Rindrianie's Blog

Episode ‘Wish’

Bold dan italic kadang tak mengerti, kenapa mereka kerap kali berbeda pendapat, tak sejalan dalam berpikir, bahkan sering sekali bertengkar hebat.

Seperti juga kali ini.

“Sebenarnya apa sih yang kau inginkan?”

“Kenapa kau tanya aku? Tanya saja dirimu sendiri.”

“Hei… jawab pertanyaanku dengan jawaban, bukan dengan pertanyaan lagi !”

“Ngga perlu sewot gitu dong. Karena seharusnya kau tidak perlu mempertanyakannya kalau kau sudah punya jawabannya. Iya kan?”

Bold terdiam, ingin mengiyakan namun terlalu malu untuk mengakui. Dan akhirnya mulai melunak.

“Aku cuma betul-betul ingin tahu, apa yang sebenarnya kau inginkan?”

“Ralat!! ‘KITA’ inginkan, bukan hanya aku.”

“Ya, oke lah terserah kau saja. Tak perlu diributkan.”

“Tak perlu diributkan gimana? Jelas-jelas itu dua kata berbeda yang sama sekali tak sama maknanya.

“Kenapa sekarang kau yang marah-marah sih? Maksudku tadi aku cuma salah ngomong aja, tidak tepat memilih kata. Jadi tidak perlu diributkan, bisa kan??”

Italic tak berkomentar, dan terkadang diam berarti ‘Ya’.

“Kau tidak ingin tahu apa keinginan terdalam kita?”

“Aku hanya sedang berpikir. Itu saja.” Italic berdalih.

“Apa yang kau pikirkan? Tentang keinginan kita?”

“Tentu. Itu yang sedang kita diskusikan bukan?”

Bold diam. Sedikit bete.

“Aku pikir kita tidak bisa tahu dengan pasti apa keinginan terdalam kita.”

“Kau tahu kenapa?”

“Kenapa kau tak membantu aku berpikir?”

“Kenapa kau begitu sinis padaku?”

“Ayolah…. Jika kita bertengkar terus, kita hanya akan membuang waktu percuma tanpa ada hasil apapun yang kita dapat. Kau setuju kan?”

“Kau benar, maafkan aku.”

“Tidak, maafkan aku. Aku memang sinis.”

“Sudahlah. Kita sama-sama bersalah, sama-sama mengakui kesalahan. Dan saling memaafkan. Tak perlu berlarut-larut.”

“Oke. Kembali ke pertanyaan tadi. Sebenarnya apa keinginan terdalam kita?”

“Yang jelas bukan uang, kekayaan, atau materi lain yang sejenis.”

“Setuju. Itu hanyalah titipan Beliau pada kita.”

“Karena akan selalu ada keinginan berikutnya ketika hasrat sebelumnya terpenuhi.”

“Dan keinginan-keinginan terhadap benda tidak akan pernah habis, hilang, atau terpuaskan selamanya.”

“Dan kita tak perlu menjadi budak setan dengan menjadikan itu sebagai keinginan terdalam kita”

“Bagaimana dengan ‘kesuksesan’?

“Dalam hal apa? Pendidikan? Karir? Kehidupan?”

“Bagaimana kalau semuanya? Apakah itu tidak akan pernah mungkin?

“Hmmm… pertanyaan yang sulit. Bukankah seluruh hidup kita adalah proses pembelajaran tanpa henti?”

“Ya. Dan kita baru pensiun ketika kita mati.”

“Itu juga termasuk atribut keduniawian yang berbeda jenis.”

“Dengan demikian itupun tak bisa kita jadikan sebagai keinginan terdalam kita.”

“Lantas apa sebetulnya keinginan terbesar kita?”

“Cinta mungkin?”

“Cinta???”

“Ya, mencintai dan dicintai. Bukankah aneh jika seseorang tidak menginginkannya?”

“hmmm….”

“Tidakkah cinta penting bagimu, Italic.”

“Ya, tentu saja. Sangat penting bahkan. Bukankah kita sendiri adalah sebuah manifestasi dari cinta?”

“Lantas?”

“Entahlah Bold, aku hanya sedang berpikir bahwa cinta adalah sesuatu yang kita ‘perlu’kan, bukan yang kita ‘ingin’kan.”

“Hmm…”

Kali ini Bold yang termenung. Sependapat dengan Italic.

“So…?”

“So, I don’t know either, Bold.”

“Mungkin kita tidak perlu mencari tahu apa keinginan terdalam kita Italic.”

“Maksudmu kita menyerah saja?”

“Aku tidak suka istilah itu, tapi entah kata macam apa yang bisa mewakili…”

“Pemilihan kata tidak lah lebih penting daripada esensi yang kau maksudkan, Bold.”

“Maksudku, ketika kita berupaya sekeras mungkin demi sesuatu, mungkin -hanya mungkin lho ya- secara tidak langsung itulah keinginan terbesar kita. Bagaimana menurutmu?”

“Betul juga ya. Ingat tidak dulu saat kita masih jadi pengangguran? Bukankah pada saat itu semua upaya kita mengirimkan beribu surat lamaran, beratus interview dan sebagainya itu, demi keinginan terbesar kita untuk memiliki sebuah perkerjaan?”

“Exactly ! Dan karena itu adalah manusia yang memang diberi keistimewaan untuk tidak pernah puas, maka  keinginan terbesar kita tidak akan pernah selesai.”

“Ya, dan memang akan selalu ada keinginan berikutnya setelah keinginan sebelumnya telah mampu kita capai. Begitu seterusnya…”

“Karena manusia tidak akan pernah puas.”

“Yang penting selalu bersyukur.”

“Dan kesyukuran selalu membuat kita bahagia.”

“Exactly!”

“So, apa keinginan terdalammu Italic?”

“Semua hal sekaligus tak menginginkan apapun. Mungkinkah ?”

“Mungkin memang tidak perlu dipertanyakan..”

“Hahaha… Tapi, terkadang tak semua pertanyaan harus memiliki jawab.”

“Yang penting kita bahagia karena penuh syukur.”

“Dan bersyukur telah diberi kebahagian”

Bold setuju, Italic sepakat. Pertengkaran mereka hari itu selesai dengan damai.

*Photo note :

Yeah, another narsis pic he he

Berlokasi di Kawah putih, Bandung. Setelah malam sebelumnya nekat menginap beralasakan tikar dan tanpa selimut 😀



Leave a Reply

%d bloggers like this: