Rindrianie's Blog

Episode Hari Ulang Tahun

“Selamat ulang tahun, Sayang.”

“Happy birthday for you too, Dear”

Bold dan Italic saling menatap, dan detik berikutnya terpingkal-pingkal hingga perut mereka sakit.

“Kenapa tadi kita tertawa ya?”

“Entahlah…aku pun sama tidak mengertinya denganmu ”

“Apakah hanya karena kita mengucapkan selamat ulang tahun pada diri kita sendiri?

“Atau moment hari ulang tahun seperti ini memang lucu dan layak untuk ditertawakan?”

“Bukankah semua orang yang terlahir ke dunia pasti memiliki hari lahir?”

“Ya, dan tak salah jika mereka merayakannya, atau sekedar mengingatnya mungkin?”

“Italic, apakah kita yang terlalu aneh?”

Italic terdiam, entah tidak setuju, entah tak mengerti.

“Anyway Bold, hari ini adalah hari lahir kita, mungkin itu yang terpenting.”

Bold ingin marah, kenapa Italic jadi mengalihkan pembicaraan seperti itu? Bukankah pertanyaannya belum terjawab? Tapi pernyataan Italic tadi memang menarik.

“Kenapa itu jadi penting untukmu Italic?”

“Karena itu tidak terjadi setiap hari Bold ! Itulah yang menjadikan setiap hari ulang tahun adalah istimewa.”

“Ah…setiap hari adalah istimewa Sayang, tak pernah ada hari yang terulang kembali. Iya kan?”

Italic terdiam, kali ini setuju. Pernyataan Bold benar adanya tanpa bisa dibantah sedikit pun.

“Lantas, menurutmu apa yang menjadikan hari ini tidak seperti biasanya wahai Bold?”

Bold terdiam, berpikir. Jawabannya haruslah pintar, sesuatu yang tidak mungkin terpikirkan oleh Italic.

“Hellooooo…anybody home? Kau perlu bantuan Sayang?”

“Kenapa sih tidak sabar? I am here!!”

“Ya…ya… aku memang harus bisa menunggumu, seperti biasanya, selamanya…”

“Kan tidak perlu sesinis itu Italic !”

“Sudahlah Bold, bilang saja kalau kau tidak sanggup menjawabnya.”

Italic kesal. Bold merah padam.

“Karena bertahun lalu, pada tanggal inilah kita terlahir di dunia.”

“Hhh….sangat klise Bold. Aku sungguh berharap jawabanmu bisa lebih baik daripada ini.”

Bold semakin geram, tapi dia pun tak punya amunisi lain untuk ‘melawan’ Italic.

“Italic, bisakah kita tidak bertengkar? Rasanya kita sudah terlalu dewasa untuk selalu berbantah seperti ini saat tak sependapat.”

Italic tertunduk, malu.

“Kau benar Bold, maafkan aku.” “

Kau tak sepenuhnya salah Italic, maafkan aku juga.”

Mereka tersenyum, dan bersiap untuk berdiskusi dengan damai.

“Well,so? Apa yang perlu kita maknai kali ini Bold?”

“Hari ini kita tepat berusia 28 tahun Italic! Itu yang harus kita coba temukan maknanya.”

“Selain fakta bahwa kita bertambah tua?”

“Ya. Selain fakta bahwa ‘jatah’ hidup kita disini semakin berkurang.”

“Kenapa hal itu jadi menakutkanku Bold?”

“Apa yang kau takutkan? Kematian?”

“Ya. Aku tahu kita akan mengalaminya. Tapi siapkah kita?”

“Aku tak bisa menjawabnya Italic. Dan aku pikir kita tidak perlu mencari jawabnya. BELIAU sudah menetapkannya bahkan sebelum kita terlahir.”

“Kau betul Bold, siap ataupun tidak, jika tiba saatnya, tak ada yang mampu menghalangi.”

Mereka kembali terdiam, terpekur atas tema yang tak sengaja mencuat. Kematian !!

“Mungkin itulah salah satu maknanya Italic, agar kita tak terlena atas hidup yang hanya sekejap.”

“Dan segera menyiapkan diri menyambut kematian –menuju kehidupan abadi sesungguhnya-, karena waktu sedang berdetak mundur, tanpa kita berwenang tahu, kapan detik itu terhenti.”

“Sekarang aku yang merasa takut. Apa yang sudah kita siapkan??”

“Entahlah Bold, rasanya tak akan pernah cukup.”

Kembali, mereka terdiam.

“Tapi, banyak yang mendoakan kita di hari ulang tahun kita ini Italic.”

“Tentu saja, tak hanya keluarga dan sahabat dekat, teman yang hanya sepintas kenal pun telah berdoa untuk kita Bold.”

“Itu artinya kita sedang menjalani hidup yang baik !!”

Tepat sekali, kita menyayangi sesama, sehingga mereka pun menyayangi kita !!”

“Wow…Subhanallah…”

Bold dan Italic memekik bersama dalam bahagia. Gembira… damai… bersyukur…

“Tapi Italic, seandainya hari ini adalah tanggal 12 Oktober terakhir yang bisa kita lalui, apa yang harus kita lakukan?”

“Bold, kenapa harus berandai-andai seperti itu?”

“Kenapa tidak?”

“Bukankah kita telah sepakat bahwa kita tak bisa tahu kapan kita akan kembali?”

“Aku tidak sedang membahas kematian kok.”

“Lantas?”

“Aku sedang berpikir bahwa detik ini tak akan pernah kembali pada kita. 12 Oktober 2009 tinggal beberapa menit lagi Italic !”

“Dan besok akan membuat hari ini masa lalu bagi kita.”

“Itulah… Harus ada sesuatu untuk mengenangnya.”

“Kita hanya bisa menulis Bold…”

“Ya sudah, kita menulis saja yuks..”

“Apakah itu cukup??”

“Lebih dari cukup daripada tak ada yang kita lakukan.”

“Baiklah. Tapi Bold, kita tak boleh melupakan sesuatu.”

“Sebelum menulis maksudmu?”

“Ya, sebelum menulis.”

“Apa itu?”

“Berdoa Bold !! Berdoa pada Beliau Sang Maha Segala.”

“Ah, tentu saja. Bersyukur atas semua nikmat.”

“Bertaubat untuk semua khilaf”

“Memohon kekuatan hati untuk selalu memperbaiki diri.”

“Meminta ketetapan iman agar selalu berani.”

“Dan apakah kita bisa sesuci jiwa yang pernah Beliau tiupkan ke dalam raga ini dulu saat kembali nanti?”

“Semoga… Tak ada yang tidak BELIAU berikan jika kita meminta, bukan?”

“Kita saling menguatkan ya Italic?”

“Ya Bold,kita juga harus selalu mengingatkan.”

“Semoga kita dianugerahi umur yang berkah ya.”

“Amin ya robbal’alamin. Semoga kita selalu disayangi oleh BELIAU Yang Maha Menyayangi ya.”

“Amin Allohumma Amin.”

“Happy birthday Bold. Be happy yaa..”

“Happy birthday juga Italic. Let’s be happy.”

Bold dan Italic tersenyum, bahagia. Mereka telah memutuskan, mulai hari ini dan selanjutnya, mereka ingin hidup bahagia. Selalu bergembira dengan rasa damai dalam penuh kesyukuran. Detik berdetak mundur, waktu bergulir pelan tetapi pasti. Ya Robb, bimbing, lindungi, dan sayangi mereka…

 

Rawamangun, 12 Oktober 2009

Leave a Reply

%d bloggers like this: