Rindrianie's Blog

#FFKamis – Gerimis Terakhir

“Wah, gerimis!” ujar Si Anak Kecil terkesima.

Si Pak tua hanya mendengus. Kota ini hampir selalu kemarau. Setiap hari, sepanjang tahun, seolah selamanya. Gerimis kecil semacam ini hanya akan segera menguap dengan cepat, seperti selalu.

“Pak, kemarilah. Gerimis sepertinya akan menjelma hujan,” seru Si Anak Kecil lebih lantang, menari riang di bawah rinai yang semakin merintik.

Pak Tua hanya mencibir sambil berkata sinis, “Gerimis di kota ini tak akan pernah menjadi hujan, kecuali kalau aku sudah mati.”

“Paaaak, hujan, Pak,” seru Si Anak Kecil gembira, menari di bawah hujan untuk pertama kali dalam hidupnya. Sayangnya, Si Pak Tua terlanjur mati.

8 Comments

  1. jampang

    si bapak pawang hujan?

    Reply
  2. junioranger

    Beneran mati. Apa sebab?

    Reply
  3. jiah al jafara

    Kenapa mati?

    Reply
  4. Siti Lutfiyah Azizah

    Kok saya mikirnya jadi berasa thriller ya. Si Pak Tua ‘ditumbalkan’ biar beneran ada hujan ??

    Reply
  5. Agung Rangga

    wah, pak tua-nya jadi tumbal hujan… 😐

    Reply
  6. aromamora

    Wah, pak tuanya pasti ‘pamer’ ke arwah2 lain kaya gini “tuh kaaan aku mati baru hujan, KZL! ?????

    Reply
  7. Desi

    iih aku suka kata2 “merintik” dan “seperti selalu” nya deh mak 😉

    Reply
  8. adelinatampubolon

    Yaaa kenapa mati?

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: