸ˜‰

    Reply
  8. dey

    mendukung penuh orin menulis buku. … siap beli deh. …
    cakep2 tulisannya, suka tdk terduga endingnya. ..

    Orin : Huwaaa…ngapung Orin bu hihihi

    Reply
  9. Fahrie Sadah

    Menang jangan lupa syukuran ya.. ^^

    Orin : Mudah-mudahan menang ya mas πŸ˜€

    Reply
  10. kakaakin

    Waahhh… Keren endingnya, Rin…
    Aku suka yang ini… πŸ˜€
    Diksinya juga bagus-bagus. πŸ™‚

    Orin : Errr….Diksi itu pemilihan kata ya Ka? hihihi..
    Tengkyu apresiasinya Ka πŸ˜‰

    Reply
  11. catatan kecilku

    Bagus banget ceritanya… Sepertinya bakal segera terbit nih novelnya.
    Semoga tak lama lagi ya….? Amin.

    Orin : Aamiin…nanti baca novel saya ya mba Ren? *kepedeantingkattinggi* hihihih

    Reply
  12. the others...

    keren… keren…menang nih kayaknya nanti. πŸ™‚

    Orin : Makasih mba^^

    Reply
  13. giewahyudi

    Kisah yang menggugah perasaan, unik dengan sudut masing-masing tokohnya..

    Orin : he he…tengkyu mas Gie πŸ™‚

    Reply
  14. ysalma

    Ternyata disini bertemu ending yang lain lagi, seru.
    sukses ya Neng Orin di kontesnya.

    Orin : Iya Mak, endingnya beda2 ya he he.

    Reply
  15. mauna

    ceritanya seperti nyata. seperti bukan fiksi aja.bener loh…

    Orin : Oh? tidak terasa seperti fiksi ya Jeng? hihihihi

    Reply
  16. omman

    Hmm … benar2 penuh harapan ya …tEh oRin πŸ˜›
    moga2 menang yaa πŸ˜€

    Orin : Begitulah Om heheheh

    Reply
  17. Riez Bentosugali Viean

    nice story teh semoga menang

    Orin : Tengkyu Riez πŸ˜‰

    Reply
  18. Pingback: Detik-detik penutupan GA Suka-suka « Dunia Pagi

  19. Pakde Cholik

    Bisa dijadikan buku lho

    salam hangat dari Surabaya

    Orin : Aamiin..semoga bisa terealisasikan Pakdhe, matur nuwun doanya..

    Reply
  20. Mabruri Sirampog

    hiks..hiks…hiks…
    ada tisuu?? πŸ˜€ πŸ˜€

    Selalu diakhiri dengan senja yang begitu bernuansa bun…
    kereeenn..

    Ada peserta lain, yang ceritanya kecelakaan juga, tpi yg kecelakaan itu Denovanya, kalau yg ini Dimitrinya.. Ceritanya siapa yah,??, aaaah,, lupaa πŸ˜€

    smoga sukses bun

    Orin : Ada saputangan nih Mab, boleh dibawa pulang kok hihihihi…
    Makasih ya Mab, iya nih ga bs lepas dr senja :p

    Reply
  21. maminx

    izin komen dulu sebelum mulai kerja. tar aku balik lagi πŸ˜€

    Orin : Aaah…paling jg ga balik lg :p

    Reply
  22. sarip2hamid

    Weh…keren abiz…deh. fiksi yang menarik untuk di perhatikan. hahhhaa (mood pemerhati cerpen kali ye…. πŸ™‚

    Orin : heuheu…hatur nuhuuun

    Reply
  23. Lyliana Thia

    Oriiin… udah pantes nerbitin buku nih Rin πŸ˜€

    ide cerita emang bisa didapat dari mana saja ya Rin, mulai dari menjadi tempat curhat sampe naik metromini… ^_^

    Orin : hohoho….tengkyu mba Tia. Yuk kita naik metromini nyari ide #eh? hihihihi

    Reply
  24. itacasillas

    waaah,,ternyata teh Orin berbakat ya jadi penulis πŸ˜‰

    *telat banget y saya nyadarnya πŸ˜€

    Orin : Duh…duh…kemana aj dirimu neng? kangen berats..

    Reply
  25. Una

    Keren Mbak. Dibikin per orang gitu.
    Semoga menanggg πŸ™‚

    Orin : makasih Una πŸ˜‰

    Reply
  26. Evan

    Baru baca dan ternyata keren, bagus eum.. calon juara 1 nih πŸ˜€

    Orin : Wew, lebih keren cerita punyamu Van :p

    Reply
  27. omman80

    teh Orin, selamat ya – sbg pemenang bergengsi pada GA `Amela … πŸ˜›

    Orin : Duh..duh…ngga nyangka bgt nih Om *masih ga percaya*

    Reply
  28. Pingback: Pemenang Kategori 1 GA Suka-suka « Dunia Pagi

  29. Pingback: Weekly Photo Challenge : Breakfast « Rindrianie's Blog

  30. jiahaljafara

    merinding bacanya,,,
    selamat ya sudah menang…..
    Salam manis πŸ˜€

    Reply
  31. tuaffi

    Wahh.. ini yang menang yah.. Selamatt.. πŸ˜€

    Reply
  32. smzahra

    ceritanya sedih, mba Orin… πŸ™

    Orin : heuheuheu πŸ˜€

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: