Rindrianie's Blog

Episode Pencarian Jati Diri

“Apa yang kau tahu tentang dirimu?”

“Aku?”

“Iyaaa… ga usah banyak gaya deh. Ayo cepat jawab !”

“Hmmm… Aku pikir aku cukup cantik.”

“Hahahaha….”

Bold terpingkal terbahak.

“Apa? Kau bilang kau cukup cantik? Apa yang membuat kau bisa berfikir kau orang yang cukup cantik, ha?”

Italic terdiam, sedikit tersinggung karena Bold sudah menertawakannya.

“Apa maksudmu? Tentu saja aku cantik, banyak yang bilang kalau aku memang cantik.”

“Hhh…, rupanya kau sudah gila!”

“Gila? Jelaskan kenapa ‘aku sudah gila’!”

“Begini, hanya karena kau seorang wanita, jangan menganggap kalau kau sudah pasti cantik.

Italic hanya terdiam menunggu Bold meneruskan ocehannya.

“Tidakkah kau bercermin? Wajahmu penuh dengan jerawat-jerawat yang bisa membuat orang-orang enggan bertatapan denganmu lama-lama. Lantas, lihat tubuhmu!! Jangan berpikir cantik jika kau memiliki tubuh yang gendut dan sama sekali tidak tinggi itu.”

“Wah… ternyata pikiranmu terlalu sempit.”

Kini giliran Bold yang terdiam, merasa tersinggung.

“Kau sangat Phisick Oriented. Kau pikir kecantikan hanyalah wajah yang cantik dan tubuh yang indah? Aku ragu kau pernah mendengar tentang Inner Beauty.”

“Kalau kau merasa lebih tahu, jangan banyak cincong, jelaskan saja padaku!”

“Secara pisik mungkin aku jauh dari sempurna, tapi aku rasa, aku memiliki kecantikan hati yang mungkin tak bisa kau lihat dari luar.”

“Apa itu?”

“Aku bukan orang yang sombong.”

“Dengan berkata seperti itu pun kau sudah menjadi orang yang sombong!”

“Aku suka menolong orang lain yang memerlukan bantuan.

“Aku sangsi kau tidak menginginkan balasan dari setiap tindakanmu itu.”

“Aku cukup ramah, selalu tersenyum pada semua orang”

“Ahh..Hanya untuk mengharapkan pujian saja.”

“Aku selalu berkata jujur.”

“Karena kau tidak ingin orang lain membohongimu.”

Apa maksudmu Bold? Kenapa kau selalu membantah apa yg aku katakan?”

“Apa maksudmu? Hh, tak adakah kalimat tanya yang lain? Sudah dua kali kau mengucapkannya.”

Italic hanya diam, merasa sangat marah sehingga tak dapat berkata-kata.

“Kau sama sekali tidak cantik, sayang. Secara lahir maupun batin. Pikirkanlah kata yang lain.”

“Baiklah, aku mungkin belum bisa menjadi cantik seutuhnya, tapi setidaknya aku sudah mencoba untuk menjadi seperti itu. Dan kau salah sama sekali tentang ketidaktulusan itu sayang!”

“Benarkah?”

“Ya…maksudku, mungkin benar ada sebagian kecil dari tindakanku menginginkan balasan, tapi 99% yang aku lakukan adalah tindakan yang tulus, ikhlas, dan kau harus tahu itu.”

“Baiklah, aku pikir juga kau tidak salah, aku yakin semua yang terlahir ke dunia pada awalnya adalah baik, tidak terkecuali dirimu. Lantas apa kata lain yang bisa menggambarkan tentang dirimu? Sudahkah kau pikirkan?”

“Entahlah…, aku ragu.”

“Katakan saja!”

“Mmm… Aku rasa aku pintar?”

“Oh…please… jangan hanya karena IP-mu selalu diatas rata-rata lantas kau begitu saja dengan PDnya mengklaim bahwa kau pintar.”

Lagi, Bold menyatakan ketidaksetujuan.

“Itulah kenapa aku merasa ragu. Aku tahu kepintaran tidak bisa diukur dari nilai akademik semata. “

“Hmm…”

“Tapi aku merasa aku bisa dengan segera mengatasi keadaan, bukankah dengan begitu aku pintar beradaptasi?”

Bold hanya terdiam seolah acuh tak acuh.

“Aku juga bisa memahami dan menjaga perasaan orang lain. Sehingga tidak seenaknya bicara atau bertindak. Tidakkah aku pintar?”

“Ya, kau pun pintar berbohong, menipu dengan mulut manismu hanya demi kepentinganmu sendiri. Kau gunakan kepintaranmu hanya untuk membodohi orang lain.”

“Cukup!!! Kau sama sekali tidak berhak mengatakan itu padaku, lupakah kau kalau aku adalah kau sendiri? Lantas apa yang kau pikirkan –dengan otak jeniusmu itu- tentang kau sendiri, ha?”

“Kau jangan berpikir untuk mencoba melawanku, Sayang.”

“Ha, rupanya kau pengecut yang tidak punya nyali. Yang hanya banyak bicara tanpa ada bukti yang jelas, ternyata kau sudah terkontaminasi para pemimpin di negeri amburadul ini.”

“Aha… aku tahu, aku tahu bagaimana diriku.”

“Oh ya?? Terangkan padaku!”

“Aku memiliki jiwa kepemimpinan yang besar.”

“Bullshit!”

“Tentu saja, aku bisa memimpin dengan baik, kenapa kau tidak percaya, aku bisa menjadi pemimpin yang hebat.”

“Really?? Dan kau tahu akibat ‘sindrom kepemimpinan’ yang menjadikanmu besar kepala itu? “

“Apa?”

“Kau menjadi seorang diktator yang sangat otoriter. Kau menjadi pribadi egois, selalu merasa dirimu-lah yang paling benar, semua keinginanmu harus selalu terpenuhi. Bahkan kau seperti raja lalim yang menyuruh-nyuruh seenak perut orang-orang disekelilingmu. Kau menjadi orang yang sangat tidak penyabar. Kau perfeksionis yang gila, yang tidak menginginkan adanya setitik noda, walau kau sudah tahu persis kalau kita sendiri terlahir karena sebuah dosa, dan pasti akan mati dengan berjuta bahkan bertrilyun dosa. Mungkin kau seorang pemimpin, tapi pemimpin yang tirani.”

“Aku tidak merasa seperti itu. Dimana letak kediktatoranku itu? Kapan keegoisanku itu muncul, ha?”

“Tentu saja kau tidak merasa begitu, bodoh. Apa kau pernah melihat seorang koruptor menunjukkan berkarung-karung uangnya disimpan? Atau seorang pembunuh yang mengaku kapan dia menghabisi korbannya?”

Bold hanya terdiam.

“Dan satu lagi, apakah kau pernah berpikir, sedikit saja, sudahkah kau menjadi pemimpin yang baik bagi dirimu sendiri?“

“Tapi kau sama sekali tidak berhak menghakimi aku, bukankah aku adalah kau, dan kau adalah aku?”

“Ya, memang, kau benar. Maafkan aku kalau begitu. Tapi kaulah yang memulai pertengkaran konyol ini.”

“Konyol katamu? Tidakkah kau ingin mengetahui siapa diri kita sebenarnya? Seperti apa dan bagaimana aku dan kau sesungguhnya, ha?”

“Lantas apakah kita sudah menemukan jawabannya?”

Bold terdiam, Italic pun terdiam kemudian. Marah, lelah, dan bingung. Mereka tak ingin ada pertengkaran lagi.

“Kau tahu, kau tidak berhak menghakimi aku, begitupun aku tidak bisa menilai dirimu.”

“Ya, karena terdakwa dan hakim harus selalu duduk di dua kursi yang berbeda.”

“Benar. Lantas siapakah yang berhak mengadili kita?”

“Mereka.”

“Mereka? Mereka siapa?”

“Orang-orang disekeliling kita, orang-orang yang mengenal kita.”

“Maksudmu siapa? Orang tua? Saudara? Teman? Siapa?”

“Mereka semua, sahabat, kekasih, bahkan rival dan musuh kita.”

“Apa kau yakin mereka bisa menghakimi kita dengan adil?”

“Entahlah…”

“Bukankah seorang sahabat hanya akan menilai sisi positif dari diri kita?”

“Kau benar, dan seorang rival akan selalu mengingat kesalahan terkecil kita.”

“Mungkin jika mereka bisa jujur pada diri mereka sendiri. Tanpa ada doktrin apa pun, tanpa intervensi dari manapun.”

“Ya, hanya jika mereka jujur. Hanya jika mereka bisa melihat tidak hanya dengan mata tetapi dengan hati. Bisa menyibak baju yang menyelimuti, bisa menghancurkan topeng yang terpasang.”

“Bisakah kita berharap banyak dari mereka?”

“Aku harap begitu.”

“Tapi apakah mereka mengenal kita dengan cukup baik?”

“Mungkin ya, mungkin tidak. Kita berdua tidak akan tahu. Karena bahkan kita sendiri tidak mengenal diri kita sendiri.”

“Ya, hanya mereka sendiri yang tahu seberapa banyak mereka mengenal kita.”

“Kapan akan kita mulai?”

“Sekarang?”

“Ya, secepatnya.”

Mereka terdiam. Harapan membuncah. Akankah impian mereka terjawab?

Selesai.

Jatinangor, 12 Juli ‘03

2 Comments

  1. Indri Indraswari

    Ayo Bold an Italic..berdamai ya…lapangkan telaga hati 😉

    Reply
  2. vazdriz

    Cerita gambaran yang sangat bagus, Dan terdapat hikmah dari semuanya. Terima kasih mbak Indri atas postingannya.

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: